
geri berjalan dan di ikuti oleh azka dari belakangnya. azka tidak habis pikir, kenapa geri ingin membawa gadis itu untuk pulang kerumahnya.
"stop!" ucap geri yang secara tiba-tiba.
"ada apa?" tanya azka.
"gawat! cewekku datang." dengan cepat geri pun memberikan dwi kepada azka. "cewek ini, kamu yang urus ya?" ucap geri, dia pun segera menghampiri pacarnya yang sudah hampir mendekat.
"kenapa jadi aku yang harus mengurusnya? geri, geri..." teriaknya, namun geri tidak memperdulikannya. "sialan! awas saja kamu ger." gumamnya.
azka menoleh kearah dwi yang sedang bersandar di pundaknya. "dia masih belum sadar juga." azka pun akhirnya membawa dwi ke hotelnya.
"tolong siapkan kamar untuknya." ucap azka kepada resepsionis.
"baik pak. ini kuncinya."
"siapa wanita itu? apa dia pacarnya pak azka?" tanya salah seorang yang bekerja di hotel itu.
"mungkin saja."
"beruntung sekali wanita itu."
...ceklek......
setelah pintu terbuka, azka langsung merebahkan tubuh dwi di ranjang. namun saat dia ingin berdiri, dwi langsung mendekapnya. "jangan pergi! jangan tinggalkan aku, aku takut." ucap dwi namun masih menutup kedua matanya.
azka tercengang. dia pun menatap wajah dwi dan memandangi lekuk tubuhnya. perlahan dwi membuka kedua bola matanya, dia menatap lekat laki-laki yang ada di hadapannya. "tampan sekali." gumamnya. perlahan dwi mendekatkan wajahnya kepada azka, namun kemudian...
"oakkk..." tampa sengaja dwi telah memuntahi kemeja yang di kenakan azka.
"sialan! dasar cewek tidak berguna." maki azka saat melihat kemejanya yang kotor akibat terkena muntahan dari dwi. dia segera beranjak dari tempat tidur, lalu masuk kedalam kamar mandi.
beberapa menit kemudian azka keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. dia menoleh kearah dwi yang tampak sudah tertidur pulas. dia mengambil handphone dari saku celananya.
"tolong ambilkan pakaianku di ruanganku, dan bawa ke kamar nomor 123." ucap azka kepada seseorang di balik sambungan telepon.
tok tok tok.
saat mendengar suara pintu kamar di ketuk, azka langsung membukanya.
seketika pelayan wanita yang bekerja di hotel itu terpukau, saat melihat tubuh azka yang six pack terekspos di hadapannya.
"ekhmm..."
"emm ma, maaf pak, saya ingin mengantarkan pakaian yang bapak minta." ucapnya terbata-bata.
"terima kasih." azka langsung menyambar pakaiannya, kemudian kembali masuk.
"entah apa yang sedang mereka lakukan di dalam? membayangkannya saja itu sudah membuatku merasa sakit." batinnya.
keesokan harinya.
__ADS_1
dwi beranjak dari tempat tidur dengan tergesa-gesa. setelah membersihkan badannya dia langsung berangkat ke kantor.
"dwi..." panggil sindi. "kemana saja kamu? dari semalam aku mencarimu."
"aku, aku..." dwi menggantung ucapannya karna dia sendiri juga tidak ingat, apa yang telah terjadi kepadanya semalam.
"ya sudah, ayo ikut aku..." sindi menarik tangannya, lalu membawa dwi keruangan khusus. dia tak perduli walaupun riko telah melarangnya membawa orang lain masuk kedalam kamar itu apapun alasannya.
"ganti pakaianmu. baju mu bau alkohol." titah sindi.
"tidak bisa! aku harus segera bekerja." ucap dwi.
"disini aku ini atasanmu, turuti saja perintahku." ucap sindi lalu mendorong tubuh dwi agar masuk kedalam kamar mandi.
sindi pun duduk di tepi ranjang. tak lama kemudian riko datang dan langsung memeluknya. "disini kamu rupanya." ucapnya seraya menggosok-gosokan hidungnya di leher sindi.
