Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
ketahuan.


__ADS_3

jep ajep-ajep...


suara musik keras terus bergendang di telinga. dwi berjalan melewati beberapa pria dan wanita yang sedang bermesraan, bahkan diantara mereka sudah tidak ragu-ragu untuk saling mencium satu sama lain. dwi tidak pokus melihat kedepan sehingga dia tidak sengaja menabrak seseorang.


"maafkan aku? aku tidak sengaja." ucap dwi kepada laki-laki itu.


"kamu telah membuat baju ku ini basah." ucap laki-laki itu, seraya menggibas-gibaskan pakaiannya yang terkena tumpahan minumannya.


"maaf, aku benar-benar tidak sengaja." ucap dwi, namun bukannya memaafkan, tiba-tiba laki-laki itu malah merebut seloki yang di pegang temannya lalu menyiramkannya tepat di bagian dada dwi.


"apa yang kamu lakukan?" sentak dwi kepada laki-laki yang ada di hadapannya.


laki-laki itu langsung menyelundupkan kepalanya di dada dwi, dengan cepat dwi mendorong tubuh laki-laki itu agar menjauhinya. tak lupa, dwi juga memberikan tendangan lututnya yang mendarat tepat di perut laki-laki itu. dwi pun segera pergi untuk menghindari para lelaki hidung belang itu.


"aaa..." teriak laki-laki itu. "cepat kejar wanita itu! jangan biarkan dia lolos." teriaknya kepada teman-temannya.


jep ajep-ajep ajep-ajep...


dwi masih berusaha menghindari kejaran mereka. cahaya lampu kelap-kelip pasti akan menyulitkan mereka untuk menemukan dwi. namun dwi juga terlihat kesulitan untuk menghindari mereka yang terus mengejarnya.


"pak riko! aku harus meminta bantuannya." gumam dwi dan langsung menghampirinya.


"pak, pak riko..." panggil dwi.


riko pun menoleh, dan menatap sinis kepadanya. "ada apa?"


"tolong aku... aku di kejar beberapa lelaki hidung belang."


"kamu meminta bantuanku? sungguh?" tanyanya tak percaya." setelah apa yang sudah kamu lakukan kepadaku waktu itu. dan kini kamu meminta pertolongan kepadaku?"


"itu karena kamu yang duluan bersikap tidak sopan kepadaku." sentak dwi.


"baiklah, kali ini aku akan menolongmu." ucapnya yang membuat dwi sedikit lega.


laki-laki itu datang dan langsung menarik tangan dwi. "ayo ikut kami."


"aku tidak mau..." pekiknya.


"lepaskan wanita ini! dia milikku." ucap riko seraya menarik kembali tangan dwi, agar mendekatinya.


"wanita ini liar! dia telah melukai teman kami." ucap laki-laki itu.


"nanti aku sendiri yang akan mengurusnya! sampaikan permintaan maafku pada temanmu itu."

__ADS_1


"terima kasih." ucap dwi saat melihat laki-laki itu pergi.


"temani aku minum!" titahnya.


"maaf pak, aku harus segera pulang."


"nanti saja! temani aku minum terlebih dulu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang."


dwi akhirnya mau menuruti permintaan riko. "tidak apa-apa, minumanku juga sudah aku ganti." batinnya.


"itu wanita yang mabuk waktu itu kan?" tanya geri meyakinkan, seraya menunjuk kearah dwi.


sekilas azka menoleh, tapi tak merespon.


"bagaimana malam itu? apa yang terjadi diantara kalian?" tanya geri yang mulai penasaran.


"tidak ada!" jawab azka.


"jangan membohongiku. aku tahu kamu mungkin telah menutup hatimu untuk wanita lain! tapi aku tahu kamu seorang pria yang normal, tidak mungkin kamu tidak tergoda dengan kemolekan tubuh gadis itu." ujarnya.


"sama sekali aku tidak tertarik dengannya." ucap azka.


"sungguh? padahal dia cantik."


"aku akan mencobanya." ucap geri seraya mengangkat kedua alisnya. "kamu jangan nyesal ya? kalau aku dapat duluan."


azka tak merespon ucapan geri. dia memperhatikan dwi dari kejauhan. lalu mengunci pandangannya pada botol minuman yang di pegang dwi.


"pak riko sudah terlalu banyak minum, sebaiknya kita pulang." ajak dwi.


