
***
"sindi..." panggi dwi.
sindi menoleh dengan raut wajah yang datar. "ada apa?"
"aku ingin memberikan ini." dwi memberikan sebuah kartu undangan kepadanya.
"siapa yang akan menikah?"
"ya aku lah sin..."
"selama ini kamu tidak punya pacar. bagaimana bisa kamu melangkahiku." ucap sindi, dia pun membaca isi undangannya. "azka arsenio taksa? seorang GM di hotel bintang lima yang sering kita temui di club kan?" tanya sindi meyakinkan.
dwi mengangguk. "iya."
"kok bisa?" tanyanya tak percaya.
"ceritanya panjang. oya, aku titip undangan ini untuk pak riko ya? aku tidak bisa menemuinya secara langsung." pungkas dwi kemudian pergi.
sindi memasuki ruangan riko dan memberikan undangannya. betapa terkejutnya riko, saat mengetahui gadis incarannya akan melangsungkan pernikahan dengan azka. seorang general manager hotel bintang lima di kota itu.
riko pergi keruangan dwi untuk bicara dengannya. riko sudah tidak enggan lagi untuk menunjukan perasaannya walau di hadapan sindi sekalipun.
"dwi, ini maksudnya apa?" ucap riko seraya melemparkan kartu undangan itu ke meja kerja dwi.
"aku akan segera menikah, tolong berhentilah menggangguku." ucap dwi.
"tidak mungkin secepat itu. aku tahu kamu bahkan belum mengenal laki-laki itu dengan baik, bagaimana bisa kamu mau memutuskan untuk menikah dengannya?"
"pak riko cukup! bapak itu bukan siapa-siapa aku. pak riko tidak berhak mengatur hidupku." sentak dwi.
"bukan siapa-siapa katamu? aku ini bosmu." ucap riko dengan suara lantang. "apa yang sudah laki-laki itu berikan padamu sehingga kamu mau menikah dengannya?"
"riko cukup! apa yang sudah kamu lakukan? aku ini masih tunanganmu, tidak bisakah kamu menghargai perasaanku sedikit saja?" ucap sindi yang sedari tadi sudah berdiri di ambang pintu.
"ini adalah suatu penghinaan yang sangat besar untukku. sebelumnya tidak ada seorang wanita pun yang berani menolakku." batin riko seraya mengepalkan tangannya. diapun menghampiri sindi lalu menarik tangannya agar mengikutinya.
riko membawa sindi ke ruangan khusus lalu membanting tubuhnya di ranjang.
"riko apa yang kamu lakukan? kenapa kamu kasar sekali?"
"ini semua karena mu! ini semua salah mu." bentaknya. riko membuka jas dan melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. lalu menindih tubuh sindi dengan tatapan penuh amarah yang meluap-luap.
__ADS_1
"riko please, jangan seperti ini, kamu membuatku takut." ucap sindi yang terlihat gemetaran.
riko menarik dan membuka paksa pakaian yang di kenakan sindi sehingga membuat pakaiannya kini sedikit robek.
"riko apa yang kamu lakukan?" teriak sindi.
"diam! dan nikmati saja." ucapnya. riko meluapkan semua kekesalannya terhadap dwi dengan cara menumpahkan hasr*atnya kepada sindi.
sementara di ruangannya, dwi tampak mondar-mandir bak setrikaan. dia tidak tahu apa yang akan dilakukan riko terhadap sindi. dwi takut kalau riko akan menyakitinya. dwi pun memutuskan untuk menemuinya.
"sindi tidak ada disini." ucap dwi setelah memasuki ruangannya. dia menoleh kearah pintu ruangan khusus. "mereka pasti ada disana." gumamnya. dwi mendekati pintunya samar-samar dia mendengar suara sindi dari dalam sana. dwi menempelkan daun telinganya di pintu.
"aahhh, pelan-pelan sayang. emm, yeaahh..."
mendengar suara sindi yang seperti itu membuatnya bergidik lalu perlahan mundur, sehingga tidak sengaja dia menyenggol pas bunga yang ada di belakangnya.
praakkk...
pas nya pun pecah berserakan di lantai. tidak mau ketahuan oleh sindi, dwi pun segera lari keluar dari ruangannya.
