
riko terus melajukan mobilnya. entah kemana dia akan pergi membawa dwi. sepanjang perjalanan dwi terus memikirkan cara untuk bisa kabur dari riko. dwi terus memandang ke samping kaca mobil. tak sengaja, dia melihat edwin yang baru keluar dari minimarket dengan minuman botol yang ada di tangannya. dwi tak menyia-nyiakan kesempatan itu. dia langsung berteriak.
"edwin tolong aku..." ucap dwi seraya memukul-mukul kaca mobil.
"dwi apa yang sedang kamu lakukan?" riko membungkam mulut dwi dengan tangan kirinya, lalu mengurangi kecepatan mobilnya.
"bu dwi?" dengan cepat edwin masuk mobil lalu mengikuti mobil riko. dia pun segera memberi tahu azka lewat sambungan telepon seluler. tak lupa dia juga mengaktifkan pengaturan lokasi handphone nya agar azka bisa dengan mudah menemukannya. karena edwin sendiri tidak tahu riko akan membawa dwi kemana.
riko membawa dwi cukup jauh dari daerah tempat tinggal mereka.
"sebenarnya kamu mau bawa aku kemana?" tanyanya yang heran, karena ini pertama kalinya dwi melewati jalan itu. sekelilingnya berjejeran pohon vinus, dwi bahkan tidak melihat ada bangunan rumah warga satu pun di tempat yang di lalui nya.
"nanti juga kamu akan tahu." ucapnya yang tersenyum licik.
beberapa menit kemudian mobil berhenti di halaman sebuah rumah yang mewah dan megah. dwi menatap sekeliling.
"tempat apa ini?" tanyanya.
"ini adalah tempatku menikmati keindahan dunia." ucap riko. "ayo turun, ikut aku." riko memegangi tangan dwi, setengah menyeretnya.
"pak riko jangan macam-macam. aku sudah menikah." ucap dwi.
"suamimu tidak menginginkan mu!" ucap riko seraya terus menarik tangannya.
"jangan sembarangan! azka mencintaiku. kita bahkan sudah melakukannya." ucap dwi tengah berbohong.
"memangnya apa yang kalian lakukan?" riko menatap wajah dwi.
"ya itu."
"itu apa?" sentaknya.
"yang, yang dilakukan suami istri pa-pada umumnya." ucap dwi gelagapan.
"memangnya apa yang telah terjadi pada kalian? contohkan padaku. apa dia memperlakukan mu seperti ini." ucap riko seraya melepas ikat rambut yang di pakai dwi, hingga rambut panjangnya kini terurai sempurna. rambutnya pun begitu wangi dan memabukan.
__ADS_1
"apa yang kamu lakukan?"
"ya seperti apa yang telah suami mu lakukan. aku juga akan melakukannya." riko mendekap tubuh dwi lalu ingin menciumnya. namun dwi menamparnya.
"kurang ajar." riko terlihat sangat marah saat kena tamparan dari dwi. dia pun mengambil beberapa tali yang ada di kamar itu, lalu mengikat kedua tangannya di atas kepala ranjang.
"brengsek lepaskan aku." teriak dwi.
riko mengambil botol minuman beralkohol lalu memaksa dwi untuk meminumnya. sepertinya riko sengaja ingin mencekoki dwi dengan minuman itu.
"emmm, emmm." dwi berusaha untuk membungkam mulut agar minuman itu tidak masuk kedalam rongga mulutnya.
"ayo sayang, minum ini. ini akan menyehatkan tubuh mu." ucap riko seraya terus memaksa dwi agar membuka mulutnya.
"emm, emmm." dwi tetap berusaha menutup mulutnya. dia tidak bisa berbuat banyak, karena kedua tangannya yang telah di ikat. bahkan riko juga telah mengikat kedua kakinya.
"sepertinya aku harus menggunakan cara lain agar kamu mau membuka mulutmu." ucap riko. dia pun menggigit leher jenjang dwi yang tampak begitu sangat menggoda, sehingga membuatnya berteriak. saat itu juga riko langsung memasukan minuman itu kedalam mulut dwi.
