Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
ada apa dengan dwi dan azka?


__ADS_3

azka berdiri dari duduknya. "maaf, meeting nya kita tunda sekitar lima belas menit lagi." tutur azka lalu menghampiri dwi dan menarik tangannya. "ikut aku."


azka membawa dwi ke ruangan kerjanya. "apa kamu senang menjadi pusat perhatian?" tanya azka sedikit sinis.


"aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan?"


"lihat pakaian mu itu?" sentaknya. "seharusnya kamu tidak memakai pakaian terbuka seperti itu di depan umum."


dwi mengamati pakaian yang dikenakan nya. "memangnya kenapa?"


"kenapa kamu bilang? apa kamu tidak sadar kalau pakaian yang kamu kenakan itu bisa memancing sahwat laki-laki."


"itu salah mereka karena tidak bisa menjaga pandangan masing-masing."


tiba-tiba edwin mengetuk pintu.


"masuk." tutur azka.


"maaf pak, sekitar dua menitan lagi kita harus segera melakukan meeting."


"baiklah, kita kesana sekarang." ucap azka kepada edwin. "dan kamu! tunggu aku disini dan jangan kemana-mana." tandasnya kepada dwi. azka dan edwin segera pergi.


"hakh, apa perduli ku! dia pikir dia itu siapa, bisa seenaknya mengatur-atur hidupku." gerutu dwi.


sekitar satu jam lamanya, akhirnya meeting pun selesai. azka segera kembali keruangannya. dia terdiam saat mendapati dwi yang tertidur sofa. dia pun duduk di sampingnya. azka terus memandangi wajah dwi yang terlihat polos ketika dia tidur. tak lama kemudian dwi menggeliatkan tubuhnya dan mengangkat kedua tangannya hingga tanpa sengaja tangannya meninju wajah azka yang sedang fokus menatapnya.


"wanita ini, bahkan walau dia tertidur sekalipun, sikapnya tetap saja menyebalkan." gerutu azka seraya memegangi pipinya yang sedikit merah akibat terkena pukulan dwi.


tak lama kemudian dwi kembali menggeliat lalu memeluk tubuh azka dan mengangkat kaki kanannya sehingga menindih kaki azka.


glek. azka menelan ludahnya kasar, saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya yang begitu sangat menggoda. bagai mana tidak, paha mulus dwi terpampang sempurna di pangkuannya. jiwa laki-laki perkasa nya pun kini mulai meronta-ronta.


"gulingnya begitu hangat." gumam dwi yang masih memejamkan kedua matanya. merasa ada sesuatu yang aneh perlahan dwi membuka matanya. dan betapa terkejutnya dia.


"aaa...." teriaknya, dia pun membenarkan posisi duduknya.


"kenapa kamu berteriak? apa wajahku terlihat begitu sangat menyeramkan?" sinis azka.


dwi menoleh ke sekeliling ruangan, lalu menatap wajah azka. "maaf, sepertinya aku ketiduran."


"bukan sepertinya, tapi kamu memang benar-benar ketiduran." azka membenarkan.


tok tok tok.


"masuk." sahut azka.


tuk tuk tuk (suara hakhils)


seorang wanita berparas cantik tiba-tiba masuk dan berdiri tepat di hadapan azka. dwi tampak memperhatikan pakaian wanita itu yang terlihat seksi, bahkan jauh lebih seksi dari pakaian yang di kenakan oleh nya.


"maaf, kedatangan ku sepertinya mengganggu mu." ucap wanita itu.


azka tersenyum. "tidak apa-apa!" ucap azka. ada apa? apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya.

__ADS_1


"sebenarnya memang ada yang ingin aku bicarakan denganmu, tapi..." wanita itu menoleh kepada dwi dengan sedikit sinis. "em, sudahlah! mungkin lain kali saja."


"kalau kamu mau, kita bisa bicarakan di luar." ucap azka.


"hm, benarkah?" wanita itu terlihat antusias.


"aduh..." pekik dwi seraya memegangi kepalanya.


azka pun menoleh kearahnya. "kenapa?"


"kepalaku tiba-tiba saja pusing." ujar dwi.