"suara apa itu?" tanya sindi, kepada riko yang sedang menghimpit tubuhnya.
"biarkan saja! pintunya sudah ku kunci, tidak ada yang bisa masuk kesini." ucapnya seraya terus menghimpit tubuh sindi. hingga tak lama kemudian keduanya mengerang panjang dengan peluh membasahi sekujur tubuh.
*
"akhh..." pekik laki-laki itu seraya memegangi keningnya hingga menutupi wajahnya.
dwi menghampiri laki-laki itu. "maaf mas, aku tidak sengaja." ucap dwi pada laki-laki itu.
laki-laki itu pun menurunkan tangannya.
"kamu?!" kata keduanya secara bersamaan, saat melihat wajah masing-masing.
"maaf. aku tidak sengaja."
"tidak sengaja kamu bilang? kamu lihat akibat ulahmu ini, keningku sampai berdarah." sentak azka.
"ya maaf, aku benar-benar tidak sengaja." ucap dwi. "lagi pula kamu ngapain berdiri di pinggir jalan seperti itu?"
"kamu tidak lihat? ban mobilku bocor, dan assistant ku sedang menggantinya." ucap azka sedikit ketus.
dwi menoleh kepada assistant azka.
__ADS_1
"wah, benar-benar laki-laki idaman. dia bahkan bisa mengerjakannya sendiri tanpa bantuan orang lain." jeplaknya.
"apa maksudmu?" azka menatap sinis kearahnya.
"tidak ada." ucapnya kemudian pergi.
"hei, bagaimana dengan luka di keningku?" teriaknya karena dwi sudah semakin menjauh.
"kamu obati saja sendiri! kalau kamu merasa tidak mampu untuk melakukannya, kamu bisa meminta bantuan assistant mu itu untuk membantu mengobati luka di keningmu." teriak dwi kemudian berlalu.
***
tok tok tok.
"masuk."
dwi memasuki ruangan riko. riko tampak menatap tajam kearahnya.
"maaf pak, jika kedatangan ku mengganggu pekerjaan bapak." ucap dwi.
"katakan, untuk apa kamu datang kesini?"
"aku ingin risign dari perusahaan ini. dan ini surat pengunduran diri saya." ucap dwi seraya menyodorkannya kepada riko.
riko mengambil surat pengunduran diri itu kemudian membacanya. "boleh saja kalau kamu ingin risign dari kantor ini. tapi kamu harus membayar denda sebesar 100 juta, karena telah melanggar kontrak yang sudah kamu tanda tangani sebelumnya." ujar riko.
"apa? denda?" dwi sangat terkejut.
"ya. kamu harus membayar denda nya. paling lambat dalam jangka satu bulan kamu sudah harus melunasinya."
"ini penipuan! kenapa aku harus membayar denda sebanyak itu?"
"itu karena kamu tidak menepati aturan yang berlaku di perusahaan ini. jelas-jelas dalam kontrak kerja yang telah kamu sepakati, di situ tertera kalau masa kontrak kerja mu selama satu tahun. sedangkan kamu bekerja di sini baru beberapa bulan." jelas riko.
"kalau aku tidak bisa membayar denda nya bagaimana?"
"terpaksa aku akan mempidanakan mu."
"apakah ada keringanan? bagiku uang 100 juta tidaklah sedikit. dan aku bingung harus mencarinya kemana?" ucap lirih dwi.
"kamu tidak perlu membayar dendanya!" ucap riko. "tapi dengan syarat, puaskan aku malam ini." bisiknya dengan lembut di telinga dwi.
dwi perlahan mundur. "ma, maaf. kurasa aku sanggup membayarnya. dalam waktu satu bulan, aku pasti akan melunasinya." ucap dwi dengan tubuh bergetar karena riko semakin mendekatkan wajahnya kepada dwi, bahkan tubuh mereka telah menempel.
__ADS_1
"baiklah! aku akan menunggumu. semoga saja kamu bisa secepatnya membayarnya." ucap riko.
dwi mendorong tubuh riko, kemudian dia pergi dari ruangannya.