Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 62


__ADS_3

Azka dan Viona bicara ditaman, tak jauh dari restoran Azka. Azka duduk di kursi taman, dan diikuti oleh Viona yang juga duduk disampingnya. Viona menatap lekat wajah Azka dari samping.


"Azka..."


Azka pun menoleh. "Bicaralah! aku tidak memiliki banyak waktu untuk ini." Tuturnya bersikap dingin.


Viona memeluk tangan Azka dan menyandarkan kepala di bahu Azka. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ternyata sepasang bola mata sedang memperhatikan keduanya.


"Viona, apa yang kamu lakukan?"


"Aku cuma mau bilang! kalau aku sangat merindukanmu." Ujar Viona, lalu mendongak keatas menatap kedua bola mata Azka.


Azka melepas pelukan Viona, lalu mendorong pelan tubuhnya agar tersisa jarak diantara mereka. "Seharusnya kamu mengerti, jika cinta memang tidak bisa dipaksakan!" Ujar Azka, meluruskan pandangan kedepan.


"Tidakkah kamu melihat, betapa tulusnya aku mencintai kamu? aku rela memberikan apapun demi kamu, dengan syarat! tolong beri aku kesempatan satu kali saja. Hanya satu kali saja?!"


"Kamu terus memintaku memberikan kesempatan untukmu, tapi apakah kamu juga pernah memahami perasaan Edwin? dia itu sangat tulus mencintai kamu. Tidakkah kamu mau memberinya kesempatan?" Tanya Azka. "Aku yakin, jika kamu mau memberinya satu kesempatan saja. Dia pasti akan membahagiakan mu, dan menjadikanmu ratu dihatinya." Tutur Azka.


"Aku memang nyaman sama dia, tapi hanya sebatas teman." Ujar Viona.


"Berarti aku tidak perlu menjawab, kenapa aku tidak mau menerima kamu. Karena kamu sendiri pun pasti tahu alasannya!" Ucap Azka. "Dan asal kamu tahu, Dwi itu sekarang sedang mengandung anakku, maka berhentilah mengejarku! karena aku akan memperjuangkan Dwi, agar dia mau kembali kepelukan ku."


"Apa?! jadi Dwi sedang hamil?"


Azka mengangguk. "Iya."


"Tapi, apa kamu yakin kalau anak yang dikandung Dwi itu anak kamu?" Viona menghasut Azka, agar Azka meragukan janin yang ada didalam kandungan Dwi.


"Dwi itu perempuan baik-baik! dia tidak akan mungkin macam-macam dengan pria lain, tanpa adanya status pernikahan." Jelas Azka.


Ucapan Azka seakan tamparan bagi Viona. Bagaimana tidak! dia bahkan berkali-kali telah melakukan perbuatan terlarang itu dengan Edwin saat dihotel dan ketika dirumah Edwin.


Azka menoleh kearah jarum jam yang ada ditangannya. "Ini sudah cukup lama. Maaf, aku harus segera kembali ke resto." Tutur Azka, kemudian pergi meninggalkan Viona yang masih duduk termenung dikursi taman.


"Kamu jahat Azka! kamu jahat!" Gumam Viona. "Kamu bahkan tidak mau memberiku kesempatan untuk bisa memiliki mu." Lanjutnya dengan air mata yang sudah jatuh berderai.

__ADS_1


***


Dwi membantu Ibunya memasak di dapur. Sejak ikut les memasak, masakan Dwi tidak kalah enaknya sama masakan buatan Bu Patma. Setelah semua makanan dihidangkan, Dwi memanggil Pak Mukti, Dio dan juga Ica untuk makan siang.


"Makanannya enak! pasti Ibu yang masak." Tutur Ica, seraya mencicipi makanan tersebut.


"Kakak juga bantuin loh Dek." Sahut Dwi, seraya mengambilkan nasi untuk Ayahnya.


"Masa sikh? Ica gak percaya kalau Kakak sekarang bisa bantuin ibu masak."


"Kalau Dio Sikh, gak peduli mau siapapun yang masak! yang jelas, makanan ini enak dan bisa buat perut Dio kenyang." Sahut Dio, dan seketika membuat Ayah, Ibu, kakak dan adiknya tertawa serentak.


"Yang dikatakan jagoan Ayah itu benar! yang penting makanannya enak dan bisa bikin perut kenyang." Ujar Pak Mukti terkekeh.