"uhuk-uhuk..." dwi terbatuk-batuk saat minuman itu telah memasuki kerongkongannya. dia masih terlihat melakukan perlawanan..
riko tersenyum menyeringai, dia pun segera melepaskan ikatan dwi dan mendudukannya. riko membelai dan memainkan ujung rambut dwi. "bagai mana, apa kamu sudah siap?" tanya riko, tanpa menunggu jawaban dia langsung memegangi tengkuk dwi dan langsung mengecupnya. kali ini dwi tidak melakukan perlawanan karena keadaannya yang kini sudah setengah sadar.
bruaakkk. tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan keras, dan langsung menarik kerah baju riko dan memukulnya.
"brengsek! berani sekali kamu menyentuhnya." azka tampak membabi buta dan terus menghajarnya hingga riko babak belur.
"pak azka, sudah pak. kalau tidak, dia bisa mati." ujar edwin.
"aku tidak perduli! aku akan menghabisinya." ucap azka yang tidak mau menghentikan aksinya.
"pak azka, lebih baik bapak bawa istri bapak pergi dari sini! kasihan dia. soal pak riko biar aku yang akan mengurusnya"
azka menoleh kepada dwi dan langsung menghampirinya. azka segera membawanya pulang ke apartemen. lalu azka pun merebahkan tubuh dwi di sofa.
"dasar berandal! gara-gara kamu aku hampir saja kehilangan keperawanan ku." oceh dwi kepada azka.
__ADS_1
azka diam saja, tak merespon ucapan dwi, karena dia tahu kalau dwi sedang dalam pengaruh alkohol.
dwi melakukan tindakan yang tak terduga. dia membuka baju atasannya di hadapan azka, dan memperlihatkan tubuhnya terekspos sempurna yang hanya mengenakan pakaian dalam saja.
"dwi, apa yang kamu lakukan." azka tampak panik lalu membuka jasnya dan menyelimuti tubuh dwi dengan jasnya itu.
"singkirkan tanganmu! bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak menyentuhku." ucap dwi dengan melemparkan jas tersebut kesembarang arah.
glek. azka tampak menelan ludahnya saat melihat lekuk tubuh dwi yang kembali terekspos. sebagai seorang pria normal wajar saja kalau dia memiliki keinginan untuk menyentuh benda itu, namun dia kembali menepis pikiran kotornya.
"ayo sentuh aku, aku yakin. kamu pasti tidak akan bisa menahannya. hihihi." dwi tampak cekikikan.
"tutupi tubuhmu! aku ini seorang laki-laki dewasa yang normal." ucap azka.
"kenapa? apa kamu tidak bisa menahannya?" dwi kembali cekikikan akibat pengaruh dari minuman alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya, sehingga membuatnya kini hilang kesadaran.
azka menarik tangan dwi, lalu membawa ke kamar yang di tempati dwi.
"lebih baik kamu tidur." titah azka.
bukannya menuruti perintah azka, dwi malah mendorong tubuh azka ke dinding. "kenapa? sepertinya kamu takut denganku." ucap dwi seraya mendekatkan wajahnya kepada azka. sementara tubuh mereka telah berpadu sempurna. perlahan dwi membuka kancing kemeja azka satu persatu. "wow..." dwi antusias saat melihat tubuh sixpack azka. perlahan dwi meraba-raba dada bidangnya.
tiba-tiba azka mendorong tubuh dwi.
"aww..." pekiknya.
"jangan menyentuhku, atau kamu akan kalah! apa kamu punya uang untuk membayarku?" tanya azka.
tak terima akan perlakuan kasar dari azka, dwi kembali mendekatinya.
"ayolah! lihat tubuhku ini, apa kamu tidak tertarik denganku? aku ini sudah sah menjadi istrimu." ucap dwi menggodanya seraya mengalungkan tangannya di leher azka.
azka merasa tidak tahan lagi melihat godaan yang ada di hadapannya. dia mendekati dwi lalu menciumnya. dwi membalas ciumannya. namun saat azka ingin melakukan hal yang lebih dari sekedar berciuman, dia mengurungkannya. perlahan azka melepas ciumannya lalu mengusap bibir dwi. "tidurlah! ini sudah larut." ucapnya.
"dia dalam pengaruh alkohol! aku tidak bisa melakukannya." batinnya seraya menatap dalam wajah dwi, lalu kemudian keluar.
__ADS_1
"