Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
demam


__ADS_3

azka membungkukkan tubuhnya lalu memegangi kedua pundak gadis kecil yang ada di hadapannya seraya menatapnya dengan dalam. "apa kamu ingin naik kora-kora bersama kakak?" tanyanya.


"tentu saja! kemarin malam ica main sama kak riko, dan kak riko itu orang yang baik, dia mau mengikuti semua kemauan ica. tapi..." tiba-tiba ica menundukkan kepalanya dan menggantung ucapannya.


"tapi apa?" tanya azka seraya mengusap pucuk kepalanya.


"malam ini kak dwi tidak mengijinkan ica untuk pergi bersamanya, padahal tadi kak riko sudah datang ke rumah untuk menjemput ica." jelas ica.


azka kembali menegakkan posisi tubuhnya lalu menatap dwi yang juga lagi menatapnya. kali ini giliran dwi yang membungkukkan tubuhnya menatap kearah adiknya.


"ca, sebaiknya kita pulang saja. kamu lihat, sepertinya kak azka terlihat letih, kasihan dia." ujar dwi.


"tidak apa-apa! kurasa tidak ada salahnya jika aku mencoba beberapa wahana permainan bersama ica. bukan begitu ca?" tanya azka seraya menoleh dan tersenyum kepadanya.


"yee..." seru ica yang tampak sangat antusias.


"let's go..." sambung azka seraya menuntun pergelangan tangan ica. dwi tidak ikut menaiki wahana, karena dia gampang merasa mual dan pusing.


tidak terasa sudah dua jam lamanya mereka bermain-main dan bersenang-senang di tempat itu. hingga saat ica sudah merasa puas, dia pun mengajak kakaknya untuk segera pulang.


saat sudah sampai parkiran, dwi menoleh kebelakang yang ternyata ica sudah ketiduran dan tampak pulas. saat dwi berniat membangunkannya, azka melarangnya dan menggendong ica menuju apartemen dan segera membaringkan tubuh mungilnya di kamar.


"aku ingin membersihkan badan. apa kamu bisa membantuku untuk menyiapkan air hangat?" tanya azka seraya membuka kancing kemeja pergelangan tangannya.


"tentu saja." ucap dwi seraya berjalan menuju kamar mandi.


setelah selesai membersihkan badan, azka membaringkan tubuhnya disamping dwi. dwi memutar balik badannya lalu memeluk tubuh azka dan menyandarkan kepalanya di dada bidang azka yang tampak terbuka.


"terima kasih. karena malam ini kamu sudah membuat ica sangat senang." ucap dwi yang sekilas mengecup bibir azka.


"terima kasih juga, karena kamu sudah menepati janjimu untuk menjauhi riko." ucap azka menatap lekat wajah cantik istrinya.


dwi tersenyum sembari terus menatap laki-laki yang dulu sangat dia benci, namun sekarang laki-laki itu telah berhasil meluluhkan hatinya.


perlahan azka mendekatkan wajahnya kepada dwi lalu mencium ranum bibirnya dengan sangat lembut. tangannya mulai aktif naik keatas dan berhenti tepat melingkupi daun telinga dwi dan mengelusnya. kali ini tangan dwi mulai nakal meraba-raba dada bidang azka dan melepas semua kancing bajunya.


perlahan tangan azka turun kebawah dan berhenti tepat di gunung kembarnya, lalu kemudian mere*masnya secara bergantian. tangan dwi semakin nakal turun kebawah, menyelusup masuk kedalam celana dan berhenti tepat di area senjata milik suaminya lalu kemudian mengelusnya.

__ADS_1


azka memejamkan matanya, menerima perlakuan nakal yang dilakukan oleh istrinya. dia tidak menyangka kalau dwi akan bersikap seagresif itu. namun tidak bisa di pungkiri kalau azka juga memang menginginkannya.


azka mulai menggila, dia memutar posisi tubuhnya lalu menindih tubuh dwi lalu kemudian mencium dan melumati pu*ting payu*daranya dengan rakusnya. tangannya pun mulai turun, dan menyelusup masuk kedalam area inti dwi dan memainkan jari tangannya dengan gerakan maju mundur. dia merasakan kalau area inti dwi yang kini sudah mulai basah. dia pun segera menancapkan senjatanya ke area lubang kenikmatan milik istrinya itu.


