
dwi duduk bersanding di kursi pelaminan bersama dengan azka. keduanya tampak terlihat canggung. sesekali dwi menoleh dan mencuri-curi pandang kepada laki-laki yang baru saja menikahinya itu. semua para tamu undangan sudah hadir kecuali riko. dwi tidak dapat menemukan keberadaannya hingga acaranya berakhir. setelah resepsi pernikahan selesai, azka langsung memboyong dwi kerumah orangtuanya.
malam hari.
pluukk...
azka melempar bantal tepat di muka dwi, saat dia baru saja memasuki kamar.
"shiitt..." umpatnya. "apa yang kamu lakukan?"
"aku lelah dan ingin beristirahat. kamu tidurlah di sofa." ucap azka.
"apa? kenapa harus aku? kenapa tidak kamu saja?" decah dwi.
"aku sangat lelah! aku tidak ingin berdebat denganmu."
"tapi..." belum selesai bicara, dwi sudah dibuatnya tercengang ketika melihat azka yang sudah tertidur lelap. "aiikhh, cepat sekali tidurnya." gumamnya. dwi pun merebahkan tubuhnya di sofa.
keesokan harinya.
"ini uang yang sudah aku janjikan sebelumnya padamu." ucap azka seraya meletakkan uang itu di ranjang tempat tidur.
"ini tidak sebanding! dalam perjanjian tidak tercatat kalau aku harus tidur di sofa." ucap dwi, kemudian menggeliatkan badannya yang terasa pegal.
"lalu kamu ingin tidur dimana? diranjang bersamaku?"
"bukan seperti itu!" sentaknya.
"lalu?"
"kamu itu kan laki-laki. setidaknya kamu mengalah untuk tidur di sofa. kenapa harus aku?" ucap dwi.
"hanya satu malam saja kok."
"hanya satu malam?" tanya dwi.
"ya. karena sekarang juga kita akan pindah ke apartemen."
"berarti kita hanya akan tinggal berdua saja?" tanya dwi meyakinkan.
azka mengangguk seraya mengangkat kedua alisnya.
"aku tidak mau!" sentaknya.
"kenapa?"
"kamu pasti ingin macam-macam kan? makanya kamu mengajakku untuk tinggal di apartemen mu."
"kamu pikir aku tertarik dengan tubuhmu itu hakh? bahkan untuk melihatnya saja aku tidak berselera." umpat azka.
"apa kamu bilang?"
__ADS_1
"akan ku perjelas! kalau aku sedikitpun sama sekali tidak tertarik kepadamu. paham?" ujarnya seraya menatap tajam kepada dwi.
"lihat saja, aku akan membuatmu menarik ucapanmu kembali." batin dwi.
...apartemen...
"ini kamarmu." ucap azka.
"lalu kamu akan tidur dimana?"
"aku akan tidur dikamar sebelah sana." ucapnya seraya menunjuk.
"kamarmu sepertinya lebih besar."
"jangan banyak protes! ini apartemen milikku. seharusnya kamu bersyukur, masih ku sediakan tempat tidur. karena dalam perjanjian juga tidak tercatat kalau aku harus mengistimewakan mu."
"ya ilah, sombong banget si baru punya apartemen seperti ini saja! kamu lihat ya, aku akan membeli apartemen yang jauh lebih bagus dan besar dari pada apartemen milikmu ini."
"omong kosong! bukannya kemarin-kemarin kamu memohon agar aku mau meminjamkan uang 100 juta kepadamu? lalu bagaimana kamu bisa membeli sebuah apartemen, kalau uang 100 juta saja kamu bahkan tidak memilikinya."
seketika dwi langsung teringat bahwa riko hanya memberinya waktu satu bulan saja untuk segera melunasinya. dia pun memikirkan cara agar bisa segera mendapatkan uang itu.
"azka..." panggilnya dengan nada pelan.
azka menoleh. "jangan menyebut namaku! soal umur, jelas aku lebih tua darimu."
"lalu aku harus memanggilmu apa? om?"
"ribet banget sikh hidupmu." desis dwi.
"to the point saja, apa yang ingin kamu katakan?"
"aku ingin meminta di muka, uang bulanan yang sudah kamu janjikan."
"bukannya tadi sebelum berangkat kesini aku sudah memberikannya."
