
Edwin menghubungi Azka lewat sambungan video call untuk memberitahu kabar baik, jika Edwin sudah menjadi seorang Ayah. Azka turut bahagia mendengar akan hal itu, tak terkecuali Bu Asmi yang sudah menganggap Edwin seperti anaknya sendiri. Bahkan Edwin juga memperlihatkan bayi yang baru dilahirkan Viona lewat sambungan video call tersebut.
"Anak mu laki-laki atau perempuan Win?" Tanya Azka.
"Laki-laki mas." Jawab Edwin dari sambungan video call tersebut.
"Syukurlah! tapi maaf, aku tidak bisa menjenguk anak dan istri mu." Bukannya Azka tidak mau menjenguk Viona, mengingat Edwin dan Viona yang sekarang tinggal di luar negeri, sehingga tidak memungkinkan untuk Azka dan Mamanya menjenguk kesana karena mereka sangat sibuk. Apalagi sekarang restoran Azka semakin ramai pengunjung.
"Tidak apa-apa mas Azka, terima kasih karena kalian sudah turut mendoakan Viona dan juga bayi kami." Sebelum proses persalinan Edwin memang sempat memberitahu Azka dan Bu Patma.
"Azka, berikan ponsel mu pada mama?" Pinta Bu Asmi.
Azka pun langsung memberikannya. "Ini ma."
"Edwin, lantas kapan kamu akan kembali ke Indonesia?" Tanya Bu Asmi.
" Mungkin setelah bayi kami berusia satu atau dua tahun, Tante." Sahut Edwin.
"Tante tunggu ya kabar baiknya?! jangan lupa setelah sampai Indonesia, kamu hubungi Azka agar dia bisa menjemput mu di bandara." Tutur Bu Asmi.
"Mama. Tadi kan Edwin sudah bilang, kalau dia akan kembali setelah bayi mereka berumur satu atau dua tahun lagi." Ujar Azka kepada Mamanya.
__ADS_1
"Habisnya Mama sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cucu kedua Mama." Sahut Bu Asmi, yang tentu saja percakapan antara ibu dan anak itu dapat terdengar dan terlihat oleh Edwin, karena Bu Asmi tadi sengaja menaruh ponsel Azka dimeja agar mereka bisa ngobrol sama-sama.
Edwin tersenyum penuh arti mendengar ucapan Bu Asmi. "*Anak mas Azka sudah berusia berapa bulan? terus sekarang sudah bisa apa saja?"
"Empat bulan Win, selain bisa nangis. Sekarang Wika sudah bisa guling-guling dan tengkurap*." Sahut Azka.
Edwin tertawa. "Mas Azka bisa saja. Kalau nangis, anakku yang baru lahir juga sudah bisa mas, kencang lagi tangisannya." Edwin terkekeh. "*Pinter ya Dede Wika sudah bisa tengkurap. Kalau gitu aku bisa lihat baby Wika gak mas?"
"Gak bisa Win, aku kan lagi diresto*."
Edwin lagi-lagi terkekeh. "*Sorry mas, aku lupa."
"Oya Win, aku lupa belum ngasih tahu ini sama kamu, kalau aku akan segera menikah*." Azka tersenyum.
"Dwi."
Benar saja dugaan Edwin kalau Azka akan rujuk dengan Dwi. "Aku turut senang mendengarnya! semoga acaranya lancar sampai hari-H." Edwin turut mendoakannya.
"Terima kasih Win." Azka menutup sambungan video call.
**
__ADS_1
Riko datang ke perusahaan Erick untuk menawarkan kerja sama lagi dengannya. Namun kedatangan Riko tidak disambut baik oleh Erick, karena Erick menolak mentah-mentah pertemuan mereka ketika meja resepsionis menyambungkan sambungan telepon kepada Erick.
"Sial!" Umpat Riko. Saat hendak meninggalkan perusahaan itu, tiba-tiba pandangannya terkunci kepada office girl yang menurut Riko wajahnya sangat familiar. "Itu kayak Sindi?" Batin Riko. Dia pun menghampiri untuk memastikannya.
Sindi yang kala itu sedang bersih-bersih menoleh kearah Riko. Deg. "Riko." Gumamnya. Dengan cepat Sindi merebut topi yang dikenakan Doni dan meminta dia untuk merahasiakan identitasnya kepada Riko, karena Sindi yakin jika Riko ingin menghampirinya. "Don, ingat ya?! jangan beritahu siapa aku kepada laki-laki itu." Dengan cepat Sindi pergi meninggalkan Doni.
"Hei tunggu!" Teriak Riko saat melihat wanita yang berpakaian office girl itu pergi dengan menunduk setengah berlari. Saat Riko ingin mengejarnya tiba-tiba dihalangi oleh Doni.
"Maaf Pak. Bapak siapa? dan mau apa?" Tanya Doni.
"Jangan menghalangi ku, aku ingin mengejar perempuan itu." Riko menunjuk kearah Sindi yang sudah sangat jauh.
"Dia teman saya, dan dia sedang terburu-buru ingin pergi ke toilet." Doni berbohong.
"Kalau boleh tahu, siapa perempuan itu?" Tanya Riko.
Doni berpikir sejenak. "Namanya Si... Siti." Sahut Doni lagi-lagi berbohong.
"Siti?!" Gumam Riko seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya. Memangnya kenapa Pak? apa Bapak mengenalnya?" Tanya Doni penasaran. Namun bukannya menjawab pertanyaan Doni, Riko malah pergi begitu saja.
__ADS_1
Sindi masuk kedalam toilet lalu membasuh muka. "Sial! untuk apa Riko disini? bukankah kerjasamanya dengan Erick sudah berakhir karena waktu itu Erick membatalkan kontrak kerjasama." Gumam Sindi. Sindi menatap wajahnya dipantulan cermin yang ada di toilet perempuan. "Gara-gara Erick meminta Pak Farhan untuk menurunkan posisi ku, aku harus kembali memakai seragam ini. Akh sialan! sebenarnya apa yang terjadi? mengapa aku begitu sulit diterima di perusahaan lain! sehingga mau tidak mau, terpaksa aku harus bertahan diperusahaan yang dibawah pimpinan pria h*mo itu." Umpatnya.