Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
100 jt


__ADS_3

dwi datang ke hotel dimana tempat azka bekerja. dia menghampiri resepsionis untuk menanyakan keberadaan azka.


"maaf mbak, apa anda sudah membuat janji dengan pak azka?"


"belum. tapi saya ingin sekali bertemu dengannya, ini sangat penting." ucap dwi.


"maaf mbak, pak azka adalah orang yang sangat sibuk, tidak sembarang orang bisa menemuinya."


"tapi saya calon istrinya."


wanita itu menatap dwi dari ujung kepala hingga ujung kakinya. "apa mbak pacarnya pak azka?"


dwi terdiam sejenak. "emm, bisa di bilang seperti itu mbak." ucap dwi terkekeh.


wanita itu pun berbisik pada temannya. "maaf mbak, sepertinya kita tidak bisa mengijinkan mbak untuk menemui pak GM." ucap salah satu temannya.


"loh, memangnya kenapa mbak?"


"kalau mbak memang pacarnya pak azka, apa mbak bisa memberikan poto kebersamaan mbak dengan pak azka?"


"maaf mbak, tapi saya belum pernah poto bareng sama dia." ucap dwi apa adanya.


"kalau begitu silahkan pergi mbak." ucap wanita itu seakan mengusirnya.


beberapa hari kemudian. dwi selalu berusaha untuk menemui azka namun tidak pernah menemukannya. di club azka tidak ada. bahkan di hotel dia selalu sibuk.


"kemana sikh itu orang? padahal aku lagi butuh bantuannya." desisnya.


tak lama kemudian azka keluar dari hotel bersama seorang pejabat penting, sedang berjalan menuju mobilnya.


"hei..." teriak dwi kepadanya. "azka..." dwi semakin mengeraskan volumenya. hingga azka pun akhirnya menoleh bersamaan dengan para pejabat yang ada di sana.


"mau apa dia?" batin azka seraya menatap kearahnya.


dwi menghampiri dan mendekati azka. "aku ingin sekali berbicara denganmu."


"tidak sekarang! aku sedang sibuk."


"ayolah! ini sangat penting." ucap dwi.


"bagiku tidak ada yang lebih penting dari pada mereka." ucap azka seraya menoleh kepada para pejabat itu.


"baiklah. mana kartu namamu?" tanya dwi.


"untuk apa?"


"dengan begitu aku bisa lebih mudah untuk menghubungi mu." ucap dwi. azka pun memberikan kartu namanya.


keesokan harinya.


dwi berusaha menghubungi nomer azka, namun azka tidak pernah mengangkat telepon darinya. "dasar sialan!" umpatnya. "kalau saja aku tidak membutuhkan mu, aku juga tidak akan mau menghubungi nomermu."


tak kunjung mendapatkan jawaban. dwi pun nekat untuk menghampiri azka di hotel tempatnya bekerja. saat ingin menghampiri meja resepsionis dia berpapasan dengan geri.


"dwi, kok kamu bisa ada disini?" tanya geri.


"iya ger, aku kesini ingin menemui azka."


"ada urusan apa kamu dengannya?"

__ADS_1


"maaf, tapi aku tidak bisa memberi tahumu."


"aku kesini juga untuk menemuinya, kalau kamu mau kita bisa pergi keruangannya sama-sama." ajak geri.


"sungguh?" dwi antusias.


"ya, mari ikuti aku."


dwi mengekorinya dari belakang. tibalah mereka di ruangan azka. azka sedikit terkejut saat melihat geri datang bersama dwi.


"ada apa ger?" tanya azka, seraya membereskan beberapa file yang ada di mejanya.


"ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. tapi kurasa urusannya lebih penting." ucap geri seraya menoleh kepada dwi.


"baiklah. kamu bisa tinggalkan kita berdua." ucap azka.


geri segera pergi dari ruangan itu.


"ada apa?" tanya azka dengan datar.


"kenapa kamu tidak pernah menjawab telepon dariku?" tanya dwi.


"maaf. aku lagi sibuk." ucapnya.


"to the point saja! aku datang kesini ingin meminta bantuan mu." ucap dwi spontan.


"meminta bantuanku? katakan, apa yang kamu inginkan dariku?"


"aku ingin meminjam uang padamu."


azka langsung menatap tajam kearah dwi. "berapa?" tanyanya.


"uang sebanyak itu untuk apa?"


"itu bukan urusanmu."


"kalau itu memang bukan urusanku, lalu untuk apa kamu datang kesini? pergilah! kamu urus saja urusanmu sendiri." ketusnya.


