
Sebelum berangkat kekantor, Dwi ijin untuk periksa kehamilan ke dokter kandungan kepada Erick. Lantas Erick pun mengijinkannya.
"Perkembangan bayi nya sangat baik. Tapi saya sarankan, jika Bu Dwi ingin memeriksa kehamilan Ibu, sebaiknya Ibu minta didampingi oleh suami Ibu! agar dia juga tahu bagaimana perkembangan janinnya." Ucap Dokter kepada Dwi.
Dwi tersenyum masam mendengar ucapan Dokter. Sementara Bu Patma tampak bengong, karena Dwi belum cerita apa-apa, kenapa Dokter bisa berkata seperti itu.
Setelah pemeriksaan selesai. Dwi dan Bu Patma berjalan keluar menyusuri koridor rumah sakit.
"Ibu tidak mengerti! kenapa Dokter bicara seperti itu?" Tanya Bu Patma, seraya menghentikan langkah kakinya setelah sampai halaman rumah sakit.
"Sebenarnya waktu itu aku diantar oleh Pak Erick! saat pertama kali aku mengetahui, kalau penyebab aku sering mual-mual itu karena aku sedang hamil." Jelas Dwi.
"Jadi Dokter mengira kalau Pak Erick itu suami kamu?" Tanya Bu Patma.
"Iya Bu. Dan salahnya lagi, ketika aku ingin mengklarifikasi kalau Pak Erick itu bukan suamiku, Pak Erick malah melarangku! dan membiarkan Dokter berasumsi kalau Pak Erick itu Ayah dari janin yang ada didalam kandungan ku." Jelasnya.
"Seharusnya Pak Erick tidak mengaku sebagai suami mu. Apa pandangan keluarga Pak Ardi nanti, jika kabar ini terendus ke telinga mereka." Desah Bu Patma.
Dwi tertegun. "Yang dikatakan Ibu benar! seharusnya aku tidak menyetujui, ketika Pak Erick ingin berpura-pura sebagai suamiku." Batin Dwi.
Sementara dirumah sakit yang sama, tampak Viona sedang diperiksa oleh seorang dokter.
"Bagaimana Dok? saya sakit apa?" Tanya Viona, kepada seorang Dokter yang menanganinya.
"Ibu tidak sakit, tapi Ibu sebenarnya sedang mengandung." Jelas Dokter.
"Apa?!" Viona terkejut, sehingga refleks langsung bangun dari tidurnya. "Maksud Dokter, saya hamil?" Tanyanya meyakinkan.
Dokter tersenyum. "Iya Bu!"
"Ini tidak mungkin." Gumam Viona. Dia pun segera turun dari hospital bed lalu berlari keluar dari ruangan itu.
Saat diparkiran Viona menabrak seseorang."Aww..." Pekiknya.
"Viona!" Tutur Dwi.
Viona terkejut melihat Dwi. Dengan cepat dia pun masuk kedalam mobil, dan melajukan mobilnya itu dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Siapa perempuan itu?" Tanya Bu Patma kepada Dwi.
"Namanya Viona! dia perempuan yang aku ceritakan." Jawab Dwi.
"Jadi dia itu Viona, wanita si pelakor yang suka godain mantan suami kamu?"
"Iya Bu."
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi! tahu gitu, tadi Ibu jambak-jambak rambutnya. Karena dia, kamu sekarang menjadi seorang janda." Ujar Bu Patma.
"Sudahlah Bu. Kejadiannya juga sudah lewat kan." Sahut Dwi. Semenjak hamil, dia berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan bijaksana.
"Tetap saja, ibu gak terima! karena dia kamu dan Azka jadi bercerai." Ujarnya. "Lihat saja kalau bertemu dia lagi, Ibu bejek-bejek tuh mukanya biar ancur sekalian." Lanjut Bu Patma.
*
Semakin hari restoran Azka semakin ramai pengunjung. Karena bukan hanya makanan yang disajikannya saja yang menarik minat pengunjung. Tetapi nuansa elegan yang dihadirkan resto itu sehingga banyaknya para pelanggan dan wisatawan lokal yang penasaran dengan konsep dan cita rasa yang disajikan.
"Nek, Ica lapar." Tutur Ica kepada Neneknya, setelah seharian mengantar Nenek untuk berbelanja bulanan.
"Kita makan disana yuk Nek." Ucap Ica seraya menunjuk. Ica dan Neneknya pun lebih mendekat kearah resto tersebut.
"Dwi Rindu!" Baca Ica saat melihat banner tersebut.
"Sepertinya ini restoran baru." Ujar Nenek.
