
saat di kantor dwi dan sindi tidak saling bertegur sapa layaknya orang yang tidak saling mengenal. dwi memaklumi kemarahan sindi terhadap dirinya.
dwi duduk diruang kerjanya, seraya memikirkan cara apa yang harus dia lakukan agar sindi mau memaafkannya.
"dwi..." seseorang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
"pak riko." dwi berdiri lalu mendekati riko, dan mendorong pelan tubuhnya. "tolong keluar dari sini pak, kalau tidak, sindi pasti akan salah paham lagi kepada ku." pintanya.
"dwi aku kesini untuk meminta maaf. gara-gara aku sindi jadi menuduhmu yang tidak-tidak." ucap riko yang membuat dwi menghentikan dorongannya.
dwi tertegun sejenak kemudian mengangguk. "tidak apa-apa, tapi sekarang aku mohon tolong bapak pergi dari sini sekarang juga."
"kamu mengusirku? aku ini atasan kamu."
mendengar ucapan riko, dwi pun diam tak berkutik.
"aku ingin bertanya sesuatu sama kamu, apa benar yang dikatakan sindi kalau kamu menyukaiku?" tanyanya.
"tidak. kurasa sindi pasti salah paham! waktu itu aku hanya menggodanya. aku tidak bersungguh-sungguh." jelas dwi.
"kenapa kamu bicara seperti itu? aku merasa telah dipermainkan." ucap riko yang membuat dwi tercengang.
"maksudnya?"
"aku menyukaimu." ucap riko.
glek...
dwi terbelalak kaget mendengar ucapan riko. "tidak! pak riko pasti salah. pak riko tidak mungkin menyukaiku."
"aku serius wi, aku menyukaimu." riko berusaha untuk meyakinkannya.
"oh tidak, apa yang harus aku lakukan sekarang." batin dwi.
"kenapa kamu terlihat begitu tegang?" tanya riko seraya mendekati wajah dwi.
"riko..." panggil seseorang dari belakangnya. dwi dan riko pun menoleh.
"sindi." gumam keduanya secara bersamaan.
"lima menit yang lalu kamu datang keruanganku dan memohon agar aku mau memaafkanmu. tapi apa yang aku lihat sekarang? haruskah aku memaafkan mu lagi?" ucap sindi.
"sindi, pak riko hanya ingin meminta maaf kepadaku atas kesalah pahaman ini." ujar dwi.
"diam! aku tidak bicara denganmu. dan aku juga tidak ingin berbicara denganmu lagi." ucap dwi yang membuat dwi tampak bersedih.
__ADS_1
"sindi, menurutku itu sedikit keterlaluan. bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu pada sepupumu?" ucap riko.
"kenapa kamu selalu membelanya? apa kamu mencintainya?" tanya sindi.
"sindi cukup! pak riko tidak mungkin men..." ucapannya menggantung saat riko memotong pembicaraannya.
"ya!" ucapan riko membuat dwi dan sindi tampak sangat terkejut. "kurasa aku memang mencintainya."
"pak riko! omong kosong apa ini?" bentak dwi kepada atasannya itu.
"ini bukan omong kosong! tapi pakta." ucap riko. merasa tidak sanggup lagi mendengar kata-kata riko, sindi keluar dari ruangan itu dengan berlinang air mata.
"pak riko jahat sekali! kenapa pak riko bicara seperti itu dihadapannya." dwi pun pergi untuk mengejar sindi. "sindi tunggu..."
"jahat? apakah mengutarakan perasaan suatu kejahatan?" gumamnya.
dwi mengejar sindi hingga ruangannya. "sin, tolong dengarkan penjelasanku. kamu tahu kan? kalau aku itu memang senang sekali menggodamu. saat aku bicara kalau aku menyukai tunanganmu, aku tidak bersungguh-sungguh."
"benarkah? lalu bagaimana caranya agar kamu bisa membuktikan kalau kamu tidak ingin merebut riko dariku? kamu tahukan kalau aku sangat mencintainya. saat berkata kalau aku ingin menduakannya dengan pria lain pun, aku tidak serius mengatakannya." ucap sindi dengan air mata yang tampak menetes beberapa kali di pelupuk matanya.
"aku tahu! kamu memang sangat mencintainya."
