
Sindi berjalan menyusuri koridor kantor dengan tulisan yang menempel di-punggungnya sehingga kini ia jadi pusat perhatian. Tak sedikit juga pemuda nackal dan pria hidung belang yang menggodanya.
"Wit wiw... Serius nih Sin, bisa nego..." Seru salah satu staf yang masih singgel.
"Sindi, satu jam nego ya?!"
"Sindi, aku juga mau di-puasin sama kamu..."
Sindi merasa heran, kenapa tiba-tiba orang disekitarnya bersikap aneh menurutnya. Tapi sepanjang itu masih batas yang wajar, dalam artian tidak ada yang menggodanya dengan cara menyentuh fisiknya, Sindi masih bisa santai menanggapi kelakuan menyebalkan mereka.
"Sindi..." Yola yang mengetahui apa alasan, mengapa semua staf menggoda Sindi pun menghampirinya, lalu melepas tulisan itu dari punggung Sindi lalu memberikannya. "Mereka bicara kurang ajar sama kamu itu gara-gara ini." Menyerahkan.
Sindi menerima lalu meremasnya hingga berbentuk bulat seperti bola pingpong. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, dia langsung bergegas untuk mencari Nina dan membuat perhitungan dengannya.
Bruaaakkkkkkkk...
Sindi membuka pintu sangat keras sehingga membuat Cika dan Doni terkejut. Mereka pun berdiri dari duduknya menatap intens kepada Sindi dengan raut wajah yang amat murka.
"Gawat! si Sindi kayaknya bakal ngamuk." Batin Cika. Karena takut dia pun berlindung di-punggung Doni.
"Mana Nina?" Teriaknya. "Pasti kalian kan, yang sudah mengerjai aku!" Sindi menuduh bukan tanpa alasan. Karena tadi hanya Nina dan Cika lah yang ada di pantry bersamanya.
"Sin, ini sebenarnya ada apa?" Tanya Doni yang belum tahu apa-apa. Dia mendekati Sindi.
"Kamu lihat ini!" Sindi menunjukkannya.
Setelah membaca tulisan itu, Doni memutar badan menatap kepada Cika. "Cik, kenapa si kalian gak ada habis-habisnya ngerjain Sindi! memangnya Sindi itu salah apa sama kalian?"
"Yang nempelin itu Nina, bukan aku!" Cika melakukan pembelaan.
"Tapi kamu sekongkol kan sama Nina?" Sindi melakukan penekanan.
"Aku-" Kali ini Cika terlihat ketakutan melihat sorot mata Sindi yang teramat tajam. "Aku mi-minta maaf."
__ADS_1
"Kemari kau!" Sindi menarik tangan Cika untuk memberinya pelajaran.
Cika terus berusaha berlindung dibalik punggung Doni. "Don, tolong aku Don."
"Sin, udah dong Sin! jangan kayak anak kecil." Pinta Doni, yang mulai pusing dengan tingkah kedua perempuan yang ada dihadapannya.
"Aku harus memberinya pelajaran!" Sindi berhasil meraih rambut Cika dan langsung menjambaknya.
"Aw... Sakit be-go!" Pekiknya. Namun apa peduli Sindi, dia tetap menjambak rambut Cika, malah semakin keras.
"Sin, sudah dong Sin... Apa-apaan sikh kamu?!" Ucapannya tak didengarkan oleh Sindi, refleks Doni pun berbuat sedikit kasar dengan cara mendorong Sindi hingga dia melepaskan jambakannya.
Sindi menohok mendapatkan perlakuan itu dari Doni.
Doni yang sadar akan hal itu, langsung meminta maaf kepada Sindi. Namun tampaknya Sindi sudah terlanjur kecewa karena merasa kalau Doni lebih membela Cika dari pada dia. Dengan raut wajah yang tampak kesal, Sindi keluar dari pantry.
Belum hilang kekesalannya terhadap Cika dan Doni. Sindi dihadapkan dengan Erick dan Pak Farhan yang sedang berjalan menuju ruang meeting bersama para pengusaha muda lain, dan tampaknya mereka klien baru dari Erick.
Saat melewati Sindi, beberapa dari eksekutif muda itu menoleh kearahnya seraya tersenyum. Sebagai seorang office girl, tampang Sindi memang sangat mencolok karena parasnya yang cantik dan kulitnya yang putih mulus.
