Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 72


__ADS_3

Satu bulan berlalu. Viona menemui Azka di restoran untuk memberitahukan perihal apa yang pernah dilihatnya saat dirumah sakit. Namun saat melihat Viona Azka malah bersikap dingin dan malah mengusirnya.


"Azka, kamu tidak boleh bersikap seperti ini sama aku, karena aku sayang sama kamu." Tutur Viona.


"Viona, kamu tidak bisa terus-menerus memaksa Azka agar dia mau menerima kamu. Kamu tahu kan, kalau wanita yang dicintai Azka itu Dwi, bukan kamu!" Tegas Bu Asmi.


"Tapi Dwi itu bukan wanita yang baik Tante!" Ujar Viona. "Dia tega membohongi Tante dan Azka, dan mengaku-ngaku kalau anak yang dikandungnya itu anak Azka, padahal bukan!" Tuturnya.


"Jangan sembarangan ngomong kamu! Dwi itu wanita yang baik, dia tidak selicik dirimu." Decah Azka.


"Azka, tolong buka mata kamu. Dwi itu tidak sebaik yang kamu pikirkan! aku punya bukti kok, kalau Dwi itu diam-diam telah menikah siri dengan laki-laki lain." Ujarnya.


"Terserah kamu mau ngomong apa." Desah Azka. "Ma, sebaiknya kita tidak perlu mendengarkan omong kosongnya." Pinta Azka, dia pun mengajak Mamanya untuk meninggalkan Viona. Namun Viona menghalangi jalan Azka.


"Azka please... Kamu boleh mengatakan kalau aku ini omong kosong! tapi aku mohon sama kamu, tolong kamu lihat rekaman video ini." Viona pun langsung memutar dan menunjukkan isi rekaman itu kepada Azka dan juga Mamanya.


"Suami? apa-apaan ini! ternyata diam-diam Dwi sudah menikah. Tapi kenapa Bu Patma tidak pernah berterus terang kepada keluarga kita." Ujar Bu Asmi, terlihat ada kekecewaan diraut diwajahnya.


"Setelah melihat rekaman ini, apa Tante percaya kalau anak yang dikandung Dwi itu anaknya Azka?"


"Diam kamu! jangan pernah berani untuk menghasut Orangtuaku." Sentak Azka.


"Aku sudah memperlihatkan semua bukti yang aku punya. Percaya atau tidak, itu hak kalian!" Ucap Viona, dia pun segera pergi meninggalkan Azka dan Mamanya.


Sepulangnya dari restoran Azka, Viona menemui Edwin di hotel.


"Ada apa?" Ketus Edwin.


"Ini sudah hampir satu bulan, kamu cuekin aku seperti ini! apa kamu tidak kangen sama aku dan calon bayi kita?" Tanya Viona mencoba merayunya.


"Sudahlah Bu. Bu Viona tidak perlu bersikap manis seperti itu! aku tahu, Bu Viona kemari untuk meminta bantuan ku, iya kan?" Tanya Edwin. "Tapi maaf, aku sudah tidak bisa menolongmu lagi." Sinisnya.


"Kamu salah! aku datang kesini bukan untuk itu. Tapi aku ingin menunjukkan kamu rekaman video ini." Viona pun menunjukannya.


"Apa?! Suami? jadi ternyata Mbak Dwi sudah menikah." Edwin terkejut tak percaya.


"Iya. Jadi selama ini dia itu sudah bohongin kita semua." Hasutnya.

__ADS_1


"Tapi, siapa laki-laki ini?" Tanya Edwin.


"Edwin itu adalah orang yang paling aku percaya. Sebaiknya aku jujur saja kepadanya." Batin Viona. "Laki-laki itu adalah Kakak ku." Jawabnya.


"Kakak kamu?"


"Ya. Dia itu Kak Erick! orang yang sering aku ceritakan." Jelas Viona.


"Tapi kok bisa, Kakak kamu menikah sama Mbak Dwi?" Tanyanya.


"Apa aku sedikit ngarang aja ya! agar Edwin mau membantuku meyakinkan Azka, kalau Dwi itu benar-benar sudah menikah dengan Kak Erick. Lagi pula, sebulan terakhir ini nomer Kak Erick tidak pernah aktip." Batinnya.


"Kenapa diam saja? Kakak kamu tidak sekongkol dengan kamu kan, untuk menjatuhkan Dwi." Desah Edwin.


"Jangan sembarangan kamu Win. Orang mereka saling mencintai kok, jadi ngapain Kak Erick berupaya untuk menjatuhkan Dwi. Lagi pula mereka memang benar-benar sudah menikah." Ucap Viona.


