Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
bukan tipe?


__ADS_3

melihat dwi terdiam, serta nafasnya yang kembang kempis tak karuan. azka pun mendekatinya. "mengapa diam saja? padahal, sepertinya aku sudah mulai bernafsu. mari kita lakukan sekarang." bisiknya di telinga dwi.


"menjauhlah dariku!" dwi mendorong tubuh kekar azka.


"hei, kenapa kamu mendorongku?"


"jangan mendekatiku! kamu bukan tipe ku." ucap dwi lalu kemudian pergi.


*


bruagh.


saat memasuki rumahnya dwi membuka pintu dengan keras sehingga membuat bu patma, pak mukti dan orangtua azka terkejut. dia pun langsung masuk ke dalam kamarnya. bu asmi menoleh kepada pak ardi yang ternyata sedang melihat kearahnya.


"anak itu." batinnya. "sebentar ya bu, pak." ucap bu patma kemudian menyusul dwi ke kamarnya.


tiba-tiba azka berdiri di ambang pintu.


"azka sudah kembali. kalau begitu kita pamit dulu ya pak." ucap pak ardi kepada sahabatnya itu.


"aku harap pak ardi tidak akan kapok untuk datang kesini lagi." ujar pak mukti.


"tentu tidak pak!"


"saya merasa tidak enak, atas apa yang sudah di lakukan anak gadis saya hari ini."


"tidak apa-apa pak. kita bisa memakluminya." ucap pak ardi. "kalau begitu kami ijin pamit sekarang." lanjutnya.


"iya. hati-hati dijalan." pungkasnya.


*


"dwi..." panggil ibunya.


dwi menoleh. "jadi karena ini ibu meminta aku untuk pulang?"tanyanya.


"kalau iya memangnya kenapa?" sentaknya. "kamu itu seharusnya bersyukur karena anak teman ayah kamu itu mau datang kesini disela-sela kesibukannya." ujar bu patma.


"sibuk apa bu? dugem?" ucap dwi.


"jangan sembarangan kamu!" sentaknya.


"aku tidak sembarangan! aku mengatakan yang sebenarnya. kalau aku memang sering melihatnya di club malam." ucap dwi yang tak sengaja mengatakannya.


"apa kamu bilang? coba katakan sekali lagi?" ucap bu patma seraya memukul punggungnya.


"aw, sakit bu. apa-apaan sih, kenapa ibu memukuli ku?" pekiknya.


"dasar anak bodoh! apa kamu tidak sadar akan apa kesalahan mu?" ucap bu patma.


"aku tidak bersalah! aku mengatakan yang sebenarnya." ujarnya.

__ADS_1


"apa itu artinya kamu juga sering ketempat itu?" sentak bu patma seraya terus memukulinya.


dwi terdiam. dia baru sadar akan kesalahannya. kenapa dia harus keceplosan memberi tahu ibunya.


"kenapa diam saja? apa kamu sedang mencari alasan untuk mengelaknya?" tanya bu patma yang sudah tahu betul bagaimana sifat anaknya


"ampun bu. aku mengaku salah, aku tidak akan pergi ke tempat itu lagi." ucap dwi.


seketika ibunya langsung berhenti memukulnya. "awas saja kalau kamu ketahuan berbohong." ucap bu patma, kemudian pandangannya terkunci pada rok pendek yang dikenakan dwi. "rok siapa ini?" tanyanya.


"rok sindi bu."


"kenapa kamu memakainya? bukankah semalam ibu sudah memberikan baju yang lebih sopan untuk kamu kenakan. kenapa kamu tidak memakainya?"


"bajunya terlihat jadul bu. itu lebih cocok untuk ibu."


"apa kamu bilang?" ucap bu patma seraya kembali memukul pundaknya.


"aw, sakit bu..." teriaknya.


"ada apa ini?" tanya pak mukti yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar dwi.


"anak ini yah. masa dia ngatain baju yang ibu belikan untuknya jadul." ucap bu patma yang terlihat emosi.


"coba ayah lihat." pak mukti pun meraih baju itu dari tangan bu patma. "baju ini sangat indah, akan sangat cocok jika ibu yang memakainya. ibu pasti akan terlihat sangat cantik." rayunya.


"ayah bisa saja." ucap bu patma yang terlihat malu-malu.