**
"Oak-oak..." Suara tangisan bayi terdengar sangat keras. Dwi yang kala itu sedang membantu persiapan pernikahannya dengan cepat masuk kamar untuk melihat anaknya. Dwi terkejut saat melihat dua orang penyusup masuk kedalam kamarnya lewat jendela dan membawa baby Wika pergi. Dwi sempat mengejar orang tersebut, namun salah satu dari mereka mendorongnya hingga dia terjatuh dan mengakibatkan kakinya terkilir.
"Tolong..." Pekik Dwi. "Bayi ku!" Dwi berusaha menahan rasa yang teramat sakit di-kakinya untuk mengejar dua orang itu.
Pak Mukti dan semua keluarga berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Dwi ambruk di-halaman rumah mereka dengan menangis seraya berteriak meminta anaknya untuk dikembalikan.
"Dwi, apa yang terjadi?" Pak Mukti berusaha membangkitkan Dwi, namun tidak bisa. Tampaknya cidera di-kaki Dwi cukup parah, sehingga Pak Mukti pun menggendongnya dan mendudukkannya di-bangku depan.
"Ayah, tolong kejar anakku! tadi aku melihat dua orang pria masuk kedalam kamar dan membawa Wika pergi." Dwi bicara tak beraturan saking paniknya karena mencemaskan baby nya.
"Iya nak. Ayah akan kejar mereka!"
__ADS_1
"Cepetan Ayah! mereka lari ke-sebelah sana." Dwi menunjuk.
"Iya nak." Dengan cepat Pak Mukti pun bergegas untuk mengejar kedua orang yang diceritakan Dwi, dengan sepeda motornya.
"Cidera di-kaki mu sepertinya cukup parah, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit." Saran Bu Patma.
"Tidak Bu, aku mau disini saja! sampai Ayah kembali dengan membawa Wika pulang." Air mata tak mau berhenti dan terus mengalir dipelupuk matanya.
Bu Patma mengambil ponsel lalu memberitahu Azka tentang penculikan baby Wika. Lantas dengan cepat Azka pun ikut mencari kemana kedua pria itu membawa anaknya.
"Bu, apa gak sebaiknya kita lapor polisi saja?" Dio mulai angkat suara.
Drrrtttttt...
Tiba-tiba ponsel Dwi bergetar pertanda ada pesan masuk. Dengan cepat Dwi membaca isi pesan itu. "Jika ingin anakmu selamat! jangan coba-coba untuk melapor polisi." Dwi pun menangis sejadi-jadinya. "Bu, bagaimana ini? aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Wika Bu. Hiks... Hiks..."
"Tenang saja nak, Nenek yakin orang itu tidak akan berani menyakiti anak kamu." Nek Eva berusaha untuk menenangkan.
"Tapi Nek, bagaimana kalau Dede Wika di apa-apain sama orang jahat itu? Ica gak mau Nek, Ica sayang sama Dede Wika. Hiks... Hiks..." Ica ikut menangis sehingga membuat suasana disana menjadi sangat tegang.
Dio masuk kedalam untuk mengambil kunci motornya. Tak lama kemudian dia keluar dengan tergesa-gesa.
"Dio, kamu mau kemana?" Tanya Bu Patma.
"Dio gak bisa tinggal diam! Dio akan cari dua orang yang sudah berani bawa baby Wika pergi." Kesal Dio kepada para penculik itu.
"Dio, kamu jangan nekat!" Teriak Dwi. "Memangnya kamu bisa apa?! kamu itu hanya seorang anak kecil." Ujar Dwi terkesan meremehkan.
"Dio gak peduli kak." Dio langsung menyalakan mesin motornya lalu pergi begitu saja meninggalkan semua orang yang mengkhawatirkan nya.
"Dio!" Teriak Dwi. Saat dia berusaha untuk bangkit tiba-tiba. "Akh..." Pekiknya.
"Sudahlah Wi, sebaiknya kamu istirahat saja." Ujar Nek Eva. "Nenek akan memanggil tukang urut untuk mengobati cidera mu." Lanjutnya.
__ADS_1
Sementara Neneknya pergi. Bu Patma memapah Dwi untuk masuk kedalam dan mendudukkannya diruang tamu. Tak lama kemudian Bu Asmi datang, Sementara Azka da Pak Ardi langsung pergi mencari baby Wika.