
Dua hari kemudian. Keadaan Sindi jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia berjalan keluar dari kamarnya. "Pagi semuanya." Sapa Sindi, lalu duduk disamping Dwi untuk sarapan bersama-sama.
"Sebenarnya sedekat apa hubungan kamu dengan Edwin? bukankah kamu bilang, kalau kalian hanya sebatas teman! lalu kenapa kamu begitu sedih saat mengetahui Edwin menikahi wanita lain." Tanya Nek Eva.
"Nenek sudah tua! jadi Nenek tidak akan mengerti." Decak Sindi.
"Sindi, yang sopan kalau bicara sama orang tua." Tegur Pak Mukti kepada keponakannya.
"Kamu baru ditinggal nikah sama teman saja, sudah bersedih setengah mati. Kamu lihat Dwi dan contohlah dia! sekeras dan seberat apapun cobaan hidup yang dia jalani, dia masih kuat menghadapinya." Cetus Bu Patma.
Sindi pun menoleh kearah Dwi yang tampak kerepotan karena harus sarapan sambil momong anak. Akhirnya, dia pun berinisiatif untuk menggendongnya. "Sini Wi, baby Wika biar aku bawa masuk kekamar."
"Memangnya kamu sudah selesai makan?" tanya Dwi.
"Sudah." Sahutnya.
Dwi pun memberikan bayinya kepada Sindi. "Hati-hati ya Sin, Kamu jangan ingat-ingat Edwin pas lagi gendong bayi aku, ntar bisa-bisa bayi aku kamu banting, lagi."
"Enggak lah! kamu gila ya, bisa berpikiran seperti itu." Sentak Sindi kepada Dwi.
Setelah selesai sarapan, Dwi pergi menyusul Sindi dikamarnya. Dwi pun berdiri melihat Sindi yang terlihat begitu menyayangi putri kecilnya. Sindi pun menyadari kehadirannya.
"Kamu Wi, aku pikir siapa." Tutur Sindi. Dia pun mendekati Dwi. "Wi, lihat deh, anak kamu lucu banget kalau tidur sambil menggeliat begini."
Dwi tersenyum."Sudah tidur, kenapa tidak kamu baringkan?"
"Aku masih kangen sama baby Wika." Sahutnya.
"Iya lah, udah dua hari kamu gak gendong baby Wika gara-gara kesedihanmu." Tutur Dwi.
"Wi, kamu nikah lagi gih... Terus bikin anak lagi! baby Wika biar aku yang urus." Ucap Sindi dengan entengnya, sehingga membuat Dwi marah kemudian menoyor jidatnya.
"Sembarangan kalau ngomong! kamu pikir bikin anak itu gampang. Terlebih aku juga kan gak punya suami." Sinis Dwi.
__ADS_1
"Kamu kan sudah jelas ditungguin Azka! nah aku? siapa coba laki-laki yang mau menikahi aku." Desis Sindi.
"Tetap saja, semuanya gak semudah yang kamu pikirkan." Gerutu Dwi.
"Sebenarnya semua itu mudah kali! kamu saja yang mempersulit." Desis Sindi.
"Sudah akh! malas debat sama kamu." Ketus Dwi.
Sindi terdiam sejenak. "Tapi yang dikatakan Tante Patma itu ada benarnya." Tutur Sindi. "Nyatanya kamu memang lebih kuat dari pada aku." Lanjutnya.
"Aku bisa se-tegar ini juga karena anakku!" Sahut Dwi. "Aku harus tetap kuat dan sabar menanggung setiap cobaan, karena aku memiliki baby Wika yang masih sangat membutuhkan perhatianku." Lanjutnya.
"Kamu benar!" Ujar Sindi. "Aku juga ingin sekali memiliki seorang anak, agar bisa membuat hidupku menjadi lebih berwarna." Lanjut Sindi.
"Kalau kamu mau, kamu bisa menantuku untuk menjaga baby Wika." Ucap Dwi.
