Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 68


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Viona mengirim sebuah chat bernada ancaman kepada Edwin, jika Edwin tidak mau membantunya untuk mendapatkan Azka. Maka Viona akan bunuh diri. Makanya Edwin panik, dia pun segera menemui Viona dirumahnya.


"Bu Viona, ini gak lucu! jangan ancam-ancam aku seperti itu." Cercah Edwin, yang merasa sedikit kesal dengan kelakuan anak atasannya itu.


"Itu bukan ancaman Win. tapi peringatan! aku tidak akan segan-segan untuk mengakhiri hidupku jika kamu tidak mau membantuku." Ucap Viona, seraya mengambil pisau yang ada dimeja.


"Bu Viona stop! please, tolong jangan seperti ini." Pinta Edwin.


"Aku telah memberikan semuanya sama kamu. Bahkan aku sudah merelakan tubuh ini untuk kamu nikmati! tapi kenapa kamu tidak mau membantuku Edwin. Kamu jahat!" Ucap Viona, yang berlinang air mata.


"Dengan kita melakukan perbuatan terlarang itu saja, kita sudah berdosa besar! apa lagi sekarang Bu Viona berniat melimpahkan semua kesalahanku kepada Mas Azka! maafkan aku Bu, aku tidak akan sanggup untuk melakukan itu." Ujar Edwin.


Mendengar ucapan Edwin, tanpa ragu Viona pun menyayatkan pisau itu kepergelangan tangannya. "Aah..." Rintihnya menahan sakit, saat darah segar mengucur dari pergelangan tangannya.


"Bu Viona." Edwin langsung merebut paksa pisau itu, lalu melemparnya kesembarang arah. Dengan cepat dia pun membawa Viona kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


Saat mengetahui kalau putri kesayangannya dilarikan kerumah sakit, dengan cepat Pak Bagas menyusulnya. "Bagaimana Win? apa yang sebenarnya terjadi sama Viona." Pak Bagas terlihat sangat panik.


"Viona baik-baik saja Pa." Sahut Viona saat sadar. Dia tidak ingin Edwin mengatakan sesuatu yang menurut Viona, Papa nya itu tidak berhak tahu.


"Apa yang kamu lakukan Viona? kenapa kamu bisa seperti ini?" Tanyanya.


"Maafkan Viona Pa. Viona tadi ceroboh saat mengupas buah yang ada dikamar, tapi untuk aja Edwin datang dan cepat-cepat membawa aku kerumah sakit. Iya kan Win?" Viona menoleh kepada Edwin.


Edwin mengangguk kecil. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, saat mengetahui sifat asli Viona yang begitu nekat.


Pak Bagas tertegun. Dia tahu kalau anak gadisnya itu sedang berbohong! namun dia tidak ingin memperpanjang masalah, mengingat akan kondisi Viona sekarang yang masih belum stabil.


"Oya, Kak Erick mana Pa? apa dia tidak kesini?" Tanya Viona.

__ADS_1


"Sepertinya Kakakmu sedang sibuk." Jawab Pak Bagas berbohong. Padahal dia tadi memang sudah mengajak Erick untuk pergi kerumah sakit sama-sama, namun Erick menolaknya.


Luka di lengan Viona tidak terlalu parah, sehingga Dokter pun tidak menyarankannya untuk dirawat inap. Pak Bagas mengurus biaya administrasi Viona, sebelum kepulangannya.


"Kalau kamu tidak mau membantuku, mungkin besok aku sudah tinggal nama." Ucap Viona, sehingga membuat Edwin harus menghela nafas lalu membuangnya secara kasar.


"Baiklah, aku akan membantu Bu Viona. Tapi aku mohon, jangan pernah melakukan perbuatan bodoh ini lagi, karena aku tidak mau sampai terjadi sesuatu kepada Bu Viona maupun janin yang dikandung Bu Viona. Mengerti!" Tegas Edwin.


"Pelankan suara mu Edwin! aku tidak ingin Papa mendengar tentang kehamilanku ini." Desus Viona. "Sekarang lakukan tugasmu. Aku janji akan memberikan apapun yang kamu mau, setelah kamu berhasil membuat Azka menjadi milikku." Lanjutnya.


