Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 58


__ADS_3

***


Azka menghampiri kedua orangtuanya yang sedang duduk diruang keluarga. Dia pun duduk disofa samping Mamanya.


"Jadi, kamu mengundurkan diri dari hotel?" Tanya Bu Asmi, kepada anak semata wayangnya.


"Jadi Ma." Sahut Azka. "Aku punya kabar gembira buat Mama dan Papa." Lanjutnya.


"Apa?" Tanya Pak Ardi.


Tanpa menunggu jawaban dari Azka, Bu Asmi sudah menduga-duga. "Coba Mama tebak! sepertinya Dwi mau membuka hati untukmu lagi. Iya kan?" Bu Asmi antusias.


"Bukan itu Ma." Sahut Azka.


"Lalu?" Tanya Mamanya.


Azka tersenyum. "Dwi hamil Ma! dia sedang mengandung anakku." Jawab Azka dengan wajah yang berbinar.


"Benarkah?" Tanya Bu Asmi dan Pak Ardi secara bersamaan.


"Iya Ma, Pa." Jawab Azka.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Seru keduanya. "Pa, sebentar lagi kita akan mempunyai cucu." Tutur Bu Asmi kepada suaminya.


"Iya Ma, Papa senang sekali. Ini yang kita harapkan selama ini, kalau Azka segera mempunyai keturunan." Ucap Pak Ardi yang terlihat sangat bahagia.


"Tapi, kenapa Dwi tidak mau rujuk sama kamu? bukannya dia sedang mengandung anak kamu." Tanya Bu Asmi tiba-tiba.


"sepertinya Dwi belum bisa memaafkan kesalahanku." Sahut Azka. "Tapi, walaupun demikian! aku tidak akan menyerah, untuk bisa mendapatkan hatinya lagi." Lanjutnya.


"Papa senang mendengarnya." Ucap Pak Ardi. "Untuk saat ini, mungkin Dwi masih belum bisa menerima kamu lagi, tapi Papa percaya suatu saat nanti tuhan pasti akan mempersatukan kalian lagi." Lanjut Pak Ardi.


"Aamiin. Semoga saja!" Sahut Azka.


"Kamu sudah makan?" Tanya Bu Asmi, seraya memegang pundak putranya.


"Mama jadi ingat!" Tutur Bu Asmi. "Ketika kita makan di restoran seafood sama Dwi dan sepupunya, waktu itu Dwi ijin ke toilet karena merasa mual saat memakan menu seafood yang dipesan. Padahal kamu bilang menu itu adalah menu favoritnya. Terlebih saat Sindi mengatakan kalau Dwi sering merasakan seperti itu, Mama memang sudah curiga kalau Dwi memang sedang hamil." Lanjut Mamanya.


"Mama benar." Sahut Azka. Dia pun tertegun, merenungi saat masih membina mahligai bahtera rumah tangga dengan Dwi. Sebelum perceraian itu terjadi, sikap Dwi memang sedikit sensitif. Terlebih Dwi juga tidak suka kalau Azka memakai parfum, dengan alasan wangi parfum yang Azka gunakan itu sangat menyengat dihidung.


"Papa akan menghubungi Pak Mukti, dan akan mengadakan pertemuan keluarga dengannya, untuk membahas soal ini." Ucap Pak Ardi seraya menoleh kepada Azka dan Bu Asmi secara bergantian.


"Mama setuju! kita memang perlu membicarakan hal ini dengan keluarga Pak Mukti." Ujar Bu Asmi. "Bagaimana menurut kamu Azka?" Tanyanya.

__ADS_1


"Aku ikut Mama dan Papa saja, bagaimana baiknya." Sahut Azka.


**


Edwin membuatkan minuman untuk Viona yang masih terlihat sedih atas pertengkarannya dengan Azka. Tak lama kemudian dia menghampiri Viona dan duduk disampingnya.


"Minumlah dulu." Pinta Edwin seraya menyodorkan minuman itu kepada Viona.


"Terima kasih Win, kamu memang laki-laki yang baik! andai saja Azka bisa sebaik dirimu." Ucap Viona, lalu menenggak minuman tersebut.


Edwin tersenyum masam saat Viona lagi-lagi menyebut nama Azka dihadapannya. Rasanya ingin sekali dia cemburu kepada Azka, namun apa haknya?! Viona bahkan tidak pernah menginginkan kehadirannya.


"Win, ucapan kamu tadi saat dihotel, itu kamu pasti hanya bercanda kan? kamu gak benar-benar suka sama aku?" Tanya Viona.


"Kalau aku benar-benar menyukai Bu Viona, apa Bu Viona akan membenci dan menjauhiku?" Edwin malah balik bertanya.


Viona menaruh gelas yang ada ditangannya, lalu menatap lekat wajah Edwin. "Jujur saja, aku memang merasa nyaman saat bersama kamu. Tapi hati aku sudah dimiliki oleh Azka! karena hanya dia satu-satunya laki-laki yang aku cintai, dari dulu sampai sekarang." Jawabnya. "Dan satu hal yang harus kamu tahu! selama ini kamu selalu ada untuk aku, jadi mana bisa aku menjauhimu." Lanjut Viona.


"Jadi Bu Viona tidak akan menjauhiku?" Edwin meyakinkan.


"Tentu saja tidak Edwin!" Sahutnya. "Tapi, kamu mau kan bantuin aku untuk mendapatkan Azka?" Tanya Viona.

__ADS_1


Deg. Jantung Edwin seakan berhenti berdetak saat Viona mengucapkan kalimat itu! bisa-bisanya Viona meminta bantuannya untuk mendapatkan Azka, padahal Viona tahu kalau Edwin mencintainya.


Melihat Edwin yang hanya diam saja, Viona pun memegang tangan Edwin lalu mengelus-elusnya. "Edwin, kamu mau kan, membantuku untuk mendapatkan hati Azka? aku yakin, sekeras-kerasnya batu pasti akan lunak juga, ketika ditimpa air terus-menerus." Ujar Viona. Namun Edwin hanya diam saja. "Edwin..." Tutur Viona, seraya mendekati wajah Edwin. Kini jarak keduanya sangat dekat sekali hanya tersisa beberapa centimeter saja.


__ADS_2