Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 59


__ADS_3

**


Saat sudah berada diruang kerja Dwi, Sindi menepis tangan Dwi dengan kasarnya. "Lepasin! ngapain sikh kamu tarik-tarik aku seperti ini?" Sindi berdecak kesal.


"Sin, kamu tahu gak, tadi kamu itu sedang berhadapan dengan siapa?" Kali ini Dwi yang terlihat kesal.


"Siapapun dia aku tidak peduli!" Sahut Sindi. "Lihat saja, aku akan temui CEO diperusahaan ini, dan akan memastikan kalau dia akan segera dipecat." Decaknya.


"Siapa yang ingin kamu temui?! karena dia lah CEO sekaligus Owner diperusahaan ini."Jelas Dwi.


"Apa?!" Sindi sangat terkejut mendengar ucapan Dwi.


"Pantas saja Pak Erick menempatkan kamu sebagai OG. Kamu kurang ajar seperti itu kepadanya." Desah Dwi.


"Jadi dia itu CEO sekaligus Owner diperusahaan ini? kamu serius Wi?" Tanya Sindi yang menohok tak percaya.


"Apa wajahku terlihat kurang serius?" Tanya Dwi, dengan raut wajah yang datar.


"Kalau begitu, aku gak jadi deh melamar kerja disini." Sahut Sindi.


"Kok gitu? memangnya kamu belum menandatangani kontrak kerjanya?"


"Ya ampun Wi, masa aku yang cantik dan seksi ini disuruh bersih-bersih dikantor sikh... Yang benar saja!" Ucapnya dengan nada tinggi.


"Itu mungkin karena kamu sudah bersikap tidak sopan sama Pak Erick." Tutur Dwi. "Sudahlah, mending kamu kerjakan saja tugasmu sekarang! setelah mood Pak Erick membaik terhadap kamu, kamu minta maaf sama dia, mungkin dengan begitu Pak Erick bisa menempatkan kamu diposisi yang lebih bagus, mengingat akan prestasi kamu saat bekerja diperusahaan lain." Lanjutnya.


"Tapi Wi?"


"Tadi kamu dengar kan, apa yang dikatakan Pak Erick? kalau mau, kamu terima kerjaan baru kamu sebagai OG. Kalau tidak, kamu disuruh pergi dari sini." Ucap Dwi.


"Ya tapi masa harus jadi OG sikh Wi? kamu gak kasihan apa sama aku?" Rengek Sindi.


"Aku janji, nanti aku akan coba ngomong sama Pak Erick." Tutur Dwi, yang sebenarnya dia juga merasa gak tega jika Sindi dipekerjakan sebagai OG. Padahal sebelumnya Sindi selalu diposisikan sebagai manajer selama bekerja diperusahaan Riko dan juga Robby.

__ADS_1


Sindi tertegun, seraya menyanggakan kedua tangan diwajahnya. Dia pun memikirkan kembali saat memasuki ruang kerja Erick. "Perasaan tadi aku gak kurang ajar sama laki-laki itu! tapi kenapa dia menempatkan aku diposisi ini." Batinnya. Dia tertegun lalu memikirkan kembali saat dia merayu Erick. "Masa sikh dia marah sama aku, hanya karena aku merayunya?" Lanjutnya dalam hati.


"Sindi..." Panggil seseorang kepadanya.


Sindi menoleh.


"Ya ampun! kamu belum mengganti pakaian kamu?!"


"Aku gak suka sama model baju itu! bisa cariin baju yang lain gak?" Tanyanya sedikit manja.


"Baju yang lain? kamu pikir kamu itu siapa bisa seenaknya nyuruh-nyuruh aku? lagi pula aku heran sama Bu Maya! bisa-bisanya dia mempekerjakan perempuan tidak berguna seperti kamu." Cela wanita itu.


"Kurang ajar! siapa yang kamu sebut tidak berguna hakh?!" Sentak Sindi seraya menjambak rambut perempuan itu.


"Aww... Sakit." Rintih perempuan yang terlihat seumuran dengan Sindi itu. "Dasar jalaang! singkirkan tanganmu. Berani sekali kamu menjambakku." Sentaknya.


