
Pria itu mengangkat kepalanya menatap kepada Sindi. "Mau apa?" Tanyanya dengan raut wajah yang datar.
"Waw, pria ini maskulin dan sangat mempesona." Seru Sindi dalam hati, seraya menatap balik wajah laki-laki tampan yang ada dihadapannya. Sindi pun berpikir harus bisa mengambil hati pria itu agar dia bisa mendapatkan posisi bagus di perusahaan itu. Sindi mengangkat satu kaki dan menopangkan ke kaki yang satunya lagi, sehingga paha mulusnya terpampang sempurna. Dia juga memainkan ujung rambutnya untuk menggoda pria yang ada dihadapannya, yang dia yakini adalah HRD di perusahaan itu.
Pria itu masih menatap datar, melihat tingkah laku Sindi yang menurutnya seperti perempuan jalaang. "Siapa kamu?" Tanyanya.
Sindi menggibas-gibaskan rambutnya. "Perkenalkan, namaku Sindi." Ucap Sindi, seraya menyodorkan tangannya, namun tak di sambut baik oleh laki-laki itu.
Pria itu kini menatap sinis kepadanya. "Ada perlu apa?"
Perlahan Sindi pun menurunkan tangannya, karena laki-laki itu tidak mau menerima jabat tangannya. " Aku mau interview, dan tolong tempatkan aku di posisi yang paling cocok untuk seorang wanita cantik dan seksi seperti ku." Pintanya.
Pria itu menyunggingkan senyumnya. "Pergilah! perusahaan ini tidak membutuhkan gadis sepertimu." Ujarnya, seraya menatap dengan tajam.
Sindi menohok mendengar perkataan pria yang ada dihadapannya. "Jangan sembarangan! aku ini mahasiswi lulusan D3. Berani sekali kamu bicara seperti itu padaku." Sindi meninggikan suaranya. "Dan asal kamu tahu, aku memiliki pengalaman bekerja di PT. Wijaya selama dua tahun, dan gak main-main jabatan ku disana waktu itu seorang manajer personalia." Lanjutnya.
"Jadi dia pernah bekerja di perusahaan Pak Riko!" Batinnya. "Jadi kamu serius ingin bekerja disini?" Tanyanya dengan raut wajah yang masih terlihat datar.
"Tentu saja." Jawab Sindi. Dia pun mendekati Pria itu lalu merayunya. "Pak, bisakah kamu memberikan ku jabatan tinggi di kantor ini?" Pinta Sindi seraya merapikan kerah baju pria tampan yang ada dihadapannya.
"Tentu saja! aku telah menyiapkan posisi yang paling cocok untuk gadis seperti mu." Ucap laki-laki itu Seraya memicingkan senyumannya. Dia pun menghubungi seseorang, dan tak lama kemudian seorang wanita masuk dan meminta Sindi untuk mengikutinya.
Wanita itu mengambil sebuah pakaian dari lemari, lalu memberikannya kepada Sindi.
"Apaan nih?" Tanya Sindi yang terlihat heran.
"Itu pakaian yang harus kamu kenakan, selama menjadi office girl di kantor ini."
"What?" Sindi sangat terkejut mendengar ucapan wanita itu. "Kamu gila ya? kamu lihat dong baik-baik, aku sudah dandan maksimal seperti ini, masa kamu suruh aku memakai pakaian office girl." Tolaknya.
_
Erick menelepon sekretarisnya, dan memintanya untuk memanggilkan Maya. Tak lama kemudian pintu ruangan Erick di ketuk, dan dia pun langsung mempersilahkannya masuk.
"Maaf Pak, apa Bapak memanggil saya?" Tanya Maya, HRD di perusahaan itu.
"Tadi ada seorang wanita yang masuk kesini, dan sepertinya dia itu salah masuk ruangan." Jawab Erick.
"Maaf, kalau boleh saya tahu, siapa ya Pak?" Tanyanya.
"Seseorang yang mau interview." Jawab Erick.
__ADS_1
"Itu pasti sepupunya Dwi, soalnya kemarin dia bilang, kalau sepupunya ingin melamar pekerjaan diperusahaan ini." Jawab Maya, seadanya.
"Jadi dia sepupunya Dwi?!" Tanya Erick, meyakinkan.
"Sepertinya begitu Pak." Jawabnya.
"Sekarang kamu boleh pergi." Ujar Erick, seraya mengusap-usap dagu-nya.
