Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
video?


__ADS_3

mata keduanya bertemu dan saling bertatapan. perlahan azka mendekati wajah dwi, dwi pun memejamkan kedua bola matanya.


"apa yang kamu lakukan?" bisik lembut azka ditelinga dwi lalu mengklik tombol putar video tersebut. seketika dwi langsung melotot dan terkejut saat mendengar suara desa*han dari ponselnya. dia pun langsung merebutnya.


"mau kemana?" tanya azka saat melihatnya hendak pergi.


"aku mau pulang." ucap dwi.


"nanti kita pulang bareng." ucap azka lalu duduk di sofa dan membuka makanan yang sudah di bawa dwi. "kenapa diam mematung? apa kamu tidak ingin ikut makan?" tanya azka.


dwi duduk di sebelahnya, dengan raut wajah yang tampak sedikit memerah.


"apa kamu tidak ingin memeriksa handphone ku?" tanya azka yang fokus dengan makanannya tanpa menoleh kepada dwi.


sekilas dwi pun menoleh kearah handphone azka yang sedari tadi ada di tangannya.


"kurasa tidak." jawab dwi.


"kenapa? apa kamu percaya kalau aku bukan laki-laki yang berotak mesum?" tanyanya seraya menaruh makanannya di meja.


"aish..." umpat dwi dia pun memeriksa handphone azka, dan memang tidak ada apa-apa di ponselnya.


"tidak ada apa-apa kan?" ucap azka.


"siapa tahu aja kamu menyembunyikan nya di folder lain." dwi berusaha menyangkalnya. "aku tidak percaya kalau pria sepertimu tidak menyimpan video seperti itu." lanjut dwi.


"ide yang bagus! sepertinya aku memang harus menyimpannya." ujar azka yang membuat dwi tercengang. "kalau begitu tolong kirimkan video yang menurutmu paling menarik dan sudah sering kamu tonton." ucap azka.


"ekh...?" dwi terkejut mendengar pernyataan dari azka.


"kenapa?" kali ini azka menatapnya.


dwi mendengus kesal. sekilas dia menoleh kearah makanan yang dia bawa.


"kok di habisin? aku juga belum makan." ucap dwi.


"salahmu sendiri. kenapa dari tadi hanya diam saja, aku pikir kamu tidak mau." ucap azka tanpa rasa bersalah.


beberapa saat kemudian perut dwi bersuara, cacing-cacing di perutnya sudah berdemo minta di beri makan.


azka tampak tersenyum tipis saat mendengarnya. "apa kamu lapar?" tanya azka.


"tidak." jawabnya pura-pura.


azka pun menghubungi pelayanan hotel untuk mengantarkan makanan ke ruangannya.


"nih kamu makan." ucap azka setelah menerima makanannya.


"percuma, nafsu makan ku sudah habis." desisnya.


"apa kamu yakin tidak bernafsu saat melihat makanan ini." ucap azka sembari membuka penutupnya.


dwi langsung melotot dan menelan ludahnya saat melihat makanan itu yang terlihat sangat enak, dan seakan-akan melambaikan tangan minta di santap.


"apa kamu yakin tidak ingin memakannya?" goda azka.

__ADS_1


kring kring. tiba-tiba ponsel azka berdering, dia pun berbalik badan menjauhi dwi lalu kemudian mengangkatnya.


"ada apa?" tanya azka lewat sambungan teleponnya.


"ica minta di belikan beberapa mainan yang mahal pak." ucap edwin.


"ya sudah, belikan saja." sahut azka.


"dio juga meminta di belikan handphone termahal pak."


"kamu belikan juga. nanti uangnya biar aku transfer." pungkasnya.


saat azka berbalik arah dan menghampiri dwi, dia sedikit heran karena makanan dipiring yang tadi di bawakan pelayan hotel sudah kosong.


"makanan nya kemana?" tanya azka.


"aku buang!" ucap dwi.


azka mendekati dwi dan mengamati wajahnya, seketika dia pun tersenyum.


"kenapa cengar-cengir?" tanya dwi.


"apa kamu yakin makanannya sudah kamu buang?" tanya azka.


"apa wajahku terlihat berbohong."


"ya. kamu memang terlihat berbohong." ucap lembut azka seraya mengusap sisa makanan yang menempel di bibir dwi. perlahan azka mendekatkan wajahnya ke wajah dwi, lalu kemudian menciumnya. dwi terkejut, namun perlahan dia pun menikmati ciumannya.


setelah merasa kehabisan nafas, dwi pun melepas ciumannya.


