Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
sakit.


__ADS_3

dwi hendak masuk kedalam toilet wanita, namun niatnya urung saat melihat beberapa wanita sedang bersolek diri di cermin yang tersedia didalamnya. saat melewati toilet pria yang tampak kosong, dia pun masuk kedalam.


"apa yang harus aku lakukan? haruskah aku menemani pak riko minum? tapi bagaimana kalau aku mabuk dan tidak bisa mengendalikan diri seperti malam sebelumnya." gumamnya, dia menoleh kearah cermin yang ada di depannya. dwi menyalakan keran air seketika dia tertegun dan mendapatkan ide untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkannya. "aku punya ide." gumamnya. dia pun membuang isi botol yang ada di tangannya, lalu menukarkannya dengan air keran.


tampa sepengetahuan dwi ternyata seseorang sedang memperhatikannya dari balik pintu. "cewek aneh! apa yang sedang dia lakukan." gumamnya, lalu kemudian memicingkan senyumannya.


botol sudah terisi penuh, ini saatnya untuk dwi mulai memainkan sandiwara nya. dia memutar badannya dan hendak keluar, namun tiba-tiba dia di kejutkan dengan kehadiran azka yang sedang berdiri tepat di depannya.


"haaakh!" dwi mengelus-elus dadanya. "apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanyanya yang tampak terkejut.


"seharusnya aku yang bertanya? ini toilet cowok! untuk apa kamu disini?" tanya azka dengan tatapan dinginnya.


"aku..., em, aku salah masuk toilet." ucapnya spontan. "sorry aku mau lewat."


azka pun bergeser agar dwi bisa melewatinya.


"dwi kenapa kamu lama sekali?" tanya riko.


"maaf, tadi toiletnya penuh." ucapnya berbohong. dia pun kembali duduk di samping riko.


"botolmu masih utuh, apa kamu tidak meminumnya?"


"em ya, aku akan segera meminumnya." dwi pun menenggaknya. "mati aku! mudah-mudahan air keran ini tidak menggangu pencernaanku." batinnya.


dari kejauhan azka rupanya memperhatikan tingkah dwi. azka tercengang saat melihatnya meminum minuman di botol itu, yang jelas-jelas sudah dia ganti dengan air keran.


beberapa menit kemudian, dwi merasakan sesuatu yang tidak nyaman di perutnya. "akhh..." rintihnya.


"kamu kenapa?"


"em, perutku sedikit sakit."


"apa kamu ingin ke dokter? aku bisa mengantarmu."


"tidak perlu! aku ingin pulang saja."


"aku akan mengantarkanmu." ujar riko.


dwi hanya mengangguk kecil.


**


keesokan paginya...


nenek masuk kedalam kamar dwi, lalu membukakan gorden jendelanya. perlahan dwi membuka mata karena merasa silau saat cahaya dari pantulan jendela masuk kedalam kamarnya.


"kamu sudah bangun?"


"sudah nek." jawabnya dengan suara serak has bangun tidur.


"kenapa kamu belum bersiap-siap?"


"perutku sakit nek, hari ini aku ijin untuk tidak bekerja."

__ADS_1


"ya sudah kalau begitu ayo kita sarapan, setelah itu kamu minum obat biar sakitnya tidak berkepanjangan."


"iya nek." dwi mengekori neneknya dari belakang.


setelah selesai makan dwi langsung minum obat dan kembali ke kamarnya. tak lama kemudian sindi datang dan menanyakan keadaannya.


"aku dengar kamu sakit?" tanyanya secara langsung.


"hm ya."


"apa benar riko yang mengantarkanmu pulang." tanyanya.


"ya, ku harap kamu tidak marah." ujar dwi.


"sebenarnya aku ingin sekali menjambak rambutmu! tapi mengingat saat ini kamu sedang sakit, maka aku akan melakukannya nanti."


seketika dwi tercengang mendengar ucapannya.


"kemarin riko tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan? selama aku tidak ada?" tanya sindi penuh harap.


dwi tertegun mendengar pertanyaan dari sindi, dia bingung harus menjawab apa. "sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu? apa kemarin pak riko dalam pengaruh alkohol atau tidak? haruskah aku memberi tahunya kalau semalam pak riko merayuku?" batinnya.