"Baik. Permisi Pak." Ucap Maya.
"Ya." Erick pun kembali pokus bekerja.
_
Sindi bergegas mencari keberadaan Dwi. Dan saat berhasil menemuinya dia langsung mengamuk diruangan Dwi.
"Dwi..." Teriaknya.
"Sindi." Sahutnya. "Jadi bagaimana, apa kamu sudah bertemu dengan HRD?" Tanya Dwi.
"Tega ya, kamu melakukan ini sama aku?"
"Karyawan biasa kamu bilang? asal kamu tahu, aku ini dipekerjakan menjadi OG, alias office girl. Bagaimana aku tidak marah coba?"
"Apa? kok bisa?" Dwi terkejut, pasalnya kemarin dia telah konfirmasi dahulu kepada HRD sebelum mengajak Sindi kekantor nya.
"HRD nya ngeselin tahu gak! udah sok kegantengan, blagu pula." Gerutu Sindi.
"Apa?! Sok kegantengan? HRD nya kan perempuan, masa kamu bilang sok kegantengan. Kamu gak salah masuk ruangan kan?" Tanya Dwi meyakinkan.
"HRD nya perempuan?! terus tadi yang aku temui siapa?" Sindi malah balik bertanya.
"Ya mana aku tahu!" Sahut Dwi.
"Kalau begitu kamu temani aku menemui HRD ya? sepertinya tadi aku memang salah masuk ruangan." Ujar Sindi.
Dwi mengangguk. Dia pun mengantar Dwi menuju ruangan HRD, namun ditengah-tengah dia berpapasan dengan Maya.
"Dwi, baru saja aku ingin menemui kamu." Ujar Maya. Diapun menoleh kepada gadis seksi yang ada disampingnya.
"Kebetulan dong Bu, aku juga memang ingin menemui Bu Maya." Sahut Dwi.
__ADS_1
"Dia teman kamu yang kemarin kamu bicarakan?" Tanya Maya.
"Iya Bu." Sahut Dwi. "Dan aku ingin menanyakan, apakah benar dia dipekerjakan sebagai office girl disini?" Tanya Dwi.
"Aku belum menyeleksinya." Sahut Maya.
Dwi menoleh kepada Sindi.
"Memang bukan dia sikh, yang tadi aku temui." Ucap Sindi kepada Dwi.
"Jadi gimana Bu? pekerjaan sepupu saya disini sebagai apa?" Tanya Dwi.
"Office girl!" Sahut seseorang dari arah belakang Maya.
Dwi, Sindi dan Maya pun menengok secara bersamaan.
"Pak Erick." Tutur Maya.
"Pekerjaan itu sangat cocok untuk wanita sepertinya." Ucap Erick, seraya menatap sinis kepada Sindi.
"Nah ini dia Wi, laki-laki ngeselin yang tadi aku ceritakan." Sungut Sindi, seraya menunjuk wajah laki-laki yang ada dihadapannya.
"Sindi, turunkan tangan mu!" Dwi menurunkan tangan Sindi, agar tidak menunjuk wajah Erick.
"Jadi dia itu sepupu kamu?" Tanya Erick.
"Iya Pak, saya minta maaf atas sikapnya." Ujar Dwi.
"Aku juga minta maaf, karena aku tidak bisa menempatkan dia sebagai karyawan disini." Ujarnya.
"Maksud Bapak?" Dwi menohok.
"Kalau mau, dia bisa bekerja sebagai OG. Tapi kalau dia tidak mau, dia bisa pergi dari sini." Ucap Erick.
"Okey, fine! kamu pikir hanya kantor ini saja satu-satunya perusahaan yang ada di kota ini. Inget baik-baik ucapanku! kamu akan menyesal karena telah berani mempermalukan aku." Ucap Sindi. "Sekarang mana CEO di perusahaan ini? aku ingin bertemu dengannya, dan akan memintanya untuk memecat orang sepertimu." Ujar Sindi.
Dwi merasa tidak punya muka, melihat sikap Sindi. Dengan cepat dia menarik tangannya untuk segera pergi dari hadapan Erick. "Maaf Pak, saya permisi." Ucap Dwi.
"Dwi, apa-apaan si... Aku ini bukan kambing, jadi gak usah kamu tarik-tarik seperti ini." Desis Sindi.
"Diam!" Sentak Dwi. "Ayo ikut denganku." Pinta Dwi.
__ADS_1