"maaf viona, sepertinya aku tidak bisa pergi denganmu sekarang." ucap azka.


"baiklah." wanita itu keluar dengan raut wajah yang tampak kecewa.


"siapa dia?" tanya dwi.


"namanya viona, dia anak dari owner hotel ini." jelas azka.


"kenapa kalian terlihat begitu dekat?"


"dia adalah juniorku saat kita masih sama-sama kuliah."


"aku kurang suka melihat pakaiannya." ujar dwi.


"jangan menggunjingi orang lain, kamu lihat bagai mana cara berpakaian mu sendiri." sindir azka.


"akh, ya. aku kurang seksi! sepertinya besok-besok aku harus memakai pakaian yang lebih berani lagi." ucap dwi.


seketika dwi langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


***


..._weekend_...


azka menepati janjinya untuk membawa dio dan ica pergi ke kebun binatang.


"kak dwi, kita pergi kesana yuk?" ajak ica.


"malas akh, kalian saja! biar kakak menunggu disini." tolak dwi.


"yaa... kak dwi gak asik." desis dio.


"ya sudah kalian pergi duluan saja. nanti kita nyusul." ucap azka pada dio dan ica.


mereka mengangguk.


"apa yang kamu pikirkan?" tanya azka.


"tidak ada." jawab dwi.


"pantas saja sikap mu begitu aneh. ternyata otakmu tidak ada isinya." ucap azka.

__ADS_1


"apa kamu bilang?" sentaknya.


"dari pada kita berdiam diri disini, mending kita susul dio dan ica, takutnya nanti mereka hilang."


dwi pun mengangguk.


"dio dan ica kemana? bukannya tadi dia bilang akan kesini (kandang harimau). jangan-jangan..." dwi mulai menduga-duga.


"jangan berpikir yang tidak-tidak! sebaiknya kita cari mereka." ujar azka.


"ini salahmu! kenapa kamu mengajak dio dan ica kesini. kalau mereka hilang, kamu harus bertanggung jawab." gerutu dwi.


"kenapa jadi aku yang di salahkan? sebagai kakak yang baik, seharusnya tadi kamu mau saat mereka mengajak mu untuk pergi ke kandang harimau."


"ekh itu dio." ucap dwi seraya menunjuk.


"ayo kita samperin."


"dio, ica. kenapa gak ijin dulu kalau kalian ingin pergi kesini." tegur dwi.


"maaf kak, ica yang memaksa, dan ngotot ingin kemari." ujar dio.


"teman kakak pada lucu-lucu. " ucap ica.


dwi mengernyitkan keningnya. "teman kakak? dimana? dari tadi kakak tidak melihatnya.


"tadi kak azka bilang, kalau semua yang ada disini itu teman-temannya kak dwi." ujar ica dengan polosnya.


dwi menoleh kepada azka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. sementara azka tampak mengulum senyumannya.


"ini sudah sore, kita makan yuk? setelah itu kita langsung pulang." ujar azka.


"let's go...!" seru ica dan dio.


setelah mampir sejenak di restoran cepat saji mereka segera mengantar dio dan ica pulang.


"hari sudah petang, sebaiknya kalian menginap saja disini." ujar pak mukti.


"yang di katakan ayahmu benar! sebaiknya kalian menginap saja." ucap bu patma.


"aku tergantung mas azka bu." ucap dwi.


"maaf bu, pak. karena aku harus pulang." ucap azka, dia pun menoleh kepada dwi. "tapi kalau kamu memang ingin menginap disini tidak apa-apa. kalau waktu ku senggang, secepatnya aku akan menjemputmu."


"tidak perlu! karena aku akan ikut pulang denganmu." sahut dwi.


diperjalanan pulang.


"apa kamu sudah mendengar kabar tentang riko?" tanya dwi memecah keheningan.


"ya. aku tahu, kalau polisi tidak menahannya." jawabnya.


"lalu, apa yang akan kamu lakukan." tanya dwi.

__ADS_1


"aku penasaran, apa yang ingin dia rencanakan selanjutnya, dan aku akan melawannya." ujar azka


__ADS_2