Tok tok tok...


Disela-sela makan, tiba-tiba pintu rumah Pak Mukti di ketuk orang.


"Ada tamu, Ibu bukain pintu dulu ya." Ujar Bu Patma, namun dicegah oleh Dwi.


"Biar aku saja Bu." Ucap Dwi. Dia pun berjalan ke ruang tengah lalu membukakan pintu. Dia terkejut saat melihat siapa yang datang.


"Bukan hal yang sulit untuk aku, bisa mengetahui dimana keberadaan kamu sekarang." Jawabnya.


"Silahkan masuk Pak." Pinta Dwi.


"Terima kasih." Erick pun masuk, dan mengamati setiap ruangan itu.


"Silahkan duduk Pak." Ucap Dwi. "Oya, Bapak mau minum apa?" Tanyanya.


"Tidak usah repot-repot." Ujar Erick, seraya terus menatap sekeliling rumah yang terlihat sangat sederhana itu.


"Kalau gitu aku buatin Bapak teh ya?" Tanya Dwi.


"Sudah aku bilang tidak usah!" Jawabnya bernada tinggi.

__ADS_1


Dwi pun duduk disofa berhadapan dengan Erick. "Kalau boleh saya tahu, kenapa Bapak datang kemari?" Tanya Dwi sangat hati-hati, karena takut atasannya itu akan tersinggung.


"Sekedar hanya ingin bersilaturahmi dengan keluarga kamu." Jawabnya.


"Bersilaturahmi?" Tanya Dwi, sedikit bingung.


"Ya." Jawabnya singkat.


"Setahu aku, Pak Erick itu tipe orang yang tidak mudah akrab dengan orang asing. Tapi kok mau-maunya dia jauh-jauh datang kesini? padahal kita belum lama, saling mengenal." Batin Dwi.


"Dwi, siapa yang datang?" Tanya Bu Patma yang keluar dari arah dapur.


Erick berdiri, lalu mengulurkan tangan. Dengan cepat Bu Patma menjabat tangannya. "Saya Erick, atasannya Dwi." Tuturnya.


"Oh, jadi Pak Erick ini atasannya Dwi ya." Bu Patma ramah tamah kepadanya. "Apa gerangan yang membuat Pak Erick, sehingga jauh-jauh datang kesini? Bapak tidak ingin memecat Dwi kan?" Tanya Bu Patma.


Erick tersenyum. "Tentu tidak Bu! apakah saya tidak boleh datang kemari, hanya untuk sekedar bersilaturahmi dengan keluarga Ibu?"


"Tentu saja boleh!" Ujar Bu Patma. "Pintu rumah ini terbuka untuk siapa saja." Lanjutnya.


"Kok Pak Erick memanggil Ibu, Ibu juga si? sama seperti aku, Dio, dan juga Ica." Batinnya.


"Kebetulan kita semua sedang makan! jika mau, Pak Erick kita ajak makan sekalian. Pak Erick mau kan, mencicipi masakan Ibu dan Dwi?" Tanya Bu Patma.


"Tidak usah Bu, terima kasih sebelumnya! tapi maaf, karena saya tidak bisa berlama-lama. Karena saya harus segera kekantor." Tolaknya secara halus.


"Tidak apa-apa. Ibu bisa memaklumi kesibukan kamu." Tutur Bu Patma.


"Dwi, saat itu kamu ijin cuti hanya dua hari kan?! berarti besok kamu bisa kembali bekerja." Ucap Erick kepada Dwi.


"Iya pak, besok saya akan bekerja." Ujar Dwi.


"Apa sekarang kamu akan kembali ke kota J? jika ya, kita bisa pergi sama-sama." Ajaknya.


"Tidak usah Pak. Bukankah tadi Bapak bilang, Bapak tidak bisa berlama-lama disini! lagi pula, saya akan kembali ke kota J besok, bersama Ayah, Ibu dan adik-adikku." Jelas Dwi.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku pamit." Ucap Erick kepada Dwi. Dia pun menoleh kepada Bu Patma. "Bu saya pamit ya."


"Ya, hati-hati Pak Erick. Dan terima kasih karena Bapak sudah memperlakukan Dwi dengan baik, selama bekerja diperusahaan Bapak." Tuturnya. Setelah Erick pergi, Dwi dan Ibunya kembali ke meja makan.


__ADS_2