
perlahan dwi membuka pintu, lalu masuk kedalam kamar azka. azka tampak sudah memejamkan kedua matanya. dwi perlahan mendekatinya lalu duduk di tepi ranjang dan mengamati wajahnya. dwi tersenyum, saat dia membayangkan apa yang terjadi di kantor azka tadi siang.
"ternyata kamu romantis juga." gumam dwi pada azka, namun seketika senyumnya memudar ketika dia melihat azka membuka mata dan menatapnya. "azka." tutur dwi dia pun segera bangkit dari duduknya.
azka tersenyum. dia pun beranjak dari tempat tidur lalu memeluknya dari arah belakang dan menyanggakan dagunya di leher dwi.
dwi terdiam dan terpaku melihat sikap azka yang lagi-lagi membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
"jangan kebanyakan nonton film dewasa, kamu tidak akan kuat untuk melihatnya." bisik azka di telinganya.
"enak saja!" bentak dwi seraya melepaskan pelukan azka. "aku kuat kok." jawabnya dengan polos.
"ya sudah, mari kita lakukan." azka mendekap tubuhnya.
"tunggu!" pinta dwi.
"apa?" ucap azka pelan.
dwi merasakan hembusan nafas azka yang terasa begitu hangat, di suasana malam yang begitu dingin.
"maksud aku bukan itu." ucap dwi.
"lalu?"
"bagai mana kalau sementara kita tidur sekamar dulu sampai ica pulang?" tanya dwi.
"memang itu yang selama ini aku inginkan." ucap azka.
"apa?" dwi sedikit terkejut.
"sebenarnya aku tipe laki-laki yang jarang mengutarakan perasaan. tapi untuk kedua kalinya aku akan mengatakan kalau aku telah jatuh cinta kepadamu." ujar azka.
"tidak, kamu salah. kamu sudah tiga kali mengucapkan nya." ucap dwi.
"benarkah? sepertinya aku lupa." ucap azka terkekeh. "jadi bagai mana?" lanjutnya.
"gimana apanya?" tanya dwi.
"aku belum mendengar ucapan kalau kamu juga mencintaiku." ujar azka.
"dasar bodoh!" umpatnya. "kenapa kamu tidak bisa merasakan perasaanku terhadapmu, aku juga mencintaimu, aku cemburu saat melihat wanita lain dekat-dekat denganmu, apa lagi saat aku memergokimu beberapa kali sedang berduaan bersama viona, apa kamu pikir aku tidak sakit hati dan cemburu." ucap dwi dengan kecepatan skala richter.
"apa kamu sudah selesai bicara?" tanya azka lalu kembali tersenyum.
"tidak, senyuman azka bisa membuat hatiku meleleh." batin dwi seraya memejamkan kedua bola matanya menghindari tatapan azka yang begitu memabukan.
"sekarang giliran aku yang bicara." ucap azka seraya memainkan ujung rambut dwi dan memutarnya. "aku tidak perduli seperti apa kehidupanmu di masa lalu. karena yang jelas, saat ini kamu sudah menjadi milikku." ucap azka.
"tunggu!" ucap dwi yang sedikit mendorong tubuh azka agar menjauhinya. "jujur aku merasa tersinggung, kenapa kamu masih berpikiran buruk tentangku." lanjutnya.
"apa kamu masih ingat? dulu saat kamu pergi ke club, siapa yang telah membawamu ke hotel saat kamu sedang mabuk dan tak sadarkan diri?" tanya azka.
"kok kamu bisa tahu kalau aku memang pernah mabuk di club, dan di bawa seseorang ke hotel?" dwi malah balik bertanya.
__ADS_1
"karena aku, adalah orang itu." ujar azka.
"apa? jadi kamu yang telah membawaku ke hotel waktu itu? dasar laki-laki brengsek, apa yang kamu lakukan kepadaku." dwi memukuli dada bidang azka.
"aku memang membawamu ke hotel, tapi aku tidak melakukan apa-apa." ujar azka.
"sungguh?" tanya dwi.
"ya. apa sedikitpun kamu tidak mengingatnya?"
dwi menggelengkan kepalanya.
"apa kamu sering mabuk seperti itu?" tanya azka.
