Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 81


__ADS_3

Tengah malam. Tepatnya pukul 20:15 Dwi mulai kontraksi sehingga keluarganya segera melarikannya kerumah sakit, yang diantar oleh Sindi. Saat proses persalinan Sindi memberitahu Edwin, sehingga Azka pun ikut datang kerumah sakit tersebut.


"Bagaimana Sin? apa Dwi dan bayinya sudah selamat?" Tanya Azka yang baru saja tiba bersama Edwin.


"Belum." Sindi menggelengkan kepalanya. "Proses persalinannya masih berjalan." Lanjutnya.


Saat Azka ingin masuk, dengan cepat Sindi menghentikannya. "Kamu mau apa?" Tanyanya, seraya menghalangi.


"Aku ingin menemani Dwi didalam." Sahutnya.


"Mana bisa begitu, kalian kan sudah bercerai, jadi kamu tidak boleh masuk." Ujar Sindi.


"Tapi anak yang ada didalam kandungannya itu anak aku." Ujar Azka, yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Dwi dan calon bayinya.


"Tetap saja kamu tidak bisa masuk, karena status kalian sudah bukan suami istri." Ucap Sindi memberi pengertian.


"Tapi aku sangat mencemaskan keadaan Dwi." Tutur Azka.


"Sindi benar! Mas Azka tidak boleh masuk, karena kalian memang sudah bercerai." Sela Edwin.


Tak lama kemudian dokter yang membantu proses persalinan Dwi pun keluar dan segera memberikan kabar baik tersebut kepada semua orang yang menunggu.


"Dok, bagaimana keadaan Ibu dan bayinya? apa mereka baik-baik saja?" Tanya Azka.


"Alhamdulillah Ibunya baik-baik saja, dan bayinya juga sehat." Ujar Dokter. "Besok pagi juga Bu Dwi sudah boleh pulang." Lanjutnya.

__ADS_1


"Terima kasih Dokter." Ucap Azka. Dia pun segera masuk untuk melihat secara langsung keadaan Dwi dan anaknya. Namun, keluarga Dwi tampak bersikap dingin kepada Azka. Bagaimana tidak! pernikahan Azka kini hanya tinggal menghitung beberapa hari lagi.


"Apa aku boleh menggendong anak aku?" Tanya Azka, kepada Dwi yang sedang menggendong bayi yang baru beberapa menit dilahirkannya itu. Pak Mukti sudah mengadzani bayi Azka, karena Pak Mukti pikir, Azka tidak ada dirumah sakit.


"Boleh." Jawab Dwi, diapun memberikan bayinya kepada Azka.


Azka menggendong bayinya penuh kasih sayang. "Welcome sayang. Mulai saat ini Papi janji, kalau Papi akan selalu memprioritaskan kamu dikehidupan Papi." Ucap Azka kepada bayinya. Azka menoleh kepada Dwi. "Bayinya laki-laki atau perempuan?" Tanyanya.


"Perempuan." Jawab Dwi.


"Pantas dia begitu cantik! sama persis seperti Maminya." Papar Azka.


"Beberapa hari lagi kamu akan menikah, aku harap kamu tidak melupakan kewajiban kamu sebagai Ayah terhadap bayi kita." Ucap Dwi.


"Tentu tidak!" Sahut Azka.


"Selamat ya Wi, karena sekarang kamu sudah menjadi seorang Ibu." Ucap Sindi.


"Terima kasih Sin." Sahut Dwi, seraya tersenyum.


Setelah menjenguk Dwi, Edwin pun menawarkan diri untuk mengantar Sindi pulang. Tentu saja Sindi mengiyakan tawaran Edwin tersebut.


Diperjalanan.


"Mbak Dwi sekarang berubah ya! menjadi sosok wanita yang jauh lebih dewasa." Ujar Edwin, memecah keheningan didalam mobil.

__ADS_1


"Bukan hanya itu saja! dia sekarang menjadi wanita yang lebih bijaksana." Sahut Sindi. Sindi terdiam sejenak, lalu kemudian teringat kembali akan ucapan Azka yang mengatakan kalau saat dirinya dijebak oleh Viona, Edwin ada ditempat kejadian. "Oya Win, aku boleh bertanya sesuatu gak?" Tanya Sindi.


"Apa?" Tanya Edwin yang sekilas menoleh, lalu kembali fokus mengemudi mobil.


"Apa benar saat itu Azka dijebak oleh Viona, sehingga kini Viona hamil?" Tanya Sindi, seraya menghadap samping menatap wajah Edwin.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? apa Mas Azka yang menyuruhmu?" Edwin malah balik bertanya.


"Dwi itu sepupu ku! tentu saja aku ingin tahu kejelasan tentang hubungan Azka dengan Viona." Sahutnya.


"Aku tidak tahu apa-apa." Jawab Edwin berbohong.


"Tapi Azka bilang kamu ada disana! pasti kamu tahu sesuatu, tentang apa yang dilakukan Viona kepada Azka." Ujar Sindi, mencari kejujuran Dimata Edwin. "Anak yang dikandung Viona itu pasti bukan anaknya Azka kan?" Tanyanya.


"Menurut kamu, kalau anak yang dikandung Bu Viona bukan anaknya Mas Azka, lalu anaknya siapa? aku?" Ujar Edwin sedikit ketus.


Sindi menohok kemudian tersenyum mendengar jawaban Edwin. "Kok kamu gitu si Win? ini aku nanya serius loh." Sindi tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau aku juga serius gimana?" Lagi-lagi Edwin malah balik bertanya dengan wajah yang datar.


Sindi malah mengulum senyumannya. "Itu gak mungkin! aku gak percaya jika kamu yang menghamili Viona." Sahutnya.


"Kenapa kamu begitu yakin?"


"Karena aku percaya, kalau kamu itu laki-laki yang baik!." Sindi pun tersenyum.

__ADS_1


"Jangan terlalu yakin! atau kamu akan kecewa." Sahut Edwin. Sehingga Membuat Sindi diam, dan mencerna kembali setiap ucapannya. Namun Sindi yakin, kalau Edwin sedang bergurau.


__ADS_2