"hei, kok malah bengong sikh?"


"em, sepertinya tidak!"


"benarkah?" sindi antusias. "aku memang wanita yang paling beruntung, karena telah dicintai laki-laki seperti riko." ucapnya seraya menatap kearah langit-langit.


"ya, aku akan berangkat sebentar lagi."


"aku ingin bertanya sesuatu?"


"ya silahkan... satu pertanyaan satu porsi makanan seafood." ucap sindi.


"aku serius..." ujar dwi.


"soal makanan aku tidak pernah bohong." ucap sindi tidak mau kalah.


"hakh." dwi mendengus kesal. "apa kamu sudah lama mengenal Riko?" tanyanya.


"tentu saja! aku sudah lama mengenalnya, jauh sebelum kamu." ucap sindi. yang lagi-lagi membuat dwi mendengus kesal, karena dwi merasa kalau sindi tidak serius menjawab pertanyaan.


"keluarlah! kehadiranmu disini malah semakin membuat perutku menjadi terasa sakit." ucap dwi.


"sialan!" decahnya. "oya, apa kamu sudah minum obat?" sindi mulai perhatian. "kalau kamu mau, aku akan mengantarmu pergi kedokter."


"tidak perlu! aku sudah meminum obat, aku hanya perlu beristirahat agar keadaanku bisa cepat membaik." ujar dwi.


"baiklah, beristirahatlah yang cukup." sindi pun keluar dari kamarnya.


**


...kediaman keluarga taksa....

__ADS_1


"ini sudah dua tahun lamanya sejak istrimu meninggal. apa kamu belum berniat untuk memiliki seorang pendamping lagi?" tanya seorang laki-laki parubaya kepada putra tunggalnya, di sela-sela makannya.


"aku belum kepikiran kesana pa."


"mengapa? bukankah seharusnya kamu mulai belajar membuka hati untuk wanita lain, bukannya larut dalam kesendirian."


"maaf pa. sepertinya aku tidak bisa mencintai wanita lain, selain nadia."


"tapi nadia sudah meninggal! kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini. kamu masih muda, dan perjalananmu masih panjang."


Azka tertegun mendengar ucapan dari papanya.


"sudahlah pa. seperti apa yang tadi sudah papa bilang, kalau azka itu masih muda, perjalanannya masih panjang. kita tidak perlu memaksanya untuk terburu-buru menikah lagi." ucap mamanya.


"ya sudah, terserah kalian saja." papanya kini mengalah. "hari ini papa ingin pergi berkunjung ke rumah teman masa kecil papa. apa mama mau ikut?"


"tidak pa, mama di rumah saja."


**


"bagai mana keadaan dwi?" tanya riko di sela-sela makannya.


"keadaannya sudah membaik. sepertinya kamu sangat mengkhawatirkannya?" tanya sindi.


"bukan seperti itu! aku hanya takut terjadi sesuatu yang buruk padanya. karena semalam dia tampak sangat kesakitan." ucap riko.


"aku pikir semalam kamu langsung pulang setelah mengantarkanku."


"handphone ku ketinggalan di club, jadi aku kembali lagi untuk mengambilnya." ucapnya tengah berbohong.


"apa handphone nya ketemu?"


"iya, untung saja handphone nya masih ada."


"sayang kapan kamu akan menikahiku?" tanya sindi.


"kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu? bukankah kita sudah sepakat untuk menikmati masa-masa pacaran dulu, dan tidak ingin terburu-buru untuk menikah." ucap riko.


"awalnya ku pikir memang seperti itu! tapi setelah aku pikir-pikir kembali, aku ingin secepatnya memilikimu seutuhnya." ucap sindi.


"bukankah jiwa dan ragaku ini, sudah ku persembahkan kepadamu seutuhnya. lalu apa lagi yang kamu takutkan?" ucap riko.


kriing... kriiing....


sindi mengambil handphone yang ada di dalam tasnya, lalu mengecek nama si pemanggil.


"siapa?" tanya riko.


"mama."


"ya sudah kamu angkat saja." titah riko.


sindi menurutinya, dia pun ijin untuk pergi ke toilet.

__ADS_1


__ADS_2