Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 99


__ADS_3

Pak Mukti mengejar pengendara motor matic berwarna hitam dengan nopol xxxx. Meskipun Pak Mukti tidak melihat wajah si pelaku penculikan terhadap cucunya, tapi dia yakin kalau mereka lah orangnya. Karena salah satu dari mereka tampak menggendong bayi.


Pak Mukti berusaha untuk menyalip motor si pelaku, dan melihat kearah bayi yang pria itu gendong. Benar saja, kalau bayi itu adalah cucunya. "Berhenti!" Teriaknya.


Namun bukannya berhenti, pria itu malah semakin mempercepat laju motornya. Tak bisa tinggal diam, Pak Mukti ikut mempercepat laju motornya. "Berhenti! berikan anak itu padaku." Pinta Pak Mukti disela-sela laju kendaraannya. "Siapa kalian? kenapa kalian menculik cucuku." Lanjutnya.


Brrrmmm...


Orang itu lagi-lagi mempercepat laju motornya sehingga membuat baby Wika menangis. Tak ingin membahayakan keselamatan cucunya, akhirnya Pak Mukti pun mengalah dan menepikan motornya.


Azka yang kala itu berada didalam mobil bersama Papanya, turut menepikan mobilnya. Pertama-tama Pak Ardi yang keluar duluan dari mobil lalu diikuti oleh Azka dibelakangnya dan langsung menghampiri Pak Mukti.


"Bagaimana Pak? apa baby Wika sudah ketemu?" Tanya Pak Ardi kepada calon/mantan besannya.


"Penculiknya pergi kearah sana." Pak Mukti menunjuk. "Tapi saya tidak bisa mengejarnya! karena itu akan membahayakan baby Wika." Lanjutnya.


"Tapi Ayah, kita juga tidak bisa membiarkan penculik itu membawa Wika pergi." Pekik Azka kepada mantan mertua sekaligus calon mertuanya itu.


"Tadi Ayah sudah mengejarnya dan hampir menyalip motor si pelaku." Tutur Pak Mukti. "Tapi semakin Ayah salip, mereka malah semakin mempercepat laju motor mereka sehingga membuat baby Wika menangis. Ayah tidak mau ambil resiko, karena itu bisa membahayakan keselamatan cucu Ayah." Lirih Pak Mukti.


Pak Ardi menepuk punggung Pak Mukti. "Saya mengerti."


"Kita harus lapor kekantor polisi." Ujar Azka.


"Ya, sebaiknya memang begitu."


**

__ADS_1


Sindi baru saja sampai dirumah Nek Eva. Dia menatap heran kepada semua orang yang tampak tegang, terlebih Dwi dan Ica yang tak henti-hentinya menangis. Sindi pun menoleh kearah kaki Dwi yang tampak kebiru-biruan. "Kaki kamu kenapa Wi?" Sindi pun duduk disamping Bu Asmi.


Dwi terus tertunduk tak menjawab. Dia tampak depresi karena hingga saat ini bayinya tak kunjung ditemukan. Sudah hampir dua jam lamanya, kemana penculik itu membawa bayinya pergi? dan kalau pun penculik itu ingin meminta tebusan, kenapa hingga saat ini tidak ada kabar juga.


Bu Patma pun menceritakan apa yang terjadi. Sindi tampak sangat syok. "Apa kalian sudah lapor polisi?" Tanya Sindi.


"Dwi mendapatkan ancaman! jika sampai dia melaporkan para penculik itu, maka keselamatan baby Wika taruhannya." Sahut Bu Patma.


Sindi berdiri dari duduknya, lalu pamit untuk ikut mencari baby Wika.


"Sin, aku ingin ikut..." Ujar Dwi.


"Jangan." Sahut Sindi. "Lihat keadaan mu sekarang! bukannya membantu, kau malah akan menyulitkan ku." Ucapnya.


"Yang dikatakan Sindi itu benar." Ujar Bu Asmi. "Sebaiknya kamu diam saja dirumah dan tunggu kabar baiknya dari mereka semua." Lanjutnya.


"Kalau Ica boleh ikut gak kak?" Bukan hanya orang-orang dewasa, Ica pun tampak sangat mengkhawatirkan keadaan keponakannya.


Ditengah-tengah perjalanan, Sindi bergulat dengan hati dan pikirannya. "Siapa penculik itu? kenapa mereka mengambil bayi Dwi." Gumamnya. "Kalaupun mereka itu para penculik yang menginginkan uang, kenapa mereka tidak meminta tebusan? dan kenapa juga harus menculik bayi nya Dwi. Biasanya penculik itu kan nyari anak-anak yang ada diluaran, bukan menculik anak yang ada didalam rumah." Lanjutnya.


