
saat bel apartemen berbunyi dengan cepat dwi membuka pintu. dia kaget sekaligus senang saat mengetahui kalau yang berkunjung itu orang tua beserta adik-adiknya. lantas dwi langsung mempersilahkan mereka untuk masuk.
"apa suami mu sudah berangkat bekerja?" tanya pak mukti seraya duduk di sofa dekat dengan istrinya.
"sudah ayah." jawab dwi seadanya.
"sayang sekali, padahal ibu sudah membawakan makanan untuknya." ucap bu patma.
"benarkah? sini bu..." dwi antusias dan hendak merebut makanan itu dari ibunya, namun dengan cepat dia menepisnya.
"ini untuk suami mu. kalau kamu mau kamu bisa makan sama-sama dengannya." ujarnya.
"tapi bu, azka kan gak ada."
"kamu datang ketempat dia bekerja, dan antar makanan ini ke tempatnya."
"apa? yang benar saja bu? azka itu GM di hotel bintang lima. hotel di situ menyediakan restoran dengan beberapa koki terkenal. aku akan mempermalukan diriku sendiri jika aku membawa makanan ini kesana." jelas dwi.
plak. bu patma memukul lagi punggung dwi.
"ibu... apa tubuhku ini bagaikan ring yang bisa sesuka hati ibu pukul. sakit tau." rintihnya.
"sudah. kenapa kalian malah jadi ribut. ibu dari kemarin-kemarin maksa ingin kesini, katanya kangen sama kamu." ucap pak mukti.
"sungguh?" dwi seperti kurang yakin.
"dasar anak kurang ajar! apa kamu sedang meledek ibu." lagi-lagi Bu patma memukulnya.
"stop! iya-iya, aku antar makanan ini kepada azka." teriak dwi.
"berani kamu meneriaki ibu?" sentak bu patma.
"ayah aku pergi dulu." dwi langsung mencium tangan ayahnya.
"kakak ikut..." kedua adiknya mengikutinya.
...hotel....
"ada apa?" tanya azka, namun tetap fokus pada layar komputernya.
"aku ingin mengajakmu makan siang." ucap viona.
"aku masih sibuk, kamu duluan saja." jawabnya.
"aku akan menunggumu." ucap viona. dia pun duduk di sofa yang ada di ruangan azka. dia mengangkat satu kakinya dan menumpangkan di kaki satunya lagi. pahanya begitu mulus, terekspos jelas karena dia mengenakan rok span jauh dari atas lututnya. sesekali dia juga menggibas-gibaskan rambutnya untuk mencuri perhatian azka.
tak lama kemudian dwi dan adik-adiknya masuk. azka sedikit terkejut dengan kedatangannya.
"kenapa gak ketuk dulu pintu?" tegur azka.
"kelamaan! oya, ini aku bawakan makanan untukmu." tutur dwi.
"seharusnya kamu tidak perlu repot-repot memasak untukku." ucap azka.
"bukan aku, tapi ibu yang memasaknya untukmu." sahutnya.
"sekarang ibu dimana?" tanya azka.
"ibu ada di apartemen."
__ADS_1
"baik. aku akan pulang lebih cepat." ucap azka.
"cikh makanan kampung." desis viona secara tiba-tiba.
dwi dan adik-adiknya pun menoleh, dia baru sadar kalau ada viona di ruangan azka.
"perempuan ini lagi. ngapain dia disini?" ujar dwi.
"aku sedang menemani azka, siapa tahu dia merasa bosan dan kesepian jika berada sendirian di ruang kerjanya."
perasaan azka mulai gelisah, omong kosong apa yang sudah di katakan viona. namun dia ingin melihat, apa reaksinya dwi mendengar ucapan viona.
"dasar tidak tahu malu! apa kamu tidak punya kerjaan lain, selain gangguin suami orang?" desis dwi.
"hekh jangan sembarangan!" sentaknya.
"cukup! tolong jangan bertengkar di ruanganku." ujar azka. dia pun menoleh kepada viona. "bisakah kamu tinggalkan kita?" pintanya.
"tapi ka-..."
"please..."
viona pun akhirnya meninggalkan ruangannya. dio terpaku melihat pakaian yang dikenakan viona.
"dasar bocil! lihat apa kamu?" sentak dwi kepada adiknya yang masih berstatus pelajar SMP itu.
"persis." gumam dio.
