
tak lama dwi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di tubuhnya. dia terlihat begitu sangat menggoda.
"dari mana saja kamu semalam? kenapa pulang larut malam?" tanya azka.
"seharusnya aku yang menanyakan itu padamu." jawab dwi.
azka tertegun sejenak. "semalam aku keluar untuk mencarimu." jawabnya.
dwi terdiam, tak merespon.
"kenapa kamu pergi dengan riko? seharusnya kamu menjauhinya." ucap azka menatap dalam wajah dwi.
deg. dwi terkejut, kenapa azka bisa tahu kalau semalam dia memang pergi dengan riko. namun lagi-lagi dwi hanya diam dan tak menggubris pertanyaan azka.
"aku minta maaf, karena kemarin aku sudah memarahimu. seharusnya aku bisa lebih mengerti perasaanmu waktu itu." ucap azka terdengar tulus. "tapi aku kecewa. di saat kamu marah, kamu malah lari kepada laki-laki lain." lanjutnya.
"aku tidak lari kepada lelaki lain. dan riko juga bukan pelarianku! ica hilang, dan riko yang telah menemukannya." jelas dwi.
"apa? kapan ica hilang? kenapa kamu tidak memberi tahuku." azka terkejut.
"saat kemarin kita pergi ke mall, dan tidak sengaja melihat kamu bersama viona sedang berpelukan. makannya aku meminta ica untuk masuk ke dalam mall terlebih dulu. namun saat kamu mengajakku pergi, aku malah melupakannya." jelas dwi panjang lebar.
"aku minta maaf, aku tidak tahu kalau saat itu ica juga bersamamu." lirih azka penuh penyesalan. "aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan riko." lanjutnya.
"sama halnya sepertimu. aku juga tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan viona." ucap dwi.
azka meraih tangan dwi untuk meyakinkannya kalau dia memang tidak memiliki perasaan apapun pada viona. azka hanya menganggap viona sebatas teman tidak lebih dari itu. terlebih lagi viona itu seorang anak dari owner hotel tempatnya bekerja. dengan berat hati dwi mencoba memahami situasi yang ada.
"aku berjanji, aku tidak akan merusak kepercayaanmu lagi." pungkas azka.
***
suara bel berbunyi, lantas dwi segera membukakan pintu.
"kamu..."
"aku kemari untuk menjemput ica." ucap riko seraya tersenyum kepadanya. "apa aku boleh masuk?" lanjutnya.
"kak riko sudah datang." seru ica yang tiba-tiba nongol dari belakang dwi.
"ca, apa kamu sudah siap?" tanya riko seraya tersenyum lebar kepadanya.
"tunggu! kalian mau kemana?" tanya dwi saat melihat ica dan riko sudah bergandengan tangan dan hendak pergi.
"apa kamu lupa? kemarin aku sudah berjanji akan membawa ica untuk pergi bermain." jawab riko.
"apa kamu tidak meminta ijinku terlebih dulu? aku ini kakaknya." decak dwi.
"maaf, aku pikir kamu sudah mengijinkannya."
__ADS_1
"aku tidak mengijinkan kalian untuk pergi." ucap dwi bernada sedikit tinggi.
"kakak jahat! kenapa kakak gak mau lihat aku senang." ujar ica.
"ca, kak azka sudah melarang kita untuk pergi keluar dengan orang lain, kecuali bersamanya." ucap dwi.
"tapi kak azka selalu sibuk. dia gak pernah punya waktu untuk kita." rengek ica.
"ca, weekend depan bukankah kak azka sudah berjanji akan membawa ica jalan-jalan." tutur dwi.
"kelamaan! ica maunya sekarang." rengeknya.
riko mengamati perdebatan antara kakak beradik itu. sehingga dia berinisiatif untuk menengahinya.
"kalau kamu memang khawatir dengan ica. kamu bisa ikut kita, agar kamu bisa memastikan kalau aku tidak akan menyakitinya." riko mulai angkat suara.
"aku tidak mau! dan aku juga tidak bisa mengijinkan ica untuk pergi." tegas dwi.
"kak dwi jahat! aku tidak mau tinggal disini lagi." ucap ica yang menangis sembari berlari menuju kamar yang di tempatinya.