Seketika pikirannya pun teringat kepada Riko. Sindi tahu kalau Riko itu sangat terobsesi kepada Dwi, sehingga dia pasti akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Dwi. Pernikahan Dwi yang hanya tinggal beberapa hari lagi bisa menjadi pemicu untuk Riko melakukan hal-hal diluar dugaan. akhirnya Sindi pun membelokkan arah mobilnya kearah apartemen Riko untuk menemuinya, karena Sindi yakin kalau Riko lah dalang dibalik penculikan bayi Dwi.


Sesampainya di-pintu apartemen milik Riko. Sindi berdiri memikirkan kembali, mungkinkah Riko yang benar-benar telah menyuruh orang menculik bayi nya Dwi untuk mengalihkan perhatian, agar Dwi dan Azka mengundur acara pernikahan mereka?


Saat mengangkat tangan hendak menekan tombol bel apartemen Riko, tiba-tiba pintu itu terbuka. Dan tampaklah Riko sedang berdiri tepat dihadapannya dengan menyunggingkan senyuman.


"Riko..." Gumam Sindi.

__ADS_1


Riko tersenyum penuh arti. "Hai Sin, sedang apa kau disini?" Riko memutari tubuh Sindi. "Apa kau merindukanku?" Bisiknya, dengan tatapan mesum.


"Dimana kau sembunyikan baby Wika?" Sentak Sindi.


"Baby Wika siapa maksud mu? aku tidak tahu siapa dia." Riko terus mengamati lekuk tubuh Sindi. Seketika, dia pun merindukan saat-saat mereka masih bersama, dan tiba-tiba gai-rahnya bangkit.


"Jangan bohong! cepat katakan kemana kau menyuruh anak buah mu membawa baby Wika pergi." Bentak Sindi.


Sttt...


Riko meletakkan telunjuk tangannya tepat dibibir Sindi, namun dengan cepat Sindi menepisnya.


"Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan, jadi pergilah!" Riko masuk kedalam apartemen dan hendak menutup pintunya, namun didorong oleh Sindi. sehingga dia ikut terseret masuk kedalam apartemen Riko. Tak menyia-nyiakan itu, dengan cepat Riko mengunci apartemennya dari dalam sehingga Sindi tidak bisa keluar.


"Hei... Apa yang kau lakukan?" Sindi terkejut, dia berusaha untuk membuka pintu itu, tapi tidak bisa.


Riko mengangkat tangan, menunjukkan kunci yang ada ditangannya. "Apa kau mau ini?" Riko tersenyum menyeringai, dia pun memasukkan kunci itu kedalam celananya.


Sindi terkejut sampai mangap. "Riko!" Teriaknya sangat keras.


Riko tersenyum penuh kemenangan seraya berjalan kearah tempat tidur lalu berbaring disana. "Ambillah kalau kau mau." Ucapnya dengan santai, seraya menggerak-gerakan kaki nya.


"Dasar say-ko!" Umpat Sindi. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku." sentaknya.


"Cukup simpel! aku hanya merindukan tubuhmu." Riko meletakkan kedua tangannya ditengkuknya sambil rebahan.


"Ck." Umpat Sindi seraya membelalakkan matanya. "Jangan harap! aku tidak sudi memberikan tubuh ini lagi untuk bisa kau nikmati. Karena bagiku kau hanya seorang pecundang!" Desisnya.

__ADS_1


"Oya." Riko tersenyum sinis. Dia pun menghampiri Sindi, dan lagi-lagi memutari tubuhnya. "Kalau bukan aku, siapa yang akan sudi menyentuh wanita kotor seperti mu? dasar perempuan sam-pah." Hina nya.


Ucapan Riko seakan menjadi tamparan keras bagi Sindi. Bagaimana bisa orang yang dulu sangat dia cintai bisa bicara sekasar bahkan sejahat itu padanya. Padahal dia rela memberikan tubuhnya kepada Riko, karena saat itu Sindi benar-benar mencintai Riko, dan mengira jika Riko juga benar-benar tulus mencintainya, serta berharap suatu saat mereka akan dipersatukan menjadi suami istri. Tapi nyatanya Riko malah mencampakkannya begitu saja tanpa belas kasihan.


__ADS_2