**


Sindi menghampiri Dwi diruangannya, untuk mengajaknya makan siang. Setelah itu keduanya berjalan berbarengan meninggalkan perusahaan. Tak lupa, sebelum pergi makan siang Sindi mengganti pakaian OG nya dengan pakaian ala-ala pekerja kantoran.


"Dwi Rindu? salah ketik kayaknya." Gumam Dwi kemudian masuk kedalam restoran.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Sindi kepada Dwi.


Sindi pun memesan makanan sesuai keinginan Dwi dan keinginan dirinya sendiri. Dia pun merogoh ponsel yang ada di tas, dan tampak sedang mengetik sebuah pesan singkat. Tak lama kemudian Azka dan Mamanya datang menghampiri Dwi.


"Mama." Seru Dwi. Dia pun mencium punggung tangan, mantan Mama mertuanya. "Kok Mama bisa ada disini? emm, maksudku Mama disini juga." Dwi meralat ucapannya.


Bu Asmi tersenyum. "Perut kamu semakin membesar, tolong jaga baik-baik calon cucu Mama." Ucapnya, seraya mengelus lembut perut Dwi. Dwi pun tersenyum.


"Apa aku juga boleh mengelus-elus calon anakku?" Tanya Azka tiba-tiba.


Dwi tertegun sejenak, lalu kemudian mengindahkan keinginan Azka untuk mengelus perutnya. Azka tersenyum bahagia saat merasakan getaran dari perut Dwi.


"Anak Papa baik-baik ya didalam sana! kalian berdua harus sehat. Papa janji, setelah kamu lahir nanti, Papa akan membujuk Mama agar dia mau kembali tinggal bersama Papa." Ucap Azka.


Dwi menohok mendengar ucapan Azka. Ternyata Azka tidak pantang menyerah untuk mendapatkan hatinya kembali.

__ADS_1


"Kasihan si Azka! sepertinya dia memang benar-benar menginginkan Dwi untuk kembali masuk di kehidupannya." Batin Sindi merasa iba.


"Dwi, apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Azka.


"Tidak sekarang! soalnya aku sudah lapar." Sahut Dwi. Seketika Azka langsung tersenyum mendengar jawaban Dwi.


"Oke, kamu makan saja dulu. Selesai makan kita akan bicara lagi." Ucap Azka yang hendak pergi, namun dihentikan oleh ucapan Sindi.


"Azka, tapi kita gratis kan makan disini? soalnya yang ada didalam perut Dwi kan anak kamu, masa kamu nyuruh anak kamu untuk bayar." Tutur Sindi.


Azka tersenyum. "Kalian boleh memesan makanan apapun yang kalian mau. Dan kalian tidak perlu membayarnya." Ucap Azka, kemudian pergi.


"Dasar tidak tahu malu! ngapain kamu pake ngomong seperti itu segala?" Desis Dwi.


"Ya udahlah Wi! kayak kamu yang punya rasa malu saja." Desus Sindi.


"Aishh..." Umpat Dwi.


"Eiittt... Kamu lupa ya, kalau uang gaji aku sudah kamu potong 50%?" Tanyanya. "Jadi wajar dong jika sekarang aku minta gratisan! soalnya uangku sudah sangat menipis." Lanjut Sindi.


Setelah selesai makan Dwi pun memberikan Azka waktu untuk berbicara dengannya.


"Ini untukmu, tolong diterima." Pinta Azka, seraya memberikan segepok uang kepada Dwi.


"Kenapa kamu memberikan aku uang? apa kehidupan ku sekarang terlihat sangat menyedihkan?"


"Bukan begitu! tolong jangan salah paham dulu." Ujar Azka. "Aku hanya ingin memastikan kalau kebutuhan kamu dan calon anak kita itu tercukupi. Dan kalau boleh aku ngasih saran, sebaiknya kamu risign dari kantor dan fokuslah pada kehamilan kamu." Pinta Azka.


"Maaf, aku tidak bisa menuruti permintaan kamu. Aku masih ingin bekerja di PT. Prima group." Sahut Dwi.


"Tolong pikirkan lagi permintaan ku ini, aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua! untuk kamu, dan juga anak kita." Jelas Azka.

__ADS_1


"Setelah kehamilan ku semakin membesar, aku pasti akan risign tanpa kamu suruh sekalipun. Dan kamu tidak perlu khawatir, karena aku pasti akan menjaga calon anak kita dengan baik." Pungkas Dwi.


__ADS_2