
...*Flash Back*...
..."Ini yang terakhir kalinya aku ingin bertanya kepada Bu Viona. Apa Bu Viona yakin, ingin menikah dengan Mas Azka?" Tanya Edwin dengan sorot mata yang tajam....
Viona malah tersenyum menanggapi pertanyaan dari Edwin. Dia pun berjalan kearah belakang Edwin, lalu memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya dileher Edwin. Sehingga pipi mereka bersentuhan. "Andai saja bisa! aku ingin sekali memiliki kalian berdua." Ucapnya.
Mendengar itu, dengan cepat Edwin melepaskan pelukan Viona. "Jawab pertanyaan aku dengan benar!" Edwin meninggikan nada bicaranya. "Apa kamu serius ingin menikah dengan Mas Azka? jika ya! aku minta setelah aku menikah dengan Sindi nanti, jangan lagi mencoba untuk masuk kehidupanku, dan jangan pernah merusak kebahagiaanku dengan Sindi." Decak Edwin.
Ucapan Edwin membuat senyuman Viona kini memudar. "Apa kamu yakin, kamu juga akan bahagia jika menikahi Sindi? come on Edwin! sadarlah kalau hanya aku satu-satunya wanita yang kamu cintai." Ucap Viona penuh percaya diri.
"Apa kamu pikir, aku bicara seperti ini karena aku sangat mencintai kamu? jawabannya tentu tidak!" Ucap Edwin. "Aku hanya tidak ingin, Mas Azka tidak bisa memperlakukan kamu dan calon bayi kita dengan baik, hanya karena Mas Azka tidak menginginkanmu untuk menjadi istrinya. Apalagi saat Mas Azka tahu yang sebenarnya, aku yakin dia tidak akan pernah memaafkan mu." Ujar Edwin. "Karena sepandai-pandainya kamu menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga bau busuknya." Lanjut Edwin.
"Kalaupun suatu saat nanti Azka mengetahui kebenarannya. Aku tidak pernah takut, karena aku masih mempunyai kamu! dan aku yakin, kalau kamu tidak mungkin membiarkan aku terpuruk." Jawab Viona antusias.
"Dan disaat itu benar-benar terjadi, mungkin aku sudah pergi sejauh mungkin dari kehidupan Bu Viona. Karena aku sudah berkomitmen! siapapun wanita yang bisa membahagiakan aku dan membuatku merasa nyaman ketika aku bersamanya! maka kebahagiaan wanita itulah yang akan menjadi prioritas utama ku." Sahut Edwin.
"Apa itu artinya kamu akan benar-benar meninggalkan aku, jika kamu sudah menikah dengan wanita lain?" Viona menatap nanar wajah Edwin.
"Ya." Jawab Edwin.
"Aku tidak menyangka kalau kamu akan setega itu bicara seperti itu sama aku." Viona mulai berkaca-kaca.
"Bukankah kamu yang jahat, karena sudah menarik ulur perasaanku! aku bagimu hanya sekedar boneka, yang bisa kamu mainkan sesuka hatimu." Desah Edwin.
"Win, tolong jangan seperti ini. Apa yang sudah kamu katakan semua itu tidak benar! aku menghargaimu, dan kamu juga sangat berarti bagiku." Ucap Viona yang sudah berlinang air mata.
Namun ucapan Viona bagaikan angin lalu yang terdengar ditelinga Edwin. Apa yang keluar dari mulut Viona hanya bualan semata untuk mengambil simpati nya, Pikir Edwin.
__ADS_1
"Aku minta maaf! ini bisa jadi yang terakhir kalinya aku menemui Bu Viona. Setelah Bu Viona menikah dengan Mas Azka, aku minta dengan sangat! tolong jangan pernah temui aku lagi, dan anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita." Tegas Edwin. Dia pun pergi meninggalkan Viona yang masih bergulat dengan hati dan pikirannya.
Namun saat Edwin membuka pintu mobilnya, tiba-tiba Viona datang dan langsung memeluknya dari belakang.
"Bu Viona, tolong jangan seperti ini? biarkan aku pergi!" Ucap Edwin.
"Gak Win, enggak! aku gak mengijinkan mu untuk pergi!" Desah nya.
