Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 84


__ADS_3

***


Club.


Jep ajep-ajep...


Suara musik bergema keras digendang telinga Azka. Pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi, membuatnya stres memikirkan akankah dia bahagia menikah dengan Viona? wanita yang sama sekali tidak pernah dia cintai. Ataukah sebaliknya, seiring dengan berjalannya waktu, perlahan Azka akan mulai membuka hati dan bisa menerima pernikahannya dengan Viona, seperti apa yang pernah terjadi padanya dan Dwi saat mereka dijodohkan?


"Ternyata Mas Azka disini." Tutur Edwin yang baru saja tiba.


Sekilas Azka menoleh kepada Edwin, namun kemudian kembali fokus kearah DJ cantik yang sedang memainkan musiknya.


"Bu Viona tadi menghubungi aku, dan menanyakan kenapa nomer mu tidak aktif." Ujar Edwin. Namun Azka tetap diam saja.


Sebenarnya Azka kecewa dengan Edwin, karena dia merasa kalau ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh Edwin. Setiap kali Azka bertanya secara baik-baik, jawaban dari Edwin selalu saja tidak tahu, tidak tahu, dan tidak tahu. Sebenarnya itu bukanlah suatu jawaban bagi Azka. Sikap Edwin yang seperti itu malah semakin memperkuat dugaannya kalau anak yang dikandung Viona itu bukan anaknya, melainkan anak orang lain.


Melihat Azka yang diam saja, semakin membuat Edwin merasa bersalah. Pasalnya, selama ini dia yang selalu menjadi teman curhat Azka. Termasuk soal perasaannya terhadap Dwi! Azka masih sangat mencintai Dwi, dan Edwin pun tahu itu.


"Mas Azka sepertinya marah sama aku! apa aku jujur saja? jika aku-lah sebenarnya yang telah menghamili Bu Viona. Tapi bagaimana kalau Bu Viona benar-benar menggugurkan kandungannya, jika aku memberi tahu Mas Azka yang sebenarnya." Batin Edwin. "Aku tidak mau membahayakan janin yang ada didalam kandungan Bu Viona! karna janin itu, adalah anakku." Lanjutnya dalam hati.

__ADS_1


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Edwin datang kerumah Pak Bagas untuk menemui Viona. Saat bertemu dengan Pak Bagas, Edwin ijin kalau akan terlambat datang ke hotel. Pak Bagas pun mengijinkannya.


"Edwin, kita bicara dikamar ku saja." Ajak Viona. Viona memang sudah tidak canggung lagi saat berada dalam satu kamar dengan Edwin.


"Ini yang terakhir kalinya aku ingin bertanya kepada Bu Viona. Apa Bu Viona yakin, ingin menikah dengan Mas Azka?" Tanya Edwin dengan sorot mata yang tajam.


Viona malah tersenyum menanggapi pertanyaan dari Edwin. Dia pun berjalan kearah belakang Edwin, lalu memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya dileher Edwin. Sehingga pipi mereka bersentuhan. "Andai saja bisa! aku ingin sekali memiliki kalian berdua." Ucapnya.


Mendengar itu, dengan cepat Edwin melepaskan pelukan Viona. "Jawab pertanyaan aku dengan benar!" Edwin meninggikan nada bicaranya. "Apa kamu serius ingin menikah dengan Mas Azka? jika ya! aku minta setelah aku menikah dengan Sindi nanti, jangan lagi mencoba untuk masuk kehidupanku, dan jangan pernah merusak kebahagiaanku dengan Sindi." Decak Edwin.


"Apa kamu pikir, aku bicara seperti ini karena aku sangat mencintai kamu? jawabannya tentu tidak!" Ucap Edwin. "Aku hanya tidak ingin, Mas Azka tidak bisa memperlakukan kamu dan calon bayi kita dengan baik, hanya karena Mas Azka tidak menginginkanmu untuk menjadi istrinya. Apalagi saat Mas Azka tahu yang sebenarnya, aku yakin dia tidak akan pernah memaafkan mu." Ujar Edwin. "Karena sepandai-pandainya kamu menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga bau busuknya." Lanjut Edwin.


"Kalaupun suatu saat nanti Azka mengetahui kebenarannya. Aku tidak pernah takut, karena aku masih mempunyai kamu! dan aku yakin, kalau kamu tidak mungkin membiarkan aku terpuruk." Jawab Viona antusias.


"Dan disaat itu benar-benar terjadi, mungkin aku sudah pergi sejauh mungkin dari kehidupan Bu Viona. Karena aku sudah berkomitmen! siapapun wanita yang bisa membahagiakan aku dan membuatku merasa nyaman ketika aku bersamanya! maka kebahagiaan wanita itulah yang akan menjadi prioritas utama ku." Sahut Edwin.


"Apa itu artinya kamu akan benar-benar meninggalkan aku, jika kamu sudah menikah dengan wanita lain?" Viona menatap nanar wajah Edwin.

__ADS_1


"Ya." Jawab Edwin.


"Aku tidak menyangka kalau kamu akan setega itu bicara seperti itu sama aku." Viona mulai berkaca-kaca.


"Bukankah kamu yang jahat, karena sudah menarik ulur perasaanku! aku bagimu hanya sekedar boneka, yang bisa kamu mainkan sesuka hatimu." Desah Edwin.


"Win, tolong jangan seperti ini. Apa yang sudah kamu katakan semua itu tidak benar! aku menghargaimu, dan kamu juga sangat berarti bagiku." Ucap Viona yang sudah berlinang air mata.


Namun ucapan Viona bagaikan angin lalu yang terdengar ditelinga Edwin. Apa yang keluar dari mulut Viona hanya bualan semata untuk mengambil simpati nya, Pikir Edwin.


Hari-H yang ditunggu-tunggu pun tiba. Akad pernikahan antara Viona dan Azka akan segera dimulai. Para tamu undangan pun sudah memenuhi gedung pernikahan.


Sejak mendengar kabar kalau Viona akan menikah, Erick malah seperti sengaja mengundur jadwal kepulangannya ke Indonesia. Sepertinya Erick memang tidak ingin menghadiri acara pernikahan adiknya itu.


Keluarga besar Nek Eva turut hadir di-acara pernikahan antara Azka dan Viona tersebut, kecuali Dwi! dia tidak tampak disana. Entah karena Dwi tidak ingin kerepotan jika dia harus menggendong bayi di pernikahan mantan suaminya tersebut, atau dia sedang berbenah diri untuk menerima jika mantan suaminya akan menjadi milik perempuan lain.


Sindi celingukan mencari dimana keberadaan Edwin, namun tak kunjung menemukannya. "Edwin kemana ya? dari tadi aku tidak melihatnya! tidak mungkin jika dia tidak datang di acara pernikahan Azka, sahabatnya." Batinnya.


Kedua mempelai sudah standby di kursi ijab Kabul. Penghulu menyodorkan tangannya, meminta Azka menjabat tangan Pak penghulu untuk melakukan ijab qobul.

__ADS_1


__ADS_2