"sin, ada baju yang lain gak? baju ini menurutku terlalu ter..." ucapannya menggantung di tenggorokan saat menyadari kehadiran riko di kamar itu. dwi membalik badan membelakangi sepupu dan atasannya. "maaf, aku tidak bermaksud untuk mengganggu kalian." ucap dwi yang tidak sengaja melihat mereka saat berciuman.
riko mendengus kesal. "keluarlah."
dwi pun menuruti perintahnya. "kini aku mengerti kenapa pak riko menyiapkan kamar ini di ruang kerja Sindi." batinnya seraya bergegas pergi.
**
"dwi kamu sudah pulang."
"sudah nek." jawab dwi dengan lesu.
"semalam kamu menginap di apartemen sindi? kenapa gak bilang dulu sama nenek."
"nenek senang, melihat kalian yang sudah mulai akur." ucap nenek.
"hubungan kami tidak sebaik yang nenek kira." batinnya.
"maaf nek, aku lelah dan mau beristirahat." ujar dwi.
"ya, beristirahatlah."
di kamarnya dwi tampak termenung, memikirkan kembali apa yang telah terjadi semalam. "akh sial! sama sekali aku tidak ingat apa-apa." decahnya.
......club malam......
jep ajep-ajep. ajep-ajep...
geri tampak menikmati hentakan musik yang bergema di gendang telinganya.
"yuhu..." geri berjoged menggeleng-gelengkan kepalanya. sesekali dia menepuk pantat wanita yang berjalan melewatinya. tak lama kemudian seorang wanita cantik dan seksi datang kepada azka untuk menggodanya.
"mas, apa kamu membutuhkan teman hanya untuk sekedar minum?" bisik lembut wanita itu di telinga azka.
"tidak!"
__ADS_1
"lebih dari sekedar menemanimu minum juga tidak apa-apa?"
"tidak!" tolak azka.
wanita itu mendengus kesal kemudian pergi.
jep ajep-ajep ajep-ajep...
dwi perlahan melangkah menoleh kearah sekelilingnya. dia tampak sedang mencari seseorang. "sepertinya sindi tidak ada disini! lalu kemana dia?" batinnya. karena sudah terlanjur masuk ketempat itu, dia pun memutuskan untuk bersenang-senang menikmatinya.
selang beberapa saat kemudian tiba-tiba pandangannya terkunci kepada seorang laki-laki yang mengenakan kemeja putih, lengkap dengan jas kantornya.
"pak riko? benar itu pak riko." batinnya, dengan cepat dwi menghampirinya.
"ekhmm..." dwi berdehem, dan membuat riko menoleh kearahnya.
"dwi ? apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya, dia pun meminta dwi untuk duduk di sampingnya.
"aku kesini ingin mencari sindi."
"sindi tadi sudah ku antar pulang." ucap riko.
"apa?"
"ya." riko tampak menatap lekat wajah gadis yang ada dihadapannya.
"kenapa bapak menatapku seperti itu?" tanya dwi yang sadar kalau riko sedang memperhatikannya.
"kamu cantik juga ya." ucap riko tanpa berbasa-basi.
"hakh?" dwi sedikit terkejut mendengar ucapannya.
"iya, kalau diperhatikan secara mendalam kamu itu cantik sekali! lebih cantik dari pada sindi."
glek...
"apa-apaan ini? apa dia sedang menggodaku?" batinnya pun bertanya-tanya.
saat melihat dwi bengong, riko mendekatinya. "kenapa diam saja?"
tubuhnya tersentak kaget, saat riko memegangi paha dwi lalu kemudian mengelusnya. nafasnya kembang kempis tak karuan.
"emm aku, aku..." ucapannya menggantung di tenggorokan.
"minumlah ini, malam ini kita akan bersenang-senang." ucap lembut riko, seraya menyodorkan botol minuman kepada dwi berharap dia mau menerimanya.
dengan ragu-ragu dwi pun akhirnya menerima minuman itu dari tangan riko. "apa pak riko dalam pengaruh alkohol? kenapa dia merayuku? yang jelas-jelas dia itu tahu kalau aku sepupu sindi." batinya terus bertanya-tanya.
"minumlah." pinta riko pada dwi.
"emm, aku ingin pergi ke toilet sebentar."
__ADS_1
"apa perlu ku antar?" tanya riko.
"tidak perlu!" spontan dwi langsung menjawabnya.