"emh, aku-..." belum sempat mengutarakan isi hatinya, azka kembali menciumnya.


kring kring. kali ini ponsel dwi yang berdering. dan ternyata itu telepon dari pak mukti yang memintanya untuk segera kembali ke apartemen karena mereka akan segera pulang.


"kenapa?" tanya azka.


"dio dan ica mana?" dwi malah balik bertanya.


"edwin mengajak mereka jalan-jalan ke mall. memangnya kenapa?"


"ibu meminta mereka untuk segera pulang." sahut dwi.


"kalau gitu kita pulang sekarang. aku akan meminta edwin untuk mengantar dio dan ica ke apartemen." ucap azka seraya meraih tangan dwi lalu menggandengnya. dwi terpaku dan terus menatap kearah wajah azka.


semua staf dan pelayan menohok, melihat sikap azka kepada dwi yang begitu romantis saat melewati mereka. karena biasanya azka dan dwi bagaikan kucing dan tikus yang tidak pernah akur meskipun di muka umum.


*


"aku gak mau pulang, aku mau disini sama kak dwi aja." rengek ica saat kedua orang tuanya mengajak dia pulang.


"tidak bisa begitu ca, kamu akan merepotkan kakakmu dan kamu juga akan mengganggunya." ucap pak mukti.


"tidak apa-apa ayah, untuk sementara ica bisa tinggal disini." ucap azka. "kalau dia sudah kembali masuk sekolah, aku yang akan mengantarnya pulang." lanjut azka, yang tahu kalau sekolahnya memang sedang libur.


"apa ica tidak akan merepotkan kalian?" tanya bu patma.

__ADS_1


"tidak bu." ucap azka dengan senyum ramahnya.


"ica, jangan ngerepotin kakak ya, oke." dwi mengacungkan jari kelingkingnya dan di sambut oleh ica yang melingkarkannya.


"dio, apa kamu juga ingin menginap disini?" tanya dwi.


"tidak kak. aku sudah punya handphone keluaran terbaru, aku ingin menunjukannya kepada teman-temanku." sahut dio.


"handphone baru? kamu punya uang dari mana?" tanya dwi.


"dari kak azka lah. siapa lagi, kak dwi kan pelit, gak mungkin kak dwi mau membelikanku handphone mahal." ucap dio.


"anak ini, benar-benar." dwi tampak terlihat kesal mendengar ucapannya.


*


malam hari. dwi dan ica duduk di sofa seraya menonton televisi. sementara azka sedang berada di dalam kamarnya, dan entah apa yang sedang dia lakukan.


"kak, ica sudah ngantuk." tuturnya.


"mari kakak antar kamu ke kamar." ucap dwi. dia pun ikut tidur di sampingnya.


tengah malam ica tiba-tiba terbangun, dan dia heran kenapa kakaknya tidur dengannya.


"bangun kak, bangun." ica menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"hoaammm" dwi menguap seraya menggeliatkan tubuhnya. "ada apa ca? sudah pagi ya." dia pun menoleh kearah jarum jam dinding yang ada di kamarnya. "tengah malam begini kenapa sudah membangunkan kakak?" tanyanya.


"kenapa kakak tidur disini?" tanya ica.


"memangnya kenapa? ini kan kamar kakak." dwi sedikit keceplosan.


"kamar kakak? kakak gak tidur sama kak azka?" tanya ica.


deg. dwi langsung ngeh, kalau keluarganya tidak ada yang tahu, kalau selama ini dia dan azka tidur terpisah.


"bukan gitu, kakak tadi mengantuk makanya gak sengaja ketiduran disini." ucapnya berbohong.


"kalau gitu kakak pindah sekarang." pinta ica.


"ya, kakak memang ingin pindah." ucap dwi dia pun beranjak dari tempat tidurnya.


dwi keluar kamar lalu merebahkan tubuhnya di sofa. namun dia terkejut saat melihat ica yang tiba-tiba berdiri di depannya dan menatapnya dengan sinis.


"ica, kamu ngagetin kakak." tutur dwi.


"kak dwi lagi berantem ya sama kak azka?" tanya ica.


"enggak." jawabnya.


"terus kenapa kakak malah ingin tidur di sofa? aku akan memberi tahu ibu kalau kakak lagi berantem sama kak azka." ucap ica.


"jangan ca." teriaknya. "ini kakak mau masuk ke kamar kak azka kok." ucap dwi, seraya berjalan menuju kamarnya.


"kenapa tidak masuk?" tanya ica, karena melihat kakaknya yang berhenti di depan pintu.

__ADS_1


dwi menarik nafas panjang, lalu membuangnya secara kasar. "iya kakak masuk." pungkasnya.


__ADS_2