Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
rencana perjodohan.


__ADS_3

bu patma tampak sibuk mempersiapkan makanan di meja. hari ini rumahnya akan kedatangan tamu sehingga dia memasak lebih banyak dari pada biasanya. tiba-tiba anak bungsunya menghampiri.


"kak dwi akan pulang bu?" tanya ica pada ibunya.


"tidak ca." jawabnya.


"lalu kenapa ibu masak banyak sekali?"


"hari ini kita akan kedatangan tamu." ujar bu patma.


"siapa bu?"


"nanti kamu juga akan tahu."


tak lama kemudian tamu yang ditunggu-tunggu telah tiba. pak mukti menyambut hangat kedatangannya. dan langsung mengajaknya untuk makan bersama.


"wah jadi gak enak, baru datang sudah di suruh makan." ucap pak ardi terkekeh.


"tidak apa-apa! aku tahu, kalau makan adalah hobi kamu sejak kecil." pak mukti terkekeh menggoda sahabat kecilnya.


"mari silahkan dinikmati hidangannya, mumpung masih hangat." ucap ramah bu patma kepada sahabat suaminya.


"sebenarnya tadi aku sudah sarapan bersama istri dan anakku. tapi berhubung apa yang dikatakan oleh mukti itu benar, kalau hobiku adalah makan. maka dengan senang hati aku akan mencicipinya." ucapnya terkekeh.


setelah selesai makan, pak mukti mengajak pak ardi untuk duduk di ruang tamu.


"bukankah kamu itu sudah punya anak gadis, lalu dimana dia? dari tadi aku tidak melihatnya."


"sekarang dia tinggal di kota J bersama neneknya." ucap pak mukti.


"sayang sekali! padahal aku ingin sekali bertemu dengannya." ucap pak ardi.


"bagaimana dengan anakmu?" tanya pak mukti seraya menyulut rokok yang ada ditangannya, lalu kemudian menghisapnya.


pak ardi tertegun sejenak. "dia masih belum bisa melupakan almarhumah istrinya. padahal aku ingin sekali melihat kebahagiaannya." ucap lirih pak ardi kepada sahabatnya. "apa anak gadismu sudah mempunyai pacar?" tanyanya.


"sepertinya belum."


"kalau boleh, aku ingin sekali melamar anak gadismu untuk anakku." ucapnya secara spontan.


"apa?" pak mukti tampak sangat terkejut.


"iya, aku ingin sekali mempererat tali silaturahmi di antara kita! sebenarnya dari dulu aku sudah ingin mengutarakan keinginanku ini, namun anakku sudah keburu memperkenalkan wanita pilihannya sendiri."


pak mukti tertegun sejenak. "kalau soal itu kita serahkan saja kepada masing-masing dari mereka. sebagai orang tua, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik buat anak-anak kita." ucap pak mukti.


"ya, aku juga tidak akan memaksa kalau anakmu tidak mau menikah dengan anakku. tapi dengan syarat, kita harus memperkenalkan mereka terlebih dulu! karena aku yakin, anakmu tidak akan bisa menolak wajah karismatik yang dimiliki oleh anakku." ucap pak ardi terkekeh.


**

__ADS_1


tet..tet..tet....


sindi terus membunyikan klakson mobilnya. "dwi cepetan dong. nanti aku tinggal nih." teriaknya.


"iya sebentar!" dwi tampak keluar dengan tergesa-gesa seraya mengenakan hakhilsnya.


"lama amat! ngapain aja." gerutunya.


"yaelah sin, namanya juga cewek, wajarlah kalau dandannya tu lama." ucap dwi membela diri. "awas ya, kalau turunin aku di jalanan lagi." ancamnya.


"hari ini riko ulang tahun, aku bingung mau ngasih dia kado apa." ucap sindi di tengah-tengah perjalanannya.


dwi diam tak merespon.


"kok diam saja? ngasih saran ke. apa ke." rengeknya kepada dwi.


dwi langsung menaruh handphone nya, lalu menatap kearah sindi. "tunggu, barusan itu kamu curhat?" tanyanya menatap dalam wajah sindi.


sindi mendengus kesal. "menurutmu?" sentaknya.