"tentu." ucap bu patma kemudian keluar dari kamar dwi.


pak mukti menoleh kepada dwi. "kamu istirahat ya." ucapnya.


dwi pun mengangguk.


**


dwi membereskan pakaiannya, lalu memasukkan ke dalam kopernya. pak mukti masuk kedalam lalu mendekatinya.


"kenapa kamu membawa semua pakaianmu?" tanya pak mukti.


"aku sudah memutuskan, kalau aku akan tinggal di rumah nenek saja." ujarnya.


"ini pasti karena sikap ibumu terhadapmu, iyakan?"


dwi tertegun. "tidak yah, aku hanya merasa sudah nyaman saja tinggal dengan nenek." lirihnya.


"baiklah! dulu ayah yang memaksamu untuk tinggal sementara waktu dengan nenekmu. maafkan ayah? ayah tidak bermaksud untuk mengucilkan mu." ucap pak mukti, permintaan maafnya terdengar sangat tulus.


"tidak apa-apa ayah. aku akan berusaha menjadi anak yang baik. dan sekarang aku sudah mandiri dan bisa menghasilkan uang sendiri, itu semua berkat ayah. aku janji, suatu saat aku akan membahagiakan ayah." ucap dwi.


"terima kasih nak. ayah bangga sama kamu." ucap pak mukti kemudian memeluknya.

__ADS_1


"aku dengar, ayah akan menjodohkan aku dengan laki-laki yang kemarin datang kerumah ini. apa itu benar yah?"


"iya. apa ibu yang memberi tahumu?"


"tidak! laki-laki itu yang memberi tahuku."


"ayah senang kalian cepat akrab."


seketika dwi langsung mengernyitkan dahinya. "tidak seperti itu ayah!"


"ayah tahu, azka itu laki-laki yang sangat tampan. selain itu dia juga seorang laki-laki yang setia." ujarnya.


"dia tidak tampan! dan dia juga bukan orang yang setia." desus dwi.


"ayah jauh lebih mengenalnya dari pada kamu. ayah harap, kalau azka sampai mau menerima perjodohan ini, kamu juga tidak akan menolaknya." ucap ayahnya.


"aku harap laki-laki itu akan menolak perjodohan ini." batinnya.


***


"dwi, aku senang kamu sudah bisa kembali bekerja." ucap riko yang memasuki ruangannya.


"iya pak." ucap dwi yang terlihat sedikit risih dengan kehadirannya. dwi tampak pokus bekerja.


"apa kamu sudah makan siang?"


dwi menggelengkan kepalanya.


"kalau begitu ayo kita makan siang sama-sama?" ajaknya.


"sebaiknya bapak mengajak sindi saja." tolaknya.


"apa kamu sedang menolak perintah ku?"


"apa? perintah?" tanyanya.


"iya. karena setiap keinginan dari atasanmu itu adalah perintah bagimu."


"maaf pak. aku sangat menghormati bapak sebagai atasanku! tapi aku juga sangat menghargai perasaan sindi sepupuku. kalau bapak menyuruh aku untuk memilih, jelas aku akan memilih sindi dan memilih untuk berhenti bekerja di kantor ini. karena sindi juga aku bisa bekerja di perusahaan sebesar ini."


"baiklah! kali ini aku akan mengalah padamu. tapi aku yakin, suatu saat aku pasti akan bisa menaklukkan hatimu." ucapnya hingga dia pun keluar dari ruang kerja dwi.


tanpa sadar, ternyata sedari tadi sindi mengintip dari balik pintu, dan mendengar semua ucapannya. sindi langsung menghampiri dwi. "dwi..." panggilnya.


"kamu sudah kesini, apa kita akan makan siang sekarang?" tanyanya antusias karena perutnya sudah terasa keroncongan.


"tadinya aku datang kesini memang untuk itu. tapi selera makanku hilang setelah aku mendengar ucapan riko kepadamu barusan." lirihnya.


"sindi, aku harap kamu tidak akan salah paham kepadaku lagi. aku berjanji, aku tidak akan pernah merebut pak riko darimu."


"untuk saat ini mungkin tidak! tapi kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa? riko itu laki-laki yang sempurna! dia tampan dan memiliki semuanya. aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan luluh kepadanya." ucap sindi menatap lekat wajah dwi, hingga kemudian dia keluar.

__ADS_1


"sempurna? bagaimana bisa seorang laki-laki buaya darat kamu bilang sempurna?" gumam dwi.


__ADS_2