"ca..." panggil dwi, sehingga kini membuatnya jadi serba salah. dia sudah berjanji pada azka untuk menjauhi riko, namun dia juga tidak bisa membiarkan ica pergi bersama riko tanpa pengawasannya.
"berada seharian di apartemen tentu akan membuat ica sangat merasa bosan." ucap riko tiba-tiba.
dwi menoleh lalu menatapnya.
"tidakkah kamu bisa merasakan perasaannya?" lanjutnya.
"baik. kalau kamu memang tidak mengijinkan aku untuk membawa ica pergi, aku akan menghormati keputusanmu. tapi kalau kamu berubah pikiran, jangan sungkan untuk menghubungiku." pungkas riko, lalu kemudian pergi.
perlahan dwi membuka pintu kamar lalu mendekati ica dan duduk di sampingnya. dia mengamati raut wajah ica yang tampak cemberut. "kamu marah sama kakak?" tanya dwi dengan pelan.
"aku ingin pergi sama kak riko." lirih ica dengan mata berkaca-kaca.
"kalau ica mau kita bisa pergi berdua, bareng kakak?" bujuk dwi sambil tersenyum.
ica menatap wajah kakaknya yang tampak berseri. "naik apa?" tanya ica.
"kita bisa naik angkutan umum. kalau enggak, kita naik taksi aja biar lebih nyaman." ujar dwi.
"ica maunya naik mobil pribadi." lirihnya.
seketika dwi langsung tertegun. "apa ica lebih senang naik mobil pribadi bersama kak riko? ketimbang naik kendaraan umum bersama kakak?" tanya dwi.
ica mengangkat kepala menatap kakaknya lalu kemudian memeluknya. "ica ingin pergi sama kak dwi saja."
seketika dwi pun langsung tersenyum mendengar ucapan ica.
***
__ADS_1
viona berjalan berlenggak-lenggok bak model fashion, menuju ruangan azka. dia mengetuk pintu hingga azka mempersilahkannya untuk masuk.
"aku ingin mengajakmu pergi ke club." ucapnya to the point.
"aku tidak bisa." tolak azka.
"kenapa? bukankah pekerjaanmu malam ini sudah hampir selesai?" tanyanya.
"aku lelah, dan ingin segera pulang untuk beristirahat." ucap azka.
"sebentar saja. please mau ya?" viona mencoba merayunya.
"maaf. aku tidak bisa." azka membereskan semua berkas yang terpampang di meja lalu memasukannya ke dalam laci.
"apa aku boleh ikut pulang bersamamu?" tanya viona.
"memangnya kemana mobilmu?"
"mobilku lagi di servis."
"hmm." gumam azka. " tapi maaf, sepertinya aku tidak bisa memberikanmu tumpangan." lanjutnya.
viona tampak mendengus kesal.
"aku pulang duluan ya." ucap azka, lalu keluar dari ruangannya.
"semakin hari sikap azka semakin dingin saja. ini pasti gara-gara dwi." pikir viona dalam hatinya.
saat di parkiran tiba-tiba handphone azka bergetar pertanda ada isi chat yang masuk, dia pun membukanya.
"aku dan ica lagi di pasar malam, tak jauh dari apartemen." isi chat tersebut.
alih-alih langsung pulang ke rumah untuk beristirahat, azka justru malah menyusul dwi ke tempat tersebut.
dwi dan ica sedang duduk sembari menikmati aromanis. tiba-tiba azka datang lalu menghampiri keduanya.
"azka, kamu ngapain disini?" tanya dwi.
"kenapa? apa aku tidak boleh datang kesini?" azka malah balik bertanya.
"em, bukan itu maksudku." ujar dwi.
"kak azka kita naik kora-kora yuk." ajak ica seraya menarik tangan azka.
"maaf ca, kakak lelah. lebih baik kalian saja yang bermain." tolak riko dengan halus.
"yah, kak azka gak asyik! beda banget sama kak riko." umpat ica.
"ica!" bentak dwi, saat mendengar ucapan adiknya.
__ADS_1
deg. hati azka sedikit tidak nyaman saat ica menyebutkan nama riko, terlebih membandingkannya dengan dia. namun dia juga tidak bisa menyalahkannya, karena walau bagaimana pun ica hanya seorang gadis kecil yang masih polos dan lugu yang belum mengerti apa-apa.