"hehe.." dwi malah cengengesan. "jadi kamu minta saran?"


sindi pun mengangguk seraya memanyunkan mulutnya.


"kenapa kamu gak kasih dia jam tangan saja?"


"good, ide yang bagus. kita lets go sekarang." ucap sindi seraya mengangkat tangan dan menambah kecepatan mobilnya.


**


"pak azka..." panggil edwin assistant nya.


"ya?" azka menoleh.


"hari ini kita akan melakukan meeting bersama klien." ucapnya.


"tunggu aku lima menit lagi." pinta azka.


"baik pak."


menjadi seorang general manager hotel tentu saja bukan sesuatu pekerjaan yang mudah. azka harus mengemban tugas untuk merencanakan dan mengorganisir serta melakukan pengaturan terhadap semua oprasional managemen hotel agar mempunyai kinerja yang efisien.


"pak azka kita telah sampai." ucap edwin yang menyetirnya.


"kamu siapkan semua berkas-berkasnya."


"baik pak." edwin pun mengekorinya dari belakang.


"orang itu? sepertinya aku pernah melihatnya?" ucap dwi yang tak berhenti menatap kearah laki-laki yang baru saja melewatinya.

__ADS_1


"tentu saja! hampir tiap malam kita bertemu dengannya di club." ucap sindi.


samar-samar dwi mencoba mengingatnya kembali wajah laki-laki itu. "ya, kamu benar! dia itu laki-laki kasar yang sering kita jumpai di club." seru dwi.


"kasar?"


"ya."


"setahu ku dia itu orang yang dingin dan cuek, kecuali kalau kamu duluan yang mengusiknya." ucap sindi.


"apa kamu mengenalnya?" tanya dwi.


"tidak! aku hanya tahu cerita tentangnya dari teman laki-laki ku. dan kebetulan dia mengenal azka." ucap sindi menjelaskan.


"azka?"


"ya, namanya azka" jelas sindi.


"sikap dan penampilannya berbeda sekali saat dia berada di club." ujar dwi.


"tentu saja. kamu lihat dia kayanya sedang melakukan meeting, jelas dia harus berpakaian rapi dan sopan. karna kalau tidak, semua kliennya akan kabur." ucap sindi terkekeh.


"iya kamu benar! apa lagi kalau dia menunjukan sikap kasarnya itu di depan kliennya, yang ada kliennya malah akan lari, tunggang langgang ketakutan." ucap dwi ikutan terkekeh.


tanpa sadar rupanya mereka tertawa cukup keras sehingga para pengunjung di resto itu menatap kearahnya, tidak terkecuali juga azka, yang menatap sinis kepada keduanya. karna jarak diantara mereka tidak terlalu jauh.


"jep..." seketika sindi langsung membungkam mulut dwi dengan tanganya.


dwi menepisnya. "apaan sikh?"


"kamu ketawanya kekencengan! kamu lihat deh, semua orang jadi menatap kearah kita."


dwi menatap kesekeliling, lalu pandangannya terkunci kepada azka yang sedang menatap sinis kearahnya.


"oke, meeting nya kita akhirnya sampai disini! saya pamit undur diri." ucap azka penuh sopan santun. lalu menyalami kedua laki-laki yang ada di hadapannya.


azka berjalan melewati tempat duduk dwi dan sindi.


"dia terlihat sangat berwibawa." ucap sindi seraya menyangga wajahnya dengan kedua tangannya.


"cihh, bukankah kamu sudah punya pak riko?" desis dwi menatap sinis kearahnya.


"sekali-kali gak apa-apa kali wi, buat cemilan." ucapnya.


"cemilan? kamu kira mereka makanan apa?" ujar dwi.


"ya ampyuun wi. jadi cewek jangan terlalu polos kenapa? kita itu gak boleh ketergantungan sama satu cowok! selama kita masih belum menikah, kita tu masih bebas menerbangkan sayap kita kemana saja kalau kita mau." ucap sindi.


"berarti aku boleh dong mendekati pak riko, selama kalian belum menikah?" ucap dwi bercanda, namun sindi malah menanggapinya dengan serius.

__ADS_1


"nih... kalau kamu berani macam-macam dengan riko." ucap sindi seraya mengangkat tangan yang di kepalkannya.


__ADS_2