
Beberapa hari kemudian. Sikap Dwi terhadap Azka kembali dingin! bahkan saat Azka datang kerumah Nek Eva untuk mengantarkan semua kebutuhan ibu hamil seperti susu dan vitamin. Namun Dwi terlihat sedikit cuek terhadapnya. Sehingga Azka pun mulai bertanya-tanya.
"Apa kamu sakit?" Tanyanya, penuh kekhawatiran.
"Tidak!" Jawab Dwi singkat, padat, dan jelas.
"Kamu lebih sedikit pendiam dari biasanya! apa aku pernah melakukan sesuatu, yang mungkin menyakitimu?" Tanyanya. "Aku ingat betul! terakhir kali kita bertemu, kita baik-baik saja." Lanjutnya.
"Apa benar, kalau Viona itu sedang hamil anak kamu?" Dwi mulai mengeluarkan unek-uneknya.
"Hamil?" Azka malah terlihat terkejut dengan pertanyaannya.
"Ya! apa benar kamu telah menghamilinya?" Tanyanya lagi.
"Tunggu-tunggu! kamu dapat informasi itu dari mana?" Tanya Azka yang terlihat kebingungan. Pasalnya, dia sendiri pun belum tahu apa-apa tentang kehamilan Viona.
"Tiga hari yang lalu dia datang kesini, dan mengaku-ngaku kalau dia sedang mengandung anak kamu." Jelas Dwi.
__ADS_1
"Itu gak mungkin!" Ujar Azka. "Dia pasti sengaja mengarang cerita, agar hubungan kita kembali renggang." Lanjutnya. Namun penjelasan Azka sepertinya tidak berpengaruh apa-apa, karena sikap Dwi masih terlihat dingin. "Aku akan buktikan sama kamu, kalau aku tidak tahu apa-apa soal kehamilan Viona."
"Tapi aku rasa itu tidak perlu! toh kamu juga tidak berkewajiban untuk menjelaskannya sama aku. Karena apa?! karena aku bukan siapa-siapa kamu." Ucapan Dwi membuat hati Azka sedikit terluka.
"Mungkin aku memang bukan siapa-siapa bagi kamu! tapi kamu adalah satu-satunya perempuan yang paling penting di-hidup ku, selain Mama." Jelas Azka.
"Sebaiknya kamu urus dulu masalah kamu dengan Viona, setelah itu kamu boleh temui aku lagi." Ujar Dwi.
"Apa kamu mengusirku?" Tanya Azka yang terlihat kecewa.
"Anggap saja begitu!" Tegas Dwi, seraya memalingkan wajah.
Dwi menatap nanar kepergian Azka. "Rasanya aku ingin sekali mempercayai mu! tapi aku tidak siap untuk kembali terluka." Batin Dwi merasa bersalah.
_
Sepulangnya dari rumah Nek Eva, Azka langsung menemui Viona dirumahnya. Rumah yang begitu megah itu terasa sepi bak tak berpenghuni, karena hanya ditempati oleh Pak Bagas dan Viona, serta beberapa pembantunya.
__ADS_1
"Ada apa Azka? apa kamu merindukan aku, sehingga kamu harus repot-repot kesini." Tanya Viona tersenyum penuh arti.
"Kenapa kamu mengarang cerita, seolah-olah kamu itu sedang hamil?" Tanya Azka to the point.
"Dwi pasti sudah memberi tahu Azka tentang kehamilan ku. Tapi baguslah!" Batinnya. "Aku tidak mengarang! karena aku memang benar-benar hamil." Ujar Viona.
"Jangan bohong kamu!" Sentak Azka. "Kamu pikir aku akan mempercayaimu? tidak sama sekali!" Decaknya.
Viona pun memberikan bukti kehamilannya kepada Azka.
Azka mengambil poto USG Viona, lalu menyunggingkan senyumannya. "Dengan gambar ini, kamu pikir aku akan percaya? kamu bisa saja memalsukan kehamilan mu, aku tahu betul selicik apa dirimu." Desah Azka.
"Lalu aku harus apa biar kamu percaya?" tanyanya.
"Ikut aku..." Azka menarik paksa pergelangan tangan Viona.
"Pelan-pelan dong Ka. Kamu kasar banget si." Desis Viona.
__ADS_1
Azka meminta Viona untuk masuk kedalam mobilnya, dia pun melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
"Azka, tolong pelankan laju mobilnya." Pinta Viona, namun Azka tidak memperdulikannya.