
dwi meraih ponsel dari dalam saku celananya. dia pun menghubungi nomer azka.
"halo? kamu dimana." tanya dwi.
"kenapa? kangennya?" goda azka lewat sambungan teleponnya.
"aku serius!" sentaknya.
"aku juga."
tut.
tiba-tiba dwi menutup telponnya.
"kok dimatiin sikh?" gumam azka. azka pun mencoba menghubunginya kembali.
"ada apa?" sinis dwi dari balik sambungan telepon.
"mobilku mogok, dan aku tidak tahu bengkel terdekat di sekitar sini." ujar azka.
"kamu kan bisa menanyakannya kepada orang lain. situ punya mulut kan?" ketus dwi.
"masalahnya disini dari tadi aku tidak melihat orang."
"masa sikh? memangnya sekarang posisi kamu dimana?"
"aku juga gak tahu, yang jelas di sekitar sini tuh banyak kolam ikan."
seketika dwi tahu tempat yang dikatakan azka tersebut.
"ya udah, kamu tunggu! aku akan segera kesana." pungkas dwi lalu kembali menutup teleponnya.
"bagai mana wi?" tanya bu patma.
"ternyata mobil azka mogok, dan aku akan segera kesana."
"ya sudah, kamu ajak farhan." pinta bu patma.
"kenapa aku harus mengajaknya?"
"farhan sekarang bekerja di bengkel, dan menjadi mekanik di sana."
"wah hebat si farhan." gumamnya.
"ya sudah pergi sana. kasihan azka jika menunggu terlalu lama." ujar bu patma.
***
beberapa saat kemudian dwi tiba bersama seorang laki-laki tinggi dan berwajah lumayan tampan. azka menatap kepada laki-laki yang baru saja berboncengan dengan dwi.
"mobilnya kenapa A?"
"gak tau nih, tiba-tiba saja mesinnya gak mau menyala."
farhan langsung mengecek kondisi mobilnya tersebut. "penyebab mesin mobilnya mati karena over heat. aku sudah mengecek bostel dinamo dan air radiatornya semuanya aman. sekarang coba nyalakan kembali mesin mobilnya." pinta farhan.
azka pun menyalakannya kembali, dan benar saja mesin mobilnya kembali menyala.
azka keluar dari mobil. "jadi berapa bang?" tanyanya.
"tidak usah, lagian aku hanya mengecek saja, dan ternyata mobilnya juga tidak apa-apa." ucap farhan.
"jadi kamu bohongin kita?" sentak dwi kepada azka.
"bukannya ngebohongin wi, kendaraan mati secara tiba-tiba memang sering terjadi. dan itu di sebabkan karena mesin terlalu panas." jelas farhan.
"walau bagai manapun aku tetap harus membayarmu, karena kamu sudah jauh-jauh datang kesini." ucap azka seraya menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu kepada farhan.
__ADS_1
"simpan saja uang mu."ucap farhan seraya tersenyum. "anggap saja pertemuan kita ini sebagai awal perkenalan kita. dwi itu temanku, berarti kamu temanku juga." tandasnya.
azka tersenyum. "baik, kalau begitu terima kasih banyak. dan ini kartu namaku, hubungi aku jika sewaktu-waktu kamu memerlukan bantuanku." ucap azka.
farhan mengangguk dan tersenyum. lalu dia berpamitan kepada azka dan dwi.
azka pun memasuki mobilnya. "kenapa diam saja? cepatlah masuk jika tidak ingin aku tinggal." ujar azka.
sebelum kembali ke kota J azka menemui bu patma dulu untuk berpamitan. hingga kemudian dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju apartemen miliknya.
***
apartemen.
"tadi itu beneran temanmu?" tanya azka.
"ya. kenapa kamu menanyakannya?"
"tidak apa-apa."
"terlalu naif jika aku beranggapan kalau kamu cemburu kepadanya." ujar dwi secara spontan menggodanya.
byuarr... azka langsung menyemburkan air botol mineral yang baru saja di minumnya.
"tolong bersihkan." ucap azka lalu pergi ke kamarnya.
"hekh, kamu pikir aku pembantu mu apa? bisa seenaknya kamu suruh-suruh seperti itu?" teriak dwi dengan geram.
azka berlalu tak memperdulikannya.
"aisshhh..." umpatnya. mau tidak mau dwi pun membersihkannya.
***
..._club malam_...
"sudah lama aku tidak kesini." batin dwi. "ekh itu sindi." gumamnya saat melihat wajah sepupunya dia pun menghampirinya.
"hai sin." sapa dwi.