"Tolong jangan egois! dan biarkan aku pergi." Ucap Edwin.
"Bagaimana bisa aku membiarkan kamu pergi! sementara aku sedang mengandung anakmu." Sentak Viona.
"Apa?!" Pak Bagas yang tidak sengaja mendengar pun sangat terkejut.
Edwin dan Viona menoleh kepada Pak Bagas berbarengan.
"Papa..."
"Viona, katakan sekali lagi! sebenarnya siapa yang telah menghamili mu?" Tanya Pak Bagas. Namun Viona hanya diam saja, sehingga membuat Pak Bagas marah. "Katakan! siapa yang menghamili mu?" Bentaknya.
"Saya Pak." Sahut Edwin. "Saya minta maaf." Edwin menundukkan kepalanya.
Bugh... Bugh...
Pak Bagas langsung menghajar bolak-balik wajah Edwin, sehingga meninggalkan jejak berwarna kebiru-biruan. "Kurang ajar! berani sekali kau menghamili putriku, dan sekarang kau ingin lari dari tanggung jawab!" Sentaknya.
Bugh... Bugh... Bugh...
__ADS_1
Pak Bagas kembali menghajar Edwin habis-habisan sehingga membuatnya tersungkur jatuh ke-lantai.
"Pa, cukup Pa!" Viona menghalangi saat Pak Bagas ingin menendang perut Edwin.
"Laki-laki kurang ajar! tidak tahu di untung!" Maki Pak Bagas kepada Edwin. "Apa karena Edwin tidak mau menikahi mu, hingga kamu melemparkan kesalahannya kepada Azka?" Tanya Pak Bagas kepada Viona.
"Tidak seperti itu Pa! justru aku yang sudah menolaknya ketika Edwin ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya." Jelas Viona.
Plaaaakkk...
Pak Bagas pun menampar pipi putri kesayangannya. "Benar-benar memalukan!" Decak Pak Bagas. "Kamu sudah mencoreng nama baik Papa dengan kehamilan mu diluar nikah! dan sekarang kamu sudah merusak reputasi Papa dihadapan Azka dan keluarganya! mau ditaru dimana muka Papa!" Cercahnya.
"Aku minta maaf Pa." Itulah kalimat yang hanya bisa diucapkan oleh Viona.
"Semua ini salah Papa, karena Papa terlalu memanjakan mu." Sesal Pak Bagas.
"Maafkan aku Pa, tolong maafkan aku." Viona terus menangis.
"Papa tidak mau tahu, Edwin harus menikahimu!" Tegas Pak Bagas.
"Iya Pa! karena sekarang aku juga sadar, kalau aku akan lebih membutuhkan Edwin dari pada Azka. Karena selama ini hanyalah Edwin yang selalu ada disaat aku suka maupun duka." Tutur Viona.
...*Flash Back Off*...
"Jadi begitulah ceritanya." Jelas Edwin. "Aku bukannya tidak mau bertanggung jawab, tapi Viona yang selalu menolak tiap aku berkeinginan untuk menikahinya. Hingga aku dipertemukan dengan Sindi! sosok wanita yang bisa bikin aku merasa nyaman tiap kali berada didekatnya. Andai saja Viona tidak sedang mengandung anakku, aku pasti sudah menikahinya." Tutur Edwin terdengar tulus.
"Mulai dari sekarang! hargailah apa yang telah menjadi milikmu. Dan jangan sesekali melukai perasaan Viona, hanya karena hati kamu sudah diisi oleh Sindi. Aku tidak mau kamu menyakiti Viona, apalagi saat ini dia sedang mengandung." Ucap Dwi.
__ADS_1
"Tolong sampaikan permintaan maafku ini kepada Sindi. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyakitinya." Ucap Edwin. "Dan katakan juga, kalau mulai besok aku akan pindah keluar negeri dan membangun rumah tangga disana bersama Viona." Pungkasnya.
"Maafkan aku Sin, bukannya aku ingin membela Viona! aku hanya memikirkan bayi yang ada didalam kandungannya. Karena janin yang ada didalam kandungan Viona itu tidak berdosa, dan berhak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya." Batin Dwi.