"tidak! itu yang pertama kalinya, dan akan menjadi yang terakhir kalinya." ucap dwi.
azka tersenyum menyeringai. samar-samar dia mengingat kembali akan tingkah konyol yang sering dilakukan dwi saat berada di toilet club.
"kenapa reaksimu seperti itu? jangan mikir yang enggak-enggak, atau aku tidak akan memaafkanmu." ucap dwi.
"aku heran sama kamu, kalau kamu memang tidak kuat untuk meminum minuman keras, kenapa kamu sok-sok-an meminumnya?" tanya azka.
"sindi bilang, kalau aku harus minum alkohol biar terlihat keren." ucapnya dengan polos.
"terus, apa kamu sudah merasa keren saat kamu sudah meminumnya?"
"tentu saja tidak. aku malah merasa aku hampir saja kehilangan keperawananku."
"kamu sendiri, apa yang sering kamu lakukan di club?" tanya dwi.
"tidak ada."
"tidak ada? bukankah biasanya semua laki-laki yang datang kesana untuk mencari kepuasan ya?" tanya dwi dengan polos.
"tidak semua laki-laki harus kamu sama ratakan sikap dan kepribadiannya. karena setiap orang pasti berbeda-beda." jelas azka.
"lalu, kenapa kamu sendiri menuduhku perempuan gak bener?"
"aku minta maaf. itu karena aku melihatmu beberapa kali bersama seorang pria."
"apa-apa? coba katakan sekali lagi, aku kurang jelas mendengarnya?" ucap dwi seraya melebarkan dan mendekatkan daun telinganya kepada azka.
azka sedikit tercengang melihatnya. dia pun mengulangi ucapannya sesuai kemauan dwi. "aku melihatmu beberapa kali bersama pria." ucap azka.
"bukan yang itu." ujar dwi.
azka pun mendekati telinga dwi. "aku minta maaf." ucapnya kemudian mencium leher jenjang dwi. seketika dwi langsung memejamkan mata dan menikmati belaiannya.
azka pun merebahkannya di ranjang lalu menindih tubuh dwi dan terus mencumbunya. dan tak lama kemudian dia pun menancapkan pedangnya.
***
kring kring... pagi-pagi sekali handphone azka sudah berdering dan membuat dwi terbangun hingga akhirnya dia meraih ponsel itu.
__ADS_1
"hallo siapa nih? masih pagi buta sudah nelpon." tanya dwi tanpa menoleh nama si pemanggil.
"kenapa kamu yang angkat telpon azka?" ucap seseorang dari panggilan telepon.
dwi merasa familiar dengan suara itu, dia pun menoleh nama si pemanggil. "ternyata kamu. ada apa?" tanya dwi bernada sinis.
"aku mau bicara sama azka, bukan sama kamu." ucap viona yang tidak kalah sinis.
"azka lagi di kamar mandi." ucap dwi.
tut. seketika panggilannya langsung terputus.
"sialan! gak sopan banget ini orang, main tutup-tutup aja telponnya." gerutu dwi.
"telpon dari siapa?" tanya azka yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melingkar di tubuhnya.
"dari si pelakor." ucap dwi.
"pelakor?" tanya azka.
"ya. pelakor yang tiap hari datang ke kantor kamu." ujar dwi.
"viona maksud kamu?"
"menurutmu siapa lagi."
"terus dia bilang apa?" tanyanya.
"gak bilang apa-apa. tadi dia cuma nanyain kamu."
"hmm." gumam azka.
"ya udah, sini handphone nya?" pinta azka namun dwi enggan memberikannya.
"hari ini aku ikut ke kantor ya?"
"mau apa?" tanya azka sedikit heran.
"cuma mau mastiin saja, kalau hari ini viona gak nyamperin kamu."
"terus bagai mana dengan ica?"
"kita bisa membawanya." ucap dwi.
"kasihan kalau kita bawa ica ke kantor, dia pasti akan merasa bosan. lebih baik kamu diam di rumah saja jagain ica. kalau dia merasa bosan, kamu ajak dia main keluar." ucap azka.
"aku minta sebaiknya kamu sedikit tegas sama viona, biar dia gak deketin kamu terus."
"apa kamu cemburu?" tanya azka.
"yailah, pake di tanya lagi." desis dwi seraya membuang muka.
azka tersenyum lalu memeluknya. "aku berangkat kerja dulu ya." ucapnya seraya mencium kening dwi.
__ADS_1