
kriing...
dengan bermalas-malasan dwi mencoba meraih handphone nya yang ada di atas nakas. diapun mengangkatnya.
"halo..."
"halo wi, ini ibu."
"iya bu, ada apa?"
"minggu depan kamu bisa pulang kan?"
"memangnya ada apa bu?"
"tidak ada apa-apa, ibu hanya kangen saja."
"aneh, tumben ibu bersikap manis sekali. biasanya ibu marah-marah, apa lagi kalau aku lama mengangkat telponnya." gumam dwi setelah sambungannya terputus.
bruagkk...
sindi membuka pintu dengan keras.
"aishh sialan! kamu mengagetkan ku." ucap dwi.
"kenapa pagi-pagi sudah bengong?"
"minggu depan aku akan pulang." ucap dwi, seraya berdiri lalu merapikan tempat tidurnya.
"sungguh?"
"hmm." gumamnya.
"bukankah tante patma sudah mengijinkan mu untuk menetap disini?"
"iya, ibu memang telah mengijinkanku."
"lalu untuk apa dia meminta mu pulang?" tanya sindi yang makin penasaran.
"tanyakan saja, sama rumput yang bergoyang." ucap dwi secara spontan.
"aishh, sialan. orang aku serius." sindi melempar wajah dwi dengan bantal.
......................
sindi memasuki ruangan dwi, dia sedikit heran saat melihat dwi menelungkupkan wajahnya di kungkungannya.
"dwi..."
"hmm..." dwi mengangkat kepala menatap kearah sindi.
"wajahmu tampak pucat. apa kamu sakit?" tanya sindi.
"kepalaku sedikit pusing."
"kalau begitu aku akan mengantarmu pulang."
"tidak perlu!" tolak dwi. aku beristirahat sebentar tidak apa-apa kan?"
"kalau begitu jangan disini! karena karyawan yang lain pasti akan melihatnya. kamu bisa di tegur." ucap sindi. "kamu ikut aku." pinta sindi. dwi pun mengekorinya. dan seperti biasa sindi mengajaknya ke kamar khusus.
"kamu diam disini, aku akan membelikan obat untukmu." ucap sindi sebelum pergi.
__ADS_1
dwi langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. lalu kemudian dia pun tertidur.
beberapa menit kemudian riko masuk, dan menghampiri dwi yang sedang berbaring di ranjang dalam keadaan tidur.
"dia lagi! sepertinya dia memang sengaja menggodaku." gumamnya, dia pun merebahkan tubuhnya di samping dwi, lalu memandangi tubuhnya dari atas sampai bawah.
riko teringat kembali akan kejadian dimana saat dirinya tidak sengaja memeluk dwi. rasanya begitu hangat dan memabukan.
"kamu itu memang gadis yang sedikit aneh. tapi tidak bisa di pungkiri kalau kamu itu memang cantik." gumam riko, diapun mengelus pipi dwi dengan lembutnya.
perlahan dwi membuka mata.dan betapa terkejutnya dia saat mendapati riko yang sedang menatapnya. "pak riko..." teriaknya, dia pun beranjak dari tidurnya.
"maaf pak, tadi sindi yang menyuruhku untuk beristirahat disini." ucap dwi yang terlihat gugup.
"tidak apa-apa. aku senang melihatmu di kamar ini." ucapnya, seraya mendekati dwi. dwi perlahan mundur, hingga tubuhnya kini menempel di dinding tembok. riko tersenyum, karna dwi sudah tidak bisa menjauhinya.
"kamu tidak perlu takut! aku tidak akan menyakitimu." ucap riko, seraya menengadahkan wajah dwi dan mengunci pandangannya. riko hendak menciumnya, namun dengan cepat dwi mendorong tubuhnya, lalu menendang titik kelemahannya.
"aaa..." teriaknya seraya memegangi anu nya. π€βοΈπ
"jangan kurang ajar! jangan mentang-mentang kamu itu atasan ku, terus kamu bisa berbuat seenaknya kepadaku." sentak dwi, diapun keluar dari kamar itu dengan terus menggerutu.
"sialan! berarti malam itu dia memang tidak mabuk. dia sengaja merayuku." gerutunya, sehingga membuat karyawan lain yang ada disana menatap heran kepadanya.
dwi kembali duduk di meja kerjanya. dia terus mengutuk perbuatan riko terhadapnya. "sial! bisa-bisanya dia ingin melecehkan ku, memangnya dia pikir aku ini cewek apaan." ucapnya mendengus kesal.