"aisshhh." umpat dwi seraya mengepalkan tangannya. "intinya kamu mau membantuku atau tidak?"


"tidak!" jawab azka dengan tegas.


dwi menarik nafas panjang lalu kemudian membuangnya secara kasar. "ya sudah, kalau kamu memang tidak bisa membantuku." ucap dwi kemudian pergi.


***


dwi duduk di depan halaman rumah seraya menyeruput teh hangat yang ada di tangannya. nenek menghampiri lalu duduk di sampingnya. "tadi siang kamu tidak kerja?" tanya nenek.


"tidak nek."


"kenapa?"


"aku sudah risign nek."


"apa kamu membuat masalah, sehingga kamu harus risign dari pekerjaan mu?"


seketika dwi langsung mengernyitkan dahinya. " tidak nek."


"lalu kenapa kamu berhenti dari pekerjaan kamu?"

__ADS_1


tak ingin neneknya salah paham terhadap dirinya, dwi pun menceritakan alasannya kenapa dia harus berhenti bekerja di perusahaan milik tunangan sindi.


"riko menyukaimu?" tanya nenek.


"iya nek, aku tidak ingin merusak hubungan sindi dan pak riko. jadi lebih baik aku mengundurkan diri dari perusahaan itu." jelasnya.


"keputusan yang tepat. akan lebih baik jika kamu memang tidak bekerja di perusahaan milik riko."


dwi mengangguk kecil.


"kemana calon suamimu? kenapa kamu tidak pernah mengenalkannya pada nenek? bukankah beberapa minggu lagi kalian akan menikah?"


"dia orang yang sangat sibuk nek."


"apa kamu benar-benar ingin menikah dengan laki-laki pilihan ayah dan ibumu?"


dwi hanya mengangguk kecil.


"sebaiknya jangan, kalau kamu memang tidak berniat untuk menikahinya, apalagi calon suamimu itu orang yang sangat sibuk. atau kamu akan merasakan kesepian karena suamimu nanti tidak memiliki banyak waktu untukmu." ucap nenek penuh kekhawatiran.


"tidak apa-apa nek. aku akan mencobanya."


"mencobanya? pernikahan bukanlah suatu percobaan! pernikahan itu sesuatu yang sakral. kamu tidak boleh mempermainkannya." ucap nenek. "ini sudah malam, kamu masuk dan tidurlah."


"baik nek." dwi menuruti ucapan neneknya.


keesokan harinya.


riko datang kerumah nenek dengan beralasan ingin menemui sindi. namun nenek mengatakan kalau sudah beberapa hari ini sindi tidak datang kerumahnya. karena sejak renggangnya hubungan persodaraan dwi dan sindi, sindi pun jadi jarang main ke rumah neneknya.


"kalau begitu aku ingin bicara dengan dwi sebentar saja. apa nenek bisa tolong panggilkan?"


"baiklah. tunggu sebentar."


tak lama kemudian dwi menghampiri riko di ruang tamu. "ada apa? kenapa kamu ingin menemuiku?" tanya dwi dengan muka judes.


"haruskah aku mengatakan kalau aku merindukanmu?" ucap riko yang membuat dwi mengernyitkan dahinya. "jangan memasang muka seperti itu padaku, apa kamu lupa? kamu masih punya hutang kepadaku karena kamu belum bisa membayar dendanya."


"to the point saja! apa yang ingin kamu katakan?"


"aku ingin kamu bekerja di perusahaanku lagi? dengan begitu kamu tidak perlu membayar dendanya." pinta riko.


"maaf, aku tidak bisa."


"apa itu artinya kalau kamu siap untuk menyerahkan tubuhmu untuk dapat kunikmati?"


"cihh, jangan mimpi."


"aku yakin, kalau kamu tidak akan sanggup untuk melunasinya."


"apa kamu lupa? sebentar lagi aku akan dinikahi oleh azka, seorang GM bintang lima di kota ini. aku yakin dia pasti mau membantuku untuk melunasinya." ucap dwi sedikit berbohong.


"kalau begitu kemana dia? aku bahkan belum pernah melihatmu jalan dengannya, walau hanya sekedar makan bersama."


"dia sangat sibuk."


"sesibuk itukah? aku yakin, kamu tidak akan bahagia jika menikahinya." ucap riko.


"jangan cepat berasumsi! aku yakin kalau azka itu pria yang baik. dia pasti tahu bagaimana caranya membahagiakan seorang istrinya kelak." ucap dwi. "lebih baik sekarang kamu pergi! kalau tidak ingin ku teriaki maling."

__ADS_1


riko tampak mengepalkan tangannya. dia pun akhirnya pergi.


__ADS_2