Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 66


__ADS_3

*Weekend*


Keluarga besar Nek Eva sedang berkumpul dirumahnya. Orangtua Sindi pun kini turut hadir di-acara perkumpulan keluarga tersebut. Namun Sindi tampak cuek terhadap Mama dan Papa sambungnya itu, dia lebih memilih untuk menghampiri Dwi yang sedang bermain bersama adik-adiknya.


"Kamu ngapain kesini?" Tanya Dwi kepada Sindi. "Seharusnya kamu berkumpul bersama Tante Mona dan Om Jay, bukankah beberapa hari lagi mereka akan kembali ke LA."


"Berada didekat mereka hanya membuatku merasa canggung. Kamu tahu kan kalau sudah hampir satu tahun, aku tidak bertemu dengan Mama." Sahut Sindi.


Dwi tertegun mendengar ucapan Sindi. "Memangnya kamu tidak merindukan saat-saat kebersamaan dengan Tante Mona?" Tanyanya lagi.


"Sudahlah! aku tidak ingin membahasnya." Ujar Sindi. "Sekarang kamu lihat kearah Mama." Pintanya kepada Dwi, sehingga Dwi pun menoleh kearah Bu Mona." Kamu lihat kan? sepertinya Mama memang sangat menikmati kebersamaannya dengan Om Jay, ketimbang tinggal sama aku." Lanjut Sindi.


"Tapi, bukankah Tante Mona juga pernah mengajakmu agar ikut dengannya tinggal di kota LA." Ucap Dwi.


"Tapi saat itu aku menolaknya, karena aku pikir Mama juga gak mungkin tega meninggalkan aku disini! tapi nyatanya Mama lebih memilih untuk ikut dengan suami barunya, dan meminta Nenek untuk menjagaku." Ujar Sindi.


"Ku pikir kehidupan kamu jauh lebih menyenangkan dari pada aku!" Desah Dwi.


"Nyatanya kamu itu lebih beruntung, karena masih memiliki orangtua yang utuh, tidak sepertiku." Lirih Sindi.


Dwi termenung mendengar keluhan Sindi. Sindi menjadi korban keegoisan orangtua yang lebih memilih untuk bercerai, ketimbang mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka.


"Wi, untung kamu belum punya anak. Coba kalau punya! kasihan, nanti anakmu itu yang menjadi korban." Ucap Sindi bukan maksud menyinggung, namun ucapannya itu pas kena banget ke hati Dwi.


Dwi menenan saliva nya dengan kasar. "Sebenarnya ada satu hal yang belum kamu ketahui tentang aku." Tutur Dwi terlihat serius.


"Apa?" Tanya Sindi.


"Sebenarnya aku sedang hamil." Jujurnya.


"Apa?! kamu serius?" Sindi sangat terkejut. "Anak yang ada didalam perutmu itu anak Azka kan? bukan anak dari laki-laki lain?" Sindi memborong pertanyaan.


Seketika Dwi langsung menoyor jidat Sindi. "Iya lah anaknya Azka! memangnya kamu pikir, aku itu hamil anak siapa hakh? Tanya Dwi sedikit ngegas.


"Sorry-sorry. Ya kali aja kamu itu hamil anaknya Riko mungkin!"

__ADS_1


"Sembarangan!" Sentak Dwi gak terima dengan tuduhan Sindi. "Memangnya kamu pikir aku itu sama seperti kamu, yang rela mengobral tubuh hanya demi kesenangan." Desisnya.


"Enak saja kamu ngatain aku mengobral tubuh! aku akui, aku memang pernah melakukan hubungan suami istri! tapi itu hanya dengan Riko. Dengan laki-laki lain aku gak pernah, kalau hanya sebatas ciuman dan pelukan doang." Jelas Sindi.


"Emmm... Maca cih..." Goda Dwi seraya mencodongkan wajah kepada Sindi. Karena kesal, refleks Sindi langsung menoyor jidat Dwi dengan telunjuknya.


"Aishh sialan!" Umpat Dwi.


"Habisnya ngapain kamu dekat-dekat gitu sama aku? kelamaan jadi janda sikh..." Gerutunya.


"Memangnya kenapa kalau aku janda? status ku sudah jelas, tidak perlu dipertanyakan! nah kamu sendiri apa? gadis tapi bukan perawan." Cemooh Dwi seraya meluruskan pandangannya kedepan.


Sindi mendeleki Dwi. "Akh rese kamu Wi! andai bisa ku putar waktu, aku juga tidak akan sudi disentuh oleh laki-laki brengsek seperti Riko." Gerutunya.