"dwi. disini kamu rupanya." ucap sindi yang tiba-tiba masuk. "ini obatnya."
"terima kasih sin."
sindi mengangguk. dia mengamati raut wajah dwi yang tampak kusut. "kamu kenapa?" tanyanya.
dwi diam saja, tak merespon.
"tidak apa-apa sin, aku baik-baik saja." ucap dwi.
"ya sudah, kalau ada apa-apa kamu kasih tahu aku ya?"
dwi mengangguk kecil.
**
azka baru saja memasuki rumahnya, yang sudah di sambut oleh mamanya.
"azka kita langsung makan malam yuk? papa sudah menunggumu di meja makan." ajak bu asmi.
"mama dan papa duluan saja! nanti aku akan menyusul." ujarnya.
*
"azka."
azka menoleh kepada papanya.
"minggu depan tolong anterin papa ke kota B ya." pinta pak ardi.
"mau apa pa? setahuku kita tidak punya sodara disana." ucap azka datar.
"kamu masih ingat kan sama om mukti dan tante patma?"
sekilas azka tertegun, namun tak merespon.
__ADS_1
"itu loh ka, orang yang tempo hari datang ke acara pernikahan mu." lanjut papanya.
samar-samar azka mengingatnya. "memangnya kenapa pa?"
"papa ingin mengajakmu main ke rumahnya."
"tidak bisa pa! aku sangat sibuk." tolaknya.
"tidak bisakah kamu mengambil cuti sehari saja?" pinta pak ardi.
"tidak pa."
"kalau begitu, kita bisa pergi kerumah pak mukti pada malam hari."
"tapi pa..."
"tidak ada tapi-tapian" tegas papanya.
azka meletakkan sendok dan garpu yang ada ditangannya. diapun berdiri dari duduknya.
"azka, kamu mau kemana?" tanya mamanya.
"selera makan ku sudah hilang ma." ucap azka sebelum pergi, dia pun menaiki anak tangga dengan setengah berlari.
"sebenarnya ada apa ini pa? kenapa papa memaksa azka untuk mengantar papa ke kota B?" tanya bu asmi.
"papa ingin mengenalkannya kepada seseorang."
"siapa? kenapa sebelumnya papa tidak pernah membicarakan ini sama mama?" bu asmi terlihat sedikit kecewa.
"maafkan papa ma, tadinya papa juga ingin memberitahu mama, cuma papa menunggu waktu yang tepat."
**
...^^^*club malam*^^^...
setelah memasuki club, dwi langsung memesan botol minuman lalu pergi ke toilet. "sial! kenapa aku harus candu datang ketempat ini." desisnya. diapun mengeluarkan botol air mineral dari dalam tasnya, lalu menukar isi minumannya. "biarpun aku ini cewek nakal, tapi aku harus menjaga kehormatanku. aku gak boleh terpengaruh oleh minum-minuman ini, karena di tempat ini seseorang bisa saja menodai kesucianku." gumamnya. dia pun keluar dari toilet untuk mencari sindi.
jep.. ajep-ajep
"jangan minum terlalu banyak, kamu bisa hilang kesadaranmu." ucap geri seraya merebut botol minuman azka.
"balikin." azka merebutnya kembali.
"ada apa denganmu? tidak biasanya kamu seperti ini." tanya geri menatap heran.
"minggu depan papa memaksaku untuk ikut dengannya."
"kemana?"
"kota B."
"mau apa?"
"sepertinya papa ingin memperkenalkanku pada seseorang, seperti apa yang sudah papa lakukan sebelum aku menikah dengan nadia." ucap azka menduga-duga.
"lalu apa masalahnya?" tanya geri.
azka menatap sinis kearahnya. "tentu saja ini masalah besar untukku." ucapnya.
"apa karena kamu belum bisa melupakan nadia?" tanya geri.
__ADS_1
"bukan belum! tapi sepertinya aku memang tidak akan bisa melupakannya." ucap azka.
nadia adalah cinta pertama azka. keduanya menjalin hubungan sejak duduk di bangku SMA. hingga dua tahun yang lalu akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. namun nahas, setelah satu bulan menjalani bahtera rumah tangga, azka terpaksa harus rela melepaskan kepergian nadia untuk selamanya, akibat kecelakaan lalu lintas yang di alaminya sehingga merenggut nyawa nadia.