"Kalau gitu, kita wajib mencobanya." Seru Ica, lalu lari masuk kedalam resto itu. Namun tanpa sengaja Ica malah menabrak seorang bartender, sehingga membuat gelas minuman yang dibawanya pun pecah.
"Dasar anak nakal! lihat gara-gara kamu minuman yang saya bawa tumpah, dan gelasnya pun pecah." Sentak pria itu. "Saya gak mau tahu! pokoknya kamu harus ganti rugi." Lanjutnya.
Nenek terkejut saat menghampiri Ica yang sudah tampak ketakutan akibat makian dari bartender itu. "Maaf mas, anda tidak perlu se-kasar itu pada cucu saya, karena saya akan mengganti semua kerugiannya." Ujar Nenek.
Azka yang melihat ada kerumunan, dengan cepat menghampiri untuk mencari tahu apa yang telah terjadi. "Ada apa ini?" Tanyanya. Dia pun menoleh kearah Nenek dan Ica. "Nenek, Ica!" Dengan cepat Azka pun mencium tangan Nek Eva.
Azka menatap kepada bartender. "Apa yang terjadi?"
"Anak ini nakal! dia berlari-larian disini, sehingga menabrak saya dan membuat gelasnya pun pecah."
__ADS_1
"Jangan mengatakan kalau anak ini nakal!" Bentaknya. "Dia itu adikku." Lanjutnya.
Nek Eva terkejut mendengar pengakuan Azka. Ternyata Azka masih menganggap kalau Ica itu adiknya.
"Maaf Pak, saya tidak tahu."
"Tolong bersihkan pecahan gelas ini." Titah Azka.
"Baik Pak."
"Ica ikut Kakak yuk." Ajak Azka. "Mari Nek, ikut saya." Ujar Azka. Azka mengajak Nek Eva dan Ica keruangan VVIP dan meminta bartender menghidangkan semua makanan yang ada disana. Ica tampak sangat lahap menyantap makanannya.
"Nenek dan Ica habis dari mana?" Tanya Azka.
"Nenek habis belanja bulanan, tapi tadi Ica bilang lapar makannya kita mampir ke restoran ini." Jawab Nenek. "Nak Azka sendiri sedang apa disini?" Tanyanya.
Azka tersenyum. "Sebenarnya ini restoran baru ku Nek." Jawabnya. "Setelah risign dari hotel, aku memutuskan untuk berbisnis kuliner." Lanjutnya.
"Jadi ini restoran kamu!" Seru Nek Eva. "Nenek bangga sama kamu, karena kamu sosok laki-laki yang pandai dalam segala hal." Pujinya.
"Nenek terlalu memuji." Ucap Azka malu-malu. "Justru aku merasa, aku adalah sosok laki-laki yang paling gagal. Gagal karena tidak bisa menyelamatkan nyawa almarhumah istriku! dan gagal karena tidak bisa mempertahankan rumah tanggaku dengan Dwi." Lirih Azka, raut wajahnya berubah menjadi murung.
Nek Eva tertegun mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Azka. Dia pun bisa memahami perasaan Azka saat ini. "Sepertinya kamu masih mencintai Dwi?"
"Bukan sepertinya Nek, tapi ya! aku masih sangat mencintainya dan menginginkannya untuk kembali hidup bersamaku." Sahut Azka. "Aku sudah beberapa kali mencoba mengutarakan keinginanku untuk rujuk dengannya, tapi dia selalu menolaknya dengan alasan dia belum siap membina rumah tangga dengan laki-laki manapun termasuk aku." Jelas Azka.
"Untuk saat ini, Nenek tidak mau menekan Dwi agar dia mau menerima kamu lagi." Ujar Nek Eva. "Tapi setelah anak yang ada didalam kandungan Dwi lahir, kalian harus membicarakannya lagi." Tutur Nek Eva.
"Kabarnya sekarang bagaimana Nek? apa kandungannya baik-baik saja?" Tanya Azka.
"Dwi baik-baik saja."Jawab Nenek. "Sekarang dia sedang pergi ke dokter kandungan untuk mengecek perkembangan janinnya." Lanjutnya.
"Aku ingin sekali pergi mengantarnya untuk cek ke Dokter! tapi sayangnya dia tidak pernah memberi tahuku, kapan jadwal pemeriksaan rutinnya." Lirih Azka.
"Tiap sebulan sekali Dwi wajib untuk pemeriksaan ke Dokter kandungan." Jelas Nek Eva. "Dan kalau kamu mau, tiap jadwal pemeriksaannya nanti Nenek akan kasih tahu infonya sama kamu." Lanjutnya.
"Terima kasih Nek." Tutur Azka.
__ADS_1