
***
Sebelum keberangkatannya, Edwin dan Viona datang menemui Azka beserta orangtuanya untuk meminta maaf. Pak Bagas pun turut hadir disana untuk meminta maaf sekaligus ingin mengantar Viona dan Edwin ke bandara.
"Mas Azka, sekali lagi aku mohon. Tolong maafkan aku? aku tidak pernah bermaksud untuk membohongi kalian semua." Lirih Edwin yang merasa sangat bersalah terhadap Azka dan keluarganya.
"Azka, tolong maafkan kita! terlebih aku, karena aku yang telah mengancam Edwin untuk tidak menceritakan yang sebenarnya kepada kalian." Ucap Viona yang terdengar tulus.
Azka menoleh kearah koper besar yang dibawa oleh Edwin. "Kalian mau kemana?" Tanyanya datar.
"Kita sudah memutuskan untuk tinggal diluar negeri." Jawab Edwin.
Mendengar itu, sontak Azka langsung menarik bahu Edwin kemudian memeluknya. "Maafkan aku juga, karena selama ini tidak bisa memahami keadaanmu." Azka pun melepas pelukan.
"Apa itu artinya mas Azka sudah memaafkan aku?" Edwin antusias. Yang dibalas anggukan oleh Azka.
"Azka, apa kamu akan memaafkan ku juga?" Sela Viona.
Azka mengangguk, lalu menjulurkan tangannya. Viona pun menerimanya. "Selamat atas pernikahan kalian." Ujar Azka. "Aku minta maaf karena baru kali ini mengucapkannya." Lanjut Azka.
"Tidak apa-apa, dan terima kasih." Balas Viona.
Azka menoleh kepada Edwin. "Selamat ya Win." Azka menepuk bahunya.
"Terima kasih." Edwin tersenyum.
__ADS_1
Usai meminta maaf kepada Pak Ardi dan Bu Asmi, Pak Bagas menghampiri Azka. Sementara Edwin dan Viona giliran menghampiri orangtua Azka, untuk meminta maaf sekalian pamit. Edwin sudah menganggap Pak Ardi dan Bu Asmi layaknya orangtuanya sendiri.
"Azka, aku minta maaf atas perlakuan ku tempo hari terhadapmu." Ujar Pak Bagas seraya memegang pundak Azka.
"Tidak apa-apa Pak, saya bisa memakluminya." Sahut Azka menganggukkan kepala.
"Ya sudah, kalau begitu kita pamit." Ucap Pak Bagas.
"Win, aku akan ikut mengantar kalian ke bandara." Sela Azka.
"Terima kasih mas Azka." Sahut Edwin merasa senang.
**
Dwi duduk disamping Sindi yang sedang duduk di-halaman depan. "Kamu belum berangkat kerja?" Tanya Dwi.
Dwi tersenyum. "Kenapa? masih galau?"
"Enggak!" Jawab Sindi. Sindi pun berdiri dari duduknya, lalu menatap wajah Dwi.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Dwi pun meraba-raba wajahnya, takut ada sesuatu yang aneh.
"Kamu bilang, Edwin akan berangkat ke bandara hari ini kan?!" Sindi meyakinkan.
"Iya." Dwi mengangguk.
__ADS_1
Sindi menghela nafas panjang lalu kemudian membuangnya secara kasar. "Hakh, tak ku sangka! setelah ditinggal nikah, ternyata aku juga ditinggal pergi." Gumamnya.
"Sin, kenapa kamu gak coba menjalin hubungan dengan Doni saja? kamu bilang, Doni itu kan suka sama kamu." Tutur Dwi, berdiri disamping Sindi.
"Doni itu bukan tipe aku." Sahutnya.
"Loh, bukannya kamu bilang kalau Doni itu lumayan cakep ya? kenapa kamu gak mau? menurutku, kamu juga gak cantik-cantik amat! ya, pasaran lah..." Ledek Dwi seraya menggodanya.
"Aishh... Sialan! pake ngatain lagi." Umpatnya. "Yang namanya cinta itu kan gak bisa dipaksa! kalau aku maksain untuk menjalin hubungan dengan Doni, tanpa adanya perasaan. Bisa saja sewaktu-waktu aku nyakitin dia." Sahut Sindi.
"Tumben mikirin perasaan orang lain!" Sindir Dwi.
"Dari dulu juga aku memang sering mikirin perasaan orang lain. Orang lain aja yang gak pernah mau mikirin perasaan aku." Celetuknya.
Dwi mengerucutkan bibirnya. "Gitu..."
Saat sedang asyik ngobrol, tiba-tiba Nek Eva memanggil Dwi. Rupanya baby Wika sudah bangun, sehingga Dwi bergegas masuk kedalam rumah. Sementara Sindi masih duduk termenung dikursi depan rumah Neneknya.
**
Riko marah-marah dan menghajar satu-persatu anak buahnya yang gagal menjalankan rencananya waktu itu. Meskipun meminta maaf dan memohon ampunan nya, Riko terus membabi buta memukuli perut keempat anak buahnya. "Padahal aku sudah membayar mahal kalian! ternyata kerja kalian tidak ada yang becus." Sentaknya.
"Maaf bos. kami tidak tahu, jika saat itu kami telah salah menangkap orang." Preman itu meringgis menahan kesakitan, karena Riko memukuli perutnya berulang kali.
"Enyahlah kalian dari hadapan ku!" Bentak Riko. Sehingga anak buahnya pun pergi meninggalkannya dalam keadaan emosi yang sudah meluap-luap.
__ADS_1
Tok tok tok...
"Masuk..." Teriak Riko bernada kesal. Tak lama kemudian sekretarisnya pun masuk, dan memberikan sebuah berkas untuk Riko tanda tangani. Namun Riko malah menggodanya, dan mengajaknya untuk masuk kedalam ruangan khusus. Diruangan itulah Riko mencurahkan semua hawa naf*su nya kepada sekertaris cantiknya itu.