"dwi, kenapa dia belum mabuk juga?padahal minuman di botolnya sudah hampir habis." batinnya. "apa kamu ingin tambah lagi?" tanya riko.


"tidak pak!" dwi menggelengkan kepalanya.


"tambah satu botol lagi saja." ucap riko. dia pun meminta pelayan untuk memberikan satu botol lagi untuk dwi.


"gawat!" dwi tampak sedikit panik. "bagaimana ini, aku tidak mungkin meminumnya. haruskah aku mengganti isi dari botol ini lagi?" batinnya, dia terlihat menggigit ujung bibirnya, sehingga membuat riko semakin berhasr*at ingin memilikinya.


"apa yang sedang kamu pikirkan?"


"emm, aku kebelet." ucapnya sehingga membuat riko tercengang. "aku ke toilet dulu ya." ucap dwi. namun tampa sepengetahuannya ternyata riko sengaja mengikutinya.


dwi membasuh mukanya di cermin. "hakh, kenapa aku harus terjebak di tempat ini." gumamnya. sekilas dwi membayangkan wajah riko yang tampan. tapi akhir-akhir ini, sikapnya membuat dwi merasa ilfil. "ku pikir aku benar-benar menyukainya. ternyata tidak!" batinnya.

__ADS_1


ceklek.


pintu toilet perlahan terbuka.


"pak riko." dwi terbelalak kaget. "apa yang bapak lakukan disini?" dwi perlahan mundur.


"sudahlah wi, kamu jangan berpura-pura lagi! aku tahu kamu menyukaiku." ucap riko seraya mendekatinya.


"tolong jangan macam-macam pak! pak riko tidak boleh bersikap seperti ini. seharusnya bapak bisa menjaga perasaannya sindi. kalau dia tahu, hatinya pasti akan terluka." ujar dwi.


"jangan munafik! aku tahu, kalau kamu juga menginginkanku." ucap lembut riko seraya memegangi dagu dwi dan mengunci pandangannya. namun saat riko ingin mencium dwi, tiba-tiba...


bruagkk...


sindi datang dan memergokinya. "dasar wanita sialan! apa yang kamu lakukan dengan tunanganku!" ucap sindi yang menampar wajah dwi lalu menjambak rambutnya.


"sindi sakit! tolong lepaskan aku." pekiknya seraya memegangi tangan sindi dan berusaha untuk menyingkirkan tangannya.


"sindi, apa yang kamu lakukan? lepaskan dia." riko menarik tangan sindi dengan kasar, sehingga sindi melepaskan jambakannya terhadap dwi.


"dasar wanita tidak tahu diri! selama ini aku sudah berusaha untuk berbuat baik sama kamu. tapi apa yang sudah kamu lakukan dibelakangku." maki sindi.


"sindi cukup! aku yang salah, bukan dwi."


"diam! kamu sama dia itu sama saja. sama-sama gatel! untung saja temanku menelponku dan memberi tahu kalau kalian sedang berduaan." ujar sindi.


"sin, kamu salah paham aku..." dwi belum menyelesaikan ucapannya karena sindi keburu memotongnya.


"aku tahu, selama ini kamu menyukai riko. tapi aku tidak pernah menyangka kalau kamu benar-benar ingin merebutnya dariku." air matanya sudah tak terbendung lagi, sindi pun akhirnya menangis.


riko mendekati sindi, dan ingin memeluknya, namun sindi menolaknya.


"kalian jahat! kenapa kalian melakukan ini kepadaku." sindi memukuli dada bidang riko.


"aku minta maaf? aku tahu aku salah." ucap riko seraya memegangi kedua pipinya. riko menoleh kearah dwi, dan memberikan isyarat agar dwi meninggalkan mereka berdua.


"sayang, dengarkan aku baik-baik! aku ini milikmu, dan aku hanya mencintaimu." ucap riko, merayunya.


"lalu, apa yang barusan ingin kamu lakukan? kamu ingin mencium dwi, iya kan?"


"maafkan aku, sepertinya aku terpengaruh oleh alkohol." riko berusaha untuk mengelaknya.


"mulai sekarang, jangan temui aku dulu. aku benar-benar kecewa sama kamu." ucap sindi kemudian pergi.

__ADS_1


"sin, sindi..." teriak riko memanggilnya.


__ADS_2