***


keesokannya.


perlahan dwi membuka mata, dia merasakan suhu badan azka yang begitu panas karena tubuhnya yang menempel di pelukan dia. dwi segera bangkit dan duduk. dia pun meraba kening azka. "badannya panas sekali." gumam dwi seraya meraba-raba area kening dan lehernya. perlahan azka membuka mata lalu menggenggam tangan dwi.


"kamu sakit, sebaiknya kita pergi ke dokter." ucap dwi.


"aku tidak mau." tolak azka. "sini, sebaiknya kamu tidur dan temani aku, biar aku bisa cepat sembuh." ucap azka menarik tangan dwi lalu mendekap tubuhnya.


"hari ini aku akan mengantar ica pulang, karena besok dia sudah mulai sekolah." ujar dwi.


"aku akan mengantar kalian." ucap azka, lalu memeluk erat dwi dalam dekapannya.


"azka, kamu lagi sakit. sebaiknya kamu beristirahat saja di rumah. nanti aku akan menghubungi dokter agar segera bisa memeriksa keadaanmu."


"dasar keras kepala!" umpat dwi. namun azka malah tersenyum kepadanya. perlahan dwi melempas pelukan suaminya.


"mau kemana?" tanya azka.


"aku ingin melihat ica. apa dia sudah bangun." jawab dwi. dia pun beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar ica.


"ica sudah bangun." ucap dwi seraya menatap ica yang sedang mengucek kedua matanya.


"sudah kak." ucap ica sambil menguap.


"kalau gitu, sekarang kamu mandi, lalu beresin barang-barang kamu. karena besok kamu sudah masuk sekolah."


"ica gak mau sekolah. ica masih betah disini." ujar ica.


"jangan gitu ca. ica harus sekolah, biar jadi anak yang pintar." ucap dwi. setelah ica beranjak dari tempat tidurnya, dwi kembali ke kamarnya.


"aku sudah order makanan, untuk kita sarapan. apa makanannya belum datang?" tanya azka.

__ADS_1


"belum." jawab dwi. "apa kamu sudah lapar? kalau kamu mau aku bisa memasak untukmu." tanya dwi.


"tidak usah!" dengan cepat azka menjawab.


"aku tahu, aku memang tidak ahli dalam memasak." lirihnya yang seakan tahu diri.


"apa kamu ingin kursus memasak?" tanya azka.


"tentu saja!"


"kalau begitu besok aku akan mendaftarkanmu." ucap azka.


***


bu patma menyambut dengan gembira kedatangan anak dan menantunya. tidak tanggung-tanggung, dia memasak begitu banyak lauk-pauk di meja makan. pak mukti tersenyum saat melihat dwi tampak melayani suaminya dengan baik. berbeda jauh dengan pelayanan yang sebelumnya saat awal-awal mereka baru menikah.


"apa belum ada tanda-tanda wi?" tanya bu patma di sela-sela makannya.


"tanda-tanda apa bu?" tanya dwi yang belum paham maksud dari omongan ibunya.


"kamu belum telat?"


"telat apa bu?" tanyanya lagi.


"dasar anak bodoh!" desis bu patma dengan suara pelan namun terdengar sangat jelas di telinga mereka.


"belum bu." jawab azka tiba-tiba.


"sayang sekali, padahal ibu sudah ingin cepat-cepat mendapatkan cucu dari kalian."


"uhuk..." dwi tersedak dan tidak sengaja memuncratkan sebagian makanan yang sudah masuk kedalam mulutnya.


"ikh, kak dwi jorok." ucap ica lalu berdiri dari duduknya.


"kak dwi bikin nafsu makan aku hilang saja." ucap dio.


"maaf kakak gak sengaja." ujar dwi merasa bersalah. sementara azka tampak melongo seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2