"Tapi, kenapa kamu baru bilang sekarang?" Edwin melihat ada kejanggalan.


"Kalau kamu memang gak percaya sama aku, kamu coba datang ke PT. Prima group, dan cari tahu kebenarannya disana. Aku yakin, semua orang pada tahu perihal kedekatan Kak Erick dengan Dwi." Ujar Viona.


"PT. Prima group?! bukankah Sindi juga bekerja disana." Batin Edwin. Akhirnya dia pun bergegas untuk mencari tahu sendiri lewat Sindi.


"Aku hanya ingin tahu tempat dimana kamu bekerja! dan ternyata perusahaannya begitu besar." Edwin menatap dengan kagum, gedung pencakar langit yang ada dihadapannya. "Kamu beruntung bisa kerja disini." Lanjutnya.


Seketika raut wajah Sindi berubah. "Jangan sampai Edwin tahu, kalau aku hanya bekerja sebagai OG diperusahaan ini." Batinnya.


Sindi tidak tahu, kalau sebenarnya Edwin sudah tahu jika dia hanya seorang OG. Karena tadi Edwin sempat menanyakan namanya, namun semua staf dan karyawan menyangkal kalau manager diperusahaan itu bernama Farhan, bukannya Sindi. Dan setelah ditelusuri, ternyata Sindi hanyalah OG.


"Aku dengar Dwi juga bekerja disini." Ujar Edwin.


"Kamu tahu dari mana?"


"Tapi benarkan dia itu bekerja disini?" Edwin meyakinkan.


"Iya sikh, tapi kamu jangan bilang-bilang Azka ya jika Dwi juga memang bekerja disini." Pinta Sindi.


"Memangnya kenapa?" Tanya Edwin.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu alasannya! tapi yang jelas Dwi memintaku untuk tutup mulut soal ini." Sahut Sindi.


"Apa sebegitu takutnya, hubungan Dwi dan Erick itu terungkap. Sampai-sampai Dwi begitu takut jika Azka mengetahui tempat kerjanya." Batin Edwin.


"Aku dengar, pemilik sekaligus pemimpin perusahaan ini h*mo ya?"


"Siapa bilang?" Tanya Sindi.


"Ya soalnya aku dengar, kalau dia itu tidak pernah dekat dengan perempuan manapun. Dan dia itu terkesan dingin terhadap yang namanya wanita." Edwin terus memancing Sindi, untuk mencari tahu.


Sindi memikirkan kembali bagaimana sikap Erick saat pertama kali bertemu dengannya. Dia pun membayangkan ketika dia mencoba merayunya. "Masa sikh dia itu homo? tapi melihat kedekatannya dengan Dwi, sepertinya dia laki-laki yang normal." Batinnya.


"Sindi?" Suara Edwin membuyarkan lamunannya.


"Sikapnya itu memang dingin kalau sama staf yang lain! kecuali sama aku, dia itu sangat menyebalkan." Ucap Sindi seraya memanyunkan bibirnya. Dia malah curhat.


Edwin tersenyum mendengar ucapan Sindi.


"Kok kamu malah senyum?" Tanyanya.


"Kamu manis juga ya." Ucap Edwin secara spontan, sehingga membuat Sindi tampak salah tingkah. "Kalau terhadap Mbak Dwi bagaimana?" Lanjutnya bertanya.


"Kalau terhadap Dwi, Erick itu begitu baik dan peduli padanya." Jawab Sindi.


"Sedekat apa hubungan mereka?" Tanyanya lagi.


"Tunggu! ini kamu kenapa seakan mengintrogasi hubungan antara Dwi dan Erick?" Sindi mulai curiga.


"Erick? kamu panggil atasan kamu sebutan nama?" Tanya Edwin tak percaya.


"Memang iya! emangnya kamu baru ngeh, dari tadi juga kan aku memang menyebut namanya." Sahut Sindi.


"Aku tidak menyangka, bisa mengenal gadis seberani kamu." Ujar Edwin.


"Sindi..." Panggil Nina. Dia pun menghampirinya. Saat ingin memarahi Sindi, tiba-tiba niatnya urung ketika melihat pria tampan yang ada disamping Sindi. "Sin, siapa dia? kenalin aku dong." Bisiknya ditelinga Sindi.


Namun Sindi mendorong tubuh Nina dengan telunjuk tangannya. "Jangan dekat-dekat! aku alergi sama kamu." Ujarnya, sehingga membuat Nina marah.

__ADS_1


"Akh sialan, belagu banget sikh kamu! baru jadi OG juga." Desisnya.


Sindi menohok dan langsung membekap mulut Nina, lalu ijin kepada Edwin untuk segera masuk kedalam kantor.


__ADS_2