"Boleh! sebulan tiga juta ya..." Celotehnya, sehingga membuat keduanya tertawa.
"Mau apa kamu kesini?" Ketus Azka kepada Edwin.
"Aku tidak akan pernah bosen untuk meminta maaf kepada Mas Azka, karena aku sadar akan kesalahanku." Lirih Edwin.
"Kamu tahu kan, sebelum Viona datang kepada Dwi dan mengaku-ngaku hamil anakku, saat itu keadaan aku dan Dwi baik-baik saja! Dwi bahkan sudah hampir menerima aku lagi untuk menjadi suaminya. Hingga sesaat kemudian Viona datang dan menghancurkan semuanya." Sungut Azka.
"Aku tahu! maka dari itu aku sengaja datang kesini untuk membantumu kembali berbaikan dengan Dwi." Tutur Edwin. "Aku akan menemui Dwi dan menjelaskan semuanya! sekalian, aku juga ingin bertemu dengan Sindi untuk meminta maaf." Lanjutnya.
"Lakukan dan pergilah! dan ingat, jangan pernah datang kesini lagi jika rencana mu untuk menyatukan aku dengan Dwi gagal." Cercah Azka.
Edwin pun pergi.
"Azka, menurut Mama kamu tidak perlu bersikap seperti itu pada Edwin! kamu harus bisa memahami posisinya saat itu. Biarpun ada yang harus disalahkan, orang itu adalah Viona. Karena dia yang sudah mengancam Edwin untuk tidak memberi tahu kita semua." Ucap Bu Asmi, memberi pengertian kepada putranya.
Edwin langsung datang kerumah Nek Eva. Karena hari sudah siang, sebagian dari penghuni dirumah itu masing-masing sudah mengerjakan aktivitas masing-masing. Pak Mukti mengajar, Bu Patma pergi ke warteg, Nek Eva pergi belanja bulanan, sementara adik-adik Dwi pada sekolah. Karena semenjak Dwi hamil, keluarga Pak Mukti memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama Nek Eva.
__ADS_1
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Sindi begitu sinis.
"Aku ingin bertemu denganmu, dan ingin meminta maaf." Jawab Edwin.
"Aku sudah tidak ingin melihat wajahmu lagi! jadi aku minta, sekarang kamu pergi dari sini." Usir Sindi.
"Aku mohon, tolong dengarkan penjelasan aku dulu? aku tidak bermaksud untuk menyakitimu."
Sindi mengangkat tangan, pertanda kalau dia sudah tidak ingin mendengarkan apapun lagi dari mulut Edwin. Sindi pun pergi dari rumah Nek Eva.
Dwi yang melihat itupun menyuruh Edwin untuk mengejarnya.
"Sepertinya dia perlu waktu, untuk bisa memaafkan semua kesalahanku." Ujar Edwin. "Mbak Dwi, apa kita bisa bicara?" Tanya Edwin.
Dwi pun mengangguk. "Bisa!"
"Apa Mbak Dwi masih marah kepada Mas Azka?" Tanyanya.
"Aku tidak marah, hanya belum siap saja untuk kembali membangun rumah tangga." Sahut Dwi.
"Memangnya kenapa?" Tanyanya. "Maaf, karena sepertinya Mbak Dwi masih mencintai Mas Azka." Ujar Edwin.
"Win, bisa gak, kamu itu gak usah panggil aku Mbak? usia aku lebih muda dari kamu. Dan lagi pula, aku juga sudah bukan istrinya Azka lagi! terlebih Azka juga sudah bukan atasan mu lagi."
"Tetap saja, aku masih sangat menghargai kalian." Sahut Edwin.
"Dari sekarang, sebaiknya kamu panggil aku nama saja ya." Pinta Dwi kepada Edwin.
"Baik Mbak. Emm, maksudku Dwi." Edwin meralatnya.
"Kalau boleh aku tahu, kenapa Viona bisa berubah pikiran untuk menikah dengan Azka?" Tanya Dwi.
Edwin pun menceritakan semuanya.
__ADS_1