
"Dari reaksinya aku tahu kalau Azka sedang cemburu terhadapku." Batin Erick. "Apa yang salah dari sikap ku? aku peduli kepada Dwi karena nasibnya yang hampir sama dengan Mama ku." Lanjutnya dengan mata merah menyala.
"Pak Erick..." Suara Indra membuyarkan lamunannya.
Erick pun menoleh. "Dari mana saja kamu? kenapa lama sekali." Decaknya.
"Maaf Pak. Ini perlengkapan bayi yang Bapak minta saya-..." Belum menyelesaikan ucapannya, Erick keburu memotongnya.
"Buang saja!" Decaknya dengan raut wajah yang kesal.
"Serius Pak?" Tanya Indra tak percaya. Pasalnya tadi Erick sendiri yang memintanya untuk mencarikan barang-barang itu.
"Aku serius." Jawabnya seraya berjalan meninggalkan pusat perbelanjaan.
"Tapi kenapa Pak?" Tanyanya lagi.
"Jangan banyak bicara!" Sentak Erick. "Lakukan saja apa yang aku perintahkan." Cercahnya.
Indra berhenti mengikuti langkah kaki Erick yang semakin cepat. Dia menelisik beberapa barang yang ada ditangannya. "Sayang juga kalau dibuang!" Gumamnya. "Sebaiknya aku berikan saja semua barang-barang ini kepada keponakan ku yang baru lahir." Lanjutnya.
......PT. Prima grup.......
"Aku minta maaf, karena aku harus menurunkan kembali posisi mu." Ujar Pak Farhan kepada Sindi.
"Aku tidak mau! Pak Farhan sudah berjanji akan mempertahankan posisi aku dikantor, kenapa Bapak mengingkarinya." Desah Sindi yang duduk disofa ruangan Pak Farhan.
"Aku sudah tidak bisa mempertahankan mu lagi, karena Pak Erick yang meminta ku untuk kembali menempatkan mu dikerjaan awal, yaitu office girl." Pak Farhan duduk disamping Sindi seraya mengamati lekuk tubuhnya yang begitu indah.
"Aku kecewa, karena Bapak sudah mengingkari janji Bapak." Sindi berdiri tepat dihadapan Pak Farhan.
__ADS_1
Pak Farhan tergoda saat melihat paha putih dan mulus yang ada dihadapannya. Dia pun mendongak keatas arah dua tonjolan dada Sindi yang tampak begitu padat dan berisi.
Sindi yang sadar akan hal itu dengan cepat menaruh tangan kanannya untuk menutupi belahan dadanya yang terbuka. "Apa Bapak benar-benar tidak bisa mempertahankan saya disini?" Tanya Sindi dengan nada bicaranya yang tinggi.
"Apa kamu benar-benar ingin aku bantu untuk mempertahankan posisi mu?" Pak Farhan malah balik bertanya, seraya berdiri tepat dihadapannya.
"Tentu saja." Angkuh Sindi.
"Baiklah! dengan senang hati aku akan membantumu." Pak Farhan tersenyum licik, seraya menatap tubuh Sindi penuh ha*wa naf*su.
"Bapak serius?" Sindi antusias.
"Tapi dengan syarat! puaskan aku malam ini." Ucap Pak Farhan, seraya mengusap-usap paha Sindi dan mendekati wajahnya seperti akan menciumnya.
"Sial! kenapa aku harus dihadapkan dengan pria bia*dab seperti ini sikh." Batin Sindi merutuki kelakuan bejad atasannya.
Saat sedang bergulat dengan hati dan pikirannya. Tiba-tiba Erick masuk dan terkejut saat melihat pemandangan tak senonoh yang ada dihadapannya. Tangan Pak Farhan mengelus-elus paha Sindi dan hendak mengangkat rok mininya keatas, sementara tangannya ingin menyentuh benda kenyal milik Sindi namun dihalangi olehnya.
"Ini tidak seperti apa yang Bapak pikirkan." Sindi mencoba untuk menjelaskan.
"Diam!" Sentak Erick. "Aku tidak sedang berbicara dengan mu, dasar wanita penggoda!" Makinya.
Sindi yang tidak terima dengan tuduhan yang diberikan Erick pun berusaha untuk membela diri. "Tolong jangan sembarangan bicara Pak. Apa yang Bapak tuduhkan semua itu tidak benar!" Decak Sindi. "Aku tidak menggoda Pak Farhan, justru dia yang merayuku."
"Bohong! itu tidak benar." Sela Pak Farhan. "Justru dia yang selalu menggodaku, dan tidak segan menawarkan diri untuk aku sentuh dengan jaminan, dia ingin tetap bertahan dengan posisinya saat ini sebagai sekretaris ku."
"Apa?!" Sindi menohok mendengar omong kosong yang keluar dari mulut Pak Farhan.
"Awalnya saya menolak Pak. Tapi Sindi terus menggoda saya, sehingga sebagai pria yang normal saya tergoda olehnya." Lanjut Pak Farhan. "Tolong jangan pecat saya." Memohon.
__ADS_1
"Baik. Kali ini saya maafkan, karena Bapak orang yang berjasa besar didalam perusahaan!" Ucap Erick. "Tapi, kalau sampai saya melihat perbuatan tidak senonoh lagi diperusahaan ini, maka saya tidak akan segan-segan untuk memecatnya siapapun itu." Tegasnya.
"Terima kasih Pak." Ujar Pak Farhan.
"Tapi apa yang dikatakan Pak Farhan itu tidak benar! justru dia yang selalu menggodaku." Sindi menatap wajah Erick.
"Apa kamu pikir aku akan mempercayai wanita seperti mu?" Desis Erick. "Apa kamu lupa? kalau sebelumnya kamu juga pernah menggodaku, ketika pertama kali kamu menginjakkan kaki diperusahaan ini. Aku yakin, kamu juga menggunakan cara yang sama untuk menggoda Pak Farhan." Desus Erick.
Pak Farhan tersenyum menyeringai saat mendengar ucapan Erick yang lebih mempercainya ketimbang Sindi.
"Kamu pikir aku serius, ketika waktu itu aku menggoda mu?" Cercah Sindi. "Asal kamu tahu, aku menyukai pria tulen! bukan pria h*mosek*sual sepertimu." Desahnya.
Erick dan Pak Farhan langsung membulatkan kedua bola mata mereka, saat mendengar ucapan Sindi.
"Pak Farhan, tolong tinggalkan kita berdua di-sini." Pinta Erick yang dibalas anggukan oleh Pak Farhan.
Tuk Tuk Tuk.
Erick melangkahkan kakinya agar lebih dekat lagi dengan Sindi. "Siapa yang kamu sebut pria h*mosek*sual?" Tanyanya dengan tatapan dingin hingga menembus keubun-keubun.
"Kamu." Jawab Sindi lalu membelalakkan matanya.
"Tatap aku!" Sentaknya. "Katakan sekali lagi, siapa yang kamu sebut pria h*mosek*sual?" Teriaknya seraya mencengkram wajah Sindi sehingga membuatnya kesakitan.
"Aww... Singkirkan tanganmu." pekik Sindi berupaya melepaskan cengkeramannya.
Tok tok tok...
Tiba-tiba Indra mengetuk pintu dan meminta Erick untuk segera keruangan meeting, karena semua klien sudah menunggunya.
__ADS_1
"Urusan kita belum selesai!" Sinis Erick kepada Sindi, kemudian pergi.