"Apa kamu bilang?! Beranibya kamu mengataiku seperti itu." Decak Sindi yang tidak terima. Dia pun semakin kuat menjambak rambut perempuan itu.


Tak lama kemudian beberapa OG lain, beserta OB menghampiri untuk melerai perseteruan antara Sindi dan perempuan itu.


"Cukup! kalian kenapa berkelahi si? apa yang kalian ributkan?" Tanya salah seorang OB.


"Dia itu songong! masa dia berani nyuruh-nyuruh aku. Padahal aku itu kan seniornya." Ucap perempuan itu.


"Sudahlah Nin, harap dimaklumi saja! dia itu kan baru disini." Ucap Pria itu.


"Gak bisa begitu dong Don! seharusnya sebagai anak baru, dia itu tahu diri, bukannya malah bersikap songong seperti itu. Pake jambak-jambak rambut aku segala lagi! memang dasar kurang ajar nih l0nte." Maki Nina kepada Sindi.


"Mulut mu benar-benar kaya sampah!" Ujar Sindi seraya ingin menjambak rambut Nina lagi, namun dengan cepat dihalangi oleh Doni.


"Cukup, jangan bertengkar lagi! atau kalian berdua akan mendapat masalah." Decak Doni. Dia pun menoleh kepada Nina. "Nina, sebaiknya kamu pergi, dia biar aku yang urus." Pintanya.


"Hati-hati Don, sama l0nte yang satu ini." Ucap Nina, kemudian pergi.

__ADS_1


"Sialan!" Umpat Sindi, seraya menatap sinis kepergian Nina.


Doni menelisik penampilan Sindi. "Cantik dan seksi." Batinnya.


"Ngapain lihatin aku seperti itu?" Sentak Sindi.


"Kamu tidak mau memakai pakaian itu? kalau kamu mau, aku akan mengambilkan pakaian yang lain untukmu." Ucap Doni.


"Tidak bisakah, aku mengenakan pakaian ini saja saat bekerja?" Tanya Sindi.


"Tentu saja tidak! kamu pasti tidak akan nyaman, jika mengenakan pakaian itu saat membersihkan ruangan para pekerja dikantor ini." Jelas Doni


Sindi menelisik pakaian yang dikenakan oleh pria yang ada dihadapannya. "Kamu OB juga?" Tanya Sindi.


Doni tersenyum kecil. "Iya."


"Kok kamu mau, kerja sebagai OB? padahal kamu itu lumayan tampan loh." Ucap Sindi, sehingga membuat Doni tampak salah tingkah mendengar pujiannya.


Doni tersenyum malu-malu. "Selagi pekerjaan yang aku kerjakan itu halal, kenapa enggak!" Jawabnya.


"Memang iya sikh." Jawab Sindi, membenarkan ucapan Doni. Mereka pun berkenalan.


**


"Sialan! jadi Erick benar-benar membatalkan semua kontrak kerjanya denganku." Decak Riko, seraya mengacak-acak semua isi ruangannya hingga berantakan. "Hanya karena Dwi, dia melakukan ini dan membuatku rugi hingga puluhan miliar. Tidak mungkin Erick suka sama Dwi, karena setahu ku, dia itu laki-laki yang anti dengan yang namanya perempuan." Lanjutnya dalam hati.


"Pak, kita harus mencari inspektor baru untuk melanjutkan pembangunan proyek kita, sebelum kita benar-benar merugi karena harus menghentikan pembangunan proyek tersebut, sebelum rampung." Ucap lelaki setengah baya yang ada dihadapan Riko.


"Aku akan menemui Erick, untuk bernegosiasi dengannya. Dia tidak bisa menghentikan kerjasama secara sepihak seperti ini! karena sama saja dia ingin menghancurkan perusahaan ku." Ujar Riko kepada managernya.


"Jadi, kapan Pak Riko akan menemui Pak Erick?" Tanyanya.


"Secepatnya." Pungkas Riko.

__ADS_1


__ADS_2