"iya maksudku selama lima bulan kedepan. aku ingin kamu membayarnya sekarang?" pintanya.
azka menatap dalam wajah perempuan yang baru saja dinikahinya itu.
"kenapa menatapku seperti itu?" tanya dwi.
"aku tidak menyangka kalau kamu se-matre itu ternyata."
"apa kamu bilang?" dwi tampak terkejut mendengar ucapannya.
"matre." azka mengulanginya.
"hekh, aku tidak matre ya." bantah dwi.
"lalu aku harus menyebutmu apa?"
__ADS_1
"aku hanya meminta hakku sebagai istri bohonganmu selama beberapa bulan kedepan. dimana salahnya?"
"jelas itu salah! baru sehari jadi istri bohonganku saja, kamu sudah membuatku merasa muak. apalagi kalau sampai harus berbulan-bulan. bahkan aku tidak yakin, kalau aku bisa bertahan selama itu menjadi suami pura-pura mu." sentaknya.
"aisshh sialan!" umpatnya. "kalau kamu memang merasa tidak akan mampu, lalu kenapa kamu memilihku untuk menjadi istri bohonganmu?"
"itu karena aku tahu, kalau kamu tidak menyukaiku. makanya aku memilihmu agar kedua orang tua ku tidak lagi mendesakku untuk segera mencari pengganti almarhumah istriku. karena sampai kapanpun, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku." azka pergi dari apartemennya dengan raut wajah yang kesal.
"yailah, kenapa jadi dia yang marah sikh?" gerutu dwi.
beberapa hari kemudian.
terdengar suara seseorang memencet bel apartemen azka. dwi bergegas untuk membukanya.
"pak riko..." dwi tampak terkejut. "mau apa kamu datang kesini?"
"aku haus, apa kamu tidak menyuruhku masuk dan memberiku segelas air minum?" ucapnya seraya ingin menyelonong, namun dwi mencegatnya.
"maaf pak, aku tidak bisa membiarkanmu masuk! suamiku sedang tidak ada dirumah." ucap dwi.
"bagus dong kalau suamimu tidak ada disini. berarti aku bisa leluasa." ucapnya lalu mendorong tubuh dwi agar dia tidak menghalangi jalannya.
"hekh apa yang kamu lakukan? cepat pergi dari sini."
riko tak menggubris perkataan dwi. dia duduk di sofa tamu, dan mengangkat satu kaki dengan santainya. riko tampak memperhatikan dwi dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. "bagai mana waktu itu? apa kamu menikmati malam pengantin mu?"
"jangan bicara sembarangan! cepat keluar dari sini, sebelum ada orang yang melihatmu."
"sembarangan? bukankah hal yang wajar kalau sepasang suami istri menghabiskan malam yang indah bersama di malam pertama pernikahannya."
"hentikan ocehanmu itu! aku tidak ingin mendengarnya."
"sikapmu ini semakin memperkuat dugaanku, kalau kalian tidak benar-benar menerima perjodohan ini."
"apa maksudmu?"
"aku sudah menyelidiki semuanya. azka mau menikahimu atas dasar paksaan dari kedua orangtuanya."
"lalu apa maumu?"
"kamu masih bertanya apa mau ku? jelas aku datang kesini karena aku menginginkan mu." ucapnya seraya perlahan mendekati dwi.
"stop! jangan macam-macam. kalau tidak, aku akan berteriak." sentaknya seraya perlahan mundur.
"jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. sama halnya dengan sindi yang awalnya sempat menolakku, tapi lambat laun dia pun menikmatinya. aku yakin, tubuhku ini akan membuatmu candu." ucap riko seraya memegangi dagunya dan ingin menciumnya.
"bukankah aku masih mempunyai waktu beberapa hari lagi? kenapa kamu begitu terburu-buru." ucapan dwi menghentikan aksinya.
riko melepas dagu dwi lalu perlahan menjauh. "baiklah! kali ini aku akan melepaskanmu. tapi kalau kamu merasa tidak sanggup untuk membayar hutangmu, kamu sendiri yang harus datang menemuiku. karena kalau tidak, aku tidak akan segan-segan untuk menjebloskan mu." ucap riko bernada ancaman.
"baik! secepatnya aku akan mengantarkan uang itu kepadamu." ucap dwi.
__ADS_1
mendengar ucapannya riko bergegas keluar dari apartemen.