"persis apa?" tanya dwi.
"pakaiannya persis di film dewasa yang pernah aku tonton." ucap dio keceplosan.
"aw-aw ampun kak." rengeknya. namun dwi belum mau melepaskannya.
"kamu harus janji dulu sama kakak, kalau kamu tidak akan menonton film dewasa lagi." pinta dwi seraya terus menjewer adiknya.
"i-iya kak, dio janji." seketika dwi pun langsung melepaskannya. "tapi kalau gak hilap ya." lanjutnya.
"ish anak ini." dwi kembali ingin menjewernya namun dio berlindung di belakang tubuh kekar azka.
"kak, tolongin aku kak, kak dwi galak ni." ujar dio kepada azka.
"dwi sudah cukup, kasihan adikmu." ucap azka.
"tapi dia itu kurang ajar! masih kecil sudah berani nonton gituan." ucap dwi.
"gituan apanya?" tanya azka yang pura-pura polos.
"ya gitu..." ucap dwi.
"iya apa?" tanya azka yang mengulum senyumannya.
"gila nih si azka. senyumannya manis banget." batin dwi.
"jangan pura-pura gak tau deh, aku yakin di handphone mu juga banyak." ujar dwi.
"bicaramu makin tambah ngaco. gak jelas!" ujar azka.
"apa kamu bi-..." dwi belum selesai bicara, karena azka keburu menutup mulut dwi dengan telunjuk tangannya.
__ADS_1
azka mengambil ponsel dari saku celana, dan menghubungi edwin agar segera masuk kedalam ruangannya. dan tak lama kemudian edwin datang.
"ada apa pak?" tanya edwin.
"edwin kamu bisa tolong bawa mereka keluar sebentar gak?" tanya azka.
"baik pak." ucap edwin.
"tidak mau! kalau om ini orang jahat gimana? nanti kita di culik." ucap ica.
"ekh kok panggil om sih? aku kan masih muda." ucap edwin.
"ca, kayaknya om ini pengen di panggil kakek. ckckck..." dio tertawa.
"dio, ica, gak boleh gitu akh. kalian harus minta maaf sama kak edwin." pinta dwi.
"gak mau!" sentak dio dan ica.
"kalau kalian gak mau minta maaf, kak edwin gak bakalan mau ngajakin kalian jalan-jalan keluar." sahut azka.
"kak edwin mau ngajakin kita jalan-jalan?" tanya dio antusias.
"iya." azka pun tersenyum.
"yee... let's go." dengan cepat dio dan ica berlarian keluar.
"edwin, maafkan adik-adikku ya."
edwin tersenyum. "tidak apa-apa bu." dia pun segera pamit keluar.
wssss. azka langsung melempar ponselnya kearah dwi. refleks dwi langsung menangkapnya.
"apa-apaan ni?" tanyanya heran, karena tiba-tiba azka melemparkan ponsel itu kepadanya.
"sini handphone mu?" pinta azka.
"mau apa?"
"kita lihat, siapa yang sebenarnya pikirannya mesum." ucap azka.
"maksudnya?"
"kamu sudah memegang handphone ku. cepat sini, mana handphone mu?"
"memangnya mau apa?" dwi belum ngeh.
"aku mau cek handphone kamu, adakah film dewasanya atau tidak." ujar azka.
"jangan sembarangan. memangnya kamu pikir aku perempuan seperti apa." tutur dwi.
"ya makanya kesini-hin dulu handphone kamunya."
dwi tampak menggigit ujung bibirnya.
"ah lama." azka pun merebut tas dwi dan mengambil ponselnya.
"azka, gak sopan ya kamu." dwi berusaha merebut ponselnya kembali dari tangan azka, namun azka terus menahannya. postur tubuhnya yang tinggi membuat dwi kesulitan untuk meraih ponsel itu dari tangannya.
"azka balikin." pinta dwi.
__ADS_1
azka mengangkat ponsel itu dan mengotak-atik nya. hingga dia pun menemukan gambar video yang tak senonoh di ponsel dwi, namun saat dia ingin mengklik gambar putar, dwi naik ke sofa dan melompat agar bisa meraih ponsel itu dari tangan azka. namun tiba-tiba bruagkk. mereka berdua terjatuh ke lantai dengan posisi dwi di bawah sementara azka di atasnya menahan agar kepala dwi tidak terbentur.