"mendengar riko mengutarakan perasaannya kepadamu itu membuat hatiku teramat sakit! asal kamu tahu, aku dan riko berpacaran sudah hampir tiga tahun lamanya. dan selama itu pula, aku telah memberikan semuanya, bahkan seluruh tubuhku." ucap sindi.
"ya. aku memang masih tunangannya, tapi aku dan riko sudah sering melakukan hubungan layaknya suami istri."
dwi tampak mengepalkan kedua tangannya. bisa-bisanya riko ingin mencampakkan sepupunya setelah apa yang sudah dia lakukan terhadapnya.
"kenapa kamu tidak memintanya untuk segera menikahimu?"
"aku tidak bisa."
"kenapa?"
"dari awal kita sudah sama-sama berkomitmen, kalau kita tidak akan menikah kalau salah satu dari kita belum siap untuk menikah." ucapnya.
"mana bisa begitu? kamu bahkan telah merelakan kesucianmu untuknya, dia harus segera menikahimu. sekarang ayo ikut aku untuk menemuinya."
"tidak wi! tolong jangan sampai riko tahu kalau aku telah memberi tahumu semuanya? kalau gak, aku akan benar-benar kehilangan riko untuk selamanya."
"tapi ini gak adil buatmu! aku akan tetap memaksa pak riko agar secepatnya dia mau menikahimu."
"dwi please! ini urusanku, tolong biarkan aku mengatasinya sendiri."
"kamu itu sepupu aku, aku tidak akan membiarkan siapapun mempermainkan mu."
__ADS_1
"dwi please, haruskah aku memohon seperti ini kepadamu?" ucap sindi seraya berlutut dihadapannya.
"sindi apa yang kamu lakukan." dwi mengangkat tubuhnya agar berdiri.
"tolong biarkan aku mengatasi masalahku ini sendiri. karena kalau kamu ikut campur, aku yakin kalau riko benar-benar akan meninggalkanku." pinta sindi yang sedang memohon.
akhirnya dwi pun mau menuruti permintaannya.
dwi sudah kembali keruangannya. "dasar laki-laki brengsek! berani-beraninya dia mengutarakan perasaannya kepadaku setelah apa yang sudah dia lakukan kepada sindi. aku tidak bisa tinggal diam! pak riko harus segera menikahi sindi." gumamnya.
...****************...
"apa ayah yakin? ingin memperkenalkan dwi kepada anak sahabat ayah?" tanya bu patma.
"memangnya kenapa bu? apa karena anak teman ayah itu sudah pernah menikah? ibu tidak perlu takut, anak sahabat ayah itu menjadi duda karena istrinya meninggal. dan status dudanya sudah jelas dan tidak perlu di pertanyakan." ucap pak mukti kepada istrinya.
"bukan itu maksud ibu! ayah tahu kan, bagaimana sikap dan tingkah laku anak kita? ibu hanya tidak ingin ayah mempermalukan keluarga kita dengan cara mengenalkan dwi kepada anak sahabat ayah itu. ibu takut dwi tidak bisa menjaga sikapnya di hadapan mereka." ucap bu patma.
"kalau soal itu ibu tenang saja! ayah sudah menyiapkan cara, agar dwi mau menuruti permintaan kita, dan tidak mempermalukan keluarga kita." ucap pak mukti.
"baiklah, ibu akan menurut saja. karena apa yang akan dilakukan ayah, itu pasti yang terbaik untuk keluarga kita." tuturnya.
"terima kasih bu."
keesokan harinya.
tok tok tok.
"aku pulang bu."
tok tok tok.
dwi terus menggedor-gedor pintu. ibunya pun bergegas untuk membukanya.
"anak kurang ajar! baru pulang sudah membuat masalah. kenapa kamu menggedor-gedor pintu, apa kamu mau rumah jelek ini roboh." ucap bu patma seraya memukuli dwi yang baru saja tiba.
"aw aw bu, sakit bu." pekiknya.
"lalu kenapa kamu menggedor-gedor pintu keras sekali hakh?"
"maaf bu, ku pikir ibu tidak mendengarnya."
"sudah bu. apa yang ibu lakukan? anak kita baru saja tiba, seharusnya ibu menyambutnya dengan senyuman." ucap pak mukti kepada istrinya. " ayo nak, kamu masuk dan beristirahatlah sejenak dikamarmu."
"baik yah." ucap dwi, lalu berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1