"dwi kamu sendirian aja? dimana suamimu?" tanya sindi.
"mungkin dia masih bekerja."
"jadi gimana?"
"gimana apanya?" tanya dwi dengan polosnya.
"nikah itu enak kan? ada yang nemenin bobo." goda sindi.
"apaan sikh." dwi tersenyum dengan yang di buat-buat.
"kamu sendiri kesini sama siapa?" tanya dwi.
"sama robby."
"robby? siapa lagi tuh?"
"cowok aku lakh." ujar sindi dengan bangganya.
"aku senang, akhirnya kamu sudah move-on dari riko."
"apa yang bisa aku harapkan dari cowok brengsek seperti dia! ternyata selama ini dia itu tidak bersungguh-sungguh untuk menikahiku, dia hanya mempermainkan ku." geram sindi.
"aku senang, akhirnya kamu mau membuka mata hati kamu, kalau riko itu memang bukan laki-laki yang baik." ucap dwi.
"lalu bagai mana denganmu? apa kamu juga sudah membuka mata hati kamu, kalau azka itu tidak seburuk apa yang kamu pikirkan." tanyanya.
__ADS_1
"apaan sikh sin, kenapa jadi ngebahas itu orang." desis dwi seraya membelalakkan matanya.
sindi tersenyum. dia pun menoleh kearah sloki yang ada di tangan dwi. "kamu sudah kuat minum belum?"
dwi menggelengkan kepalanya.
"hakh, dasar payah." umpatnya. "oya, aku ingin memperingati mu, hati-hati dengan riko." ujar sindi.
"riko? bukannya azka sudah melaporkannya ke kantor polisi, karena dia sudah berniat untuk melecehkanku. ku pikir dia sudah di tahan."
"kalian tidak mempunyai bukti yang cukup untuk memenjarakannya. selain itu, aku juga mendengar kalau dia akan melaporkan azka balik dengan tuduhan penganiayaan."
"apa?" dwi sangat terkejut mendengarnya.
"apa azka memukuli riko saat dia ingin menolongmu?"
"aku kurang tahu! aku tidak ingat apa-apa, karena riko mencekoki ku dengan minuman sehingga aku tidak sadar."
"jadi kamu sama sekali tidak ingat apa-apa pada saat kejadian itu?"
"ya." dwi mengangguk.
"ayo ikut aku..." sindi menarik tangan dwi.
"mau kemana?" tanya dwi.
"kita harus tes keperawanan."
"jangan ngaco." dwi menepis tangan sindi. "walaupun tidak sadar, tapi aku yakin, kalau saat itu riko belum sempat melakukan niat bejadnya terhadapku karena azka keburu datang menolongku." ujar dwi.
"oke, kita anggap saja kalau riko memang belum sempat berbuat macam-macam sama kamu. tapi bagai mana dengan azka? apa kamu yakin kalau kamu masih perawan, walau bagai mana pun azka itu pria yang normal loh." sindi tampak mengompori.
dwi tertegun mendengar perkataan sindi. apa lagi waktu itu azka juga bilang kalau dia memang telah melakukan itu kepadanya.
"tidak bisa dibiarkan! ini tidak mungkin terjadi." batinnya.
"ekh, cowok aku tuh." ucapnya. "sini sayang." lanjut sindi seraya melambaikan tangannya kepada laki-laki itu.
dwi terkejut saat melihat sosok laki-laki yang di panggil sayang oleh sindi.
"sayang kenalin, dia sepupu aku." ucap sindi kepada laki-laki itu.
"hai, aku robby." ucap pria itu.
"hai om, aku dwi." ucapnya.
"kok om sikh?" ucap pria yang sudah berusia sekitar 40 tahunan itu.
"jangan sembarangan wi, dia pacar aku." bisik sindi di telinga dwi.
"ya habisnya aku harus panggil dia apa? masa aku harus panggil dia nama, kan gak sopan." dwi membalas bisikan sindi.
"ya tapi jangan om juga kali." desisnya.
pria itu tampak memperhatikan sikap keduanya.
"em, ya udah kalau gitu aku cabut duluan ya." ujar dwi. dia pun berlalu pergi.
"memangnya aku setua itu ya?" tanya pria itu.
"enggak kok sayang, kamu terlihat lebih muda dari usia kamu kok." sindi merayunya.
"oya? memangnya aku terlihat seperti umur berapa di matamu?" tanya pria itu yang tampak cengar-cengir.
"41 tahun." jawab sindi.
"lah, itu memang umurku. berarti aku tidak terlihat lebih muda dong." imbuhnya.
__ADS_1