"Tapi saat itu aku sempat mendengar suara kamu dari pintu ruangan khusus." Ujar Dwi.


"Suara apaan?" Sindi mengernyitkan dahinya.


"Aah sayang... Pelan-pelan dong..." Ucap Dwi, seraya menirukan suara De*sah*han Sindi saat berpacu kuda dengan Riko waktu itu.


"Apa-apaan kalian ini? sudah cukup!" Sentak Nek Eva. Sehingga Dwi dan Sindi pun diam lalu tertunduk.


"Kalian itu sudah dewasa! kenapa kalian selalu bersikap kekanak-kanakan?"


"Sindi yang mulai duluan Nek. Masa dia berani ngata-ngatain aku." Ujar Dwi mengadu.


"Bohong Nek, justru Dwi yang mulai duluan." Sindi melakukan pembelaan.


"Jelas-jelas kamu yang ngatain aku janda." Cercah Dwi.


"Lah emang kamu janda!" Sahut Sindi dengan entengnya.


"Aku janda juga hasil pernikahan. Nah kamu sendiri apa?" Bisik Dwi ditelinga Sindi, karena tidak ingin semua keluarganya mengetahui tentang apa yang pernah dilakukan Sindi dengan mantan tunangannya. "Apa perlu semuanya aku bongkar didepan semua orang?" Ancam Dwi, masih berbisik ditelinga Sindi.


"Jangan dong Wi!" Bisik Sindi setengah merengek.

__ADS_1


"Makanya jangan macam-macam sama aku." Gertak Dwi.


"Iya deh, aku gak akan macam-macam sama kamu! dan untuk permintaan maafku, gajih pertama aku, aku kasih separuh deh sama kamu." Sindi mencoba bernegosiasi.


"Oke." Sahut Dwi.


"Kalian kenapa jadi bisik-bisikan begitu?" Tanya Pak Mukti, yang heran melihat kelakuan anak dan keponakannya.


"Gak kok Yah." Dwi cengengesan. "Ya udah Sin, kita kesana lagi yuk." Ajaknya.


"Hati-hati Wi, ingat kamu itu sekarang sedang mengandung." Bu Patma mengingatkan.


"Iya Bu, aku tahu." Sahut Dwi.


Dwi dan Sindi duduk diteras depan. Sindi mencodongkan kepalanya kearah perut Dwi.


"Ekh mau apa kamu?" Tanya Dwi.


"Utun kalau sudah lahir nanti, kamu harus jadi anak yang baik ya! jangan seperti ibu kamu." Ucap Sindi kepada janin yang ada didalam kandungan Dwi.


"Jangan juga kayak Tante Sindi!" Ketus Dwi seraya menatap wajah Sindi dengan sinis.


"Ya, pokoknya kamu harus jadi anak yang baik!" Ujar Sindi. "Kalau kamu terlahir sebagai laki-laki. Jadilah seorang laki-laki yang baik, yang bertanggung jawab, dan tidak merusak kaum perempuan. Tapi jika kamu terlahir sebagai perempuan! jadilah perempuan yang baik, yang bisa menjaga harga diri dan martabatnya." Lanjutnya.


Dwi tersentuh mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Sindi. "Yakinlah! jika suatu saat nanti, akan datang seorang laki-laki yang mampu menerima segala kekurangan dan kelebihan mu." Ujar Dwi kepada Sindi.


"Tidak usah menghiburku!" Sahut Sindi. "Karena setiap laki-laki yang datang kepadaku hanya menginginkan tubuhku! dan setiap aku menolak keinginan dari mereka, mereka mencampakkan aku begitu saja." Lanjutnya.


"Berarti mereka memang tidak tulus mencintai kamu! dan seharusnya kamu bersyukur dijauhkan dari orang-orang seperti itu." Sahut Dwi. "Dan yang harus kamu tahu! laki-laki yang tulus pasti akan menjaga kehormatan perempuannya, bukannya malah merusaknya." Lanjutnya.


Sindi tertegun mendengar ucapan Dwi. Dia tidak menyangka kalau Dwi akan bicara seperti itu. "Kini aku mengerti kenapa Azka begitu mencintai kamu." Tutur Sindi.


"Maksudnya?"


"Di cintai satu orang dengan tulus itu jauh lebih berarti, dari pada di cintai seribu orang yang hanya bermodalkan modus!" Ucap Sindi.

__ADS_1


__ADS_2