
**
"Bagaimana? apa kamu sudah melakukan apa yang sesuai aku perintahkan?"
"Sudah pak. Saya sudah membawa pak Azka ke hotel, dimana Bu Viona berada."
"Kerja yang bagus!" Ujar Riko. Dia pun meletakan segepok uang dihadapan pria berbadan besar itu. "Ini bonus untuk kalian."
Mereka saling melemparkan pandangan, lalu salah satu dari mereka kemudian menyambar uang tersebut. "Terima kasih pak. Jika pak Riko memerlukan bantuan kita lagi, jangan sungkan untuk menghubungiku."
"Tentu saja." Ucap Riko. "Sekarang kalian boleh pergi." Lanjutnya.
Riko duduk di kursi goyang menatap kearah luar jendela kamarnya. "Dwi." Tuturnya. "Tak ku sangka aku akan tergila-gila kepada wanita unik sepertimu." Riko pun tersenyum saat membayangkan kembali pertemuan pertamanya dengan Dwi.
***
Cit, cit cuiit...
Suara burung yang berkicau dipagi hari membangunkan Dwi. Dia duduk dan menggeliatkan tubuhnya secara memutar. "Sudah pukul Sembilan." Ucapnya. Dia pun beranjak masuk kedalam kamar mandi.
Hari ini hari weekend, jadi Dwi tampak bersantai-santai setelah membersihkan badannya. Tak lama kemudian Sindi masuk kedalam kamar dan duduk disampingnya.
"Wi, ajak aku kerja di kantor kamu dong..." Pinta Sindi.
"Bukannya kamu sudah kerja di kantornya Om, emm... Maksudku bang Robby." Ujar Dwi.
"Aku bosen kerja di kantornya."
"Kok gitu?"
"Gak bisa cuci mata! bosen lihat wajah Robby mulu."
Seketika ucapan Sindi membuat Dwi tertawa.
__ADS_1
"Aishh sialan! malah ngetawain, lagi." Sindi menatap sinis kepada sepupunya itu.
Dwi masih cengengesan. "Aku bisa saja bawa kamu untuk melamar pekerjaan di PT. Prima group. Tapi aku gak janji kalau kamu akan diterima bekerja disana." Ujar Dwi.
"Loh memangnya kenapa? kamu yang pengalaman bekerjanya masih minim saja bisa diterima, masa aku gak!" Ujar Sindi yang seakan menyepelekan kemampuan Dwi.
"Dikh, pake nyela lagi nih anak!" Desis Dwi.
"Jadi gimana? bisa kan?" Tanya Sindi.
"Iya. Tapi nanti ya, setelah aku full time bekerja selama satu bulan disana." Sahut Dwi.
"Memangnya kamu baru berapa lama kerja disana?"
"Jalan dua minggu." Ucap Dwi seraya mengambil cemilan diatas nakas lalu membuka kemasannya kemudian menyantapnya.
"Ngemil mulu! pantas saja pipi kamu sekarang sedikit cabi." Ujar Sindi.
"Ekh Wi, kamu mau aku kenalin sama teman aku gak?"
"Gak!" Jawab Dwi spontan.
"Kenapa? dia itu orangnya baik dan bertanggung jawab loh! dia itu temannya Robby juga." Ucap Sindi, meyakinkan Dwi agar dia mau.
"Berarti tua juga dong!" Celetuknya.
"Aishh..." Sindi melemparkan guling yang sedari tadi dipeluknya kepada Dwi.
"Sin, kamu dengerin aku baik-baik ya?! stop jodoh-jodohin aku dengan siapapun, karena mulai saat ini aku akan mencari laki-laki pilihanku sendiri! lagi pula aku baru saja bercerai dengan Azka satu bulan yang lalu, masa sudah mau cari penggantinya lagi." Ucap Dwi dengan tegas.
"Iya juga sikh... Hehe." Sindi pun cengengesan membenarkan ucapan Dwi.
"Wi, kamu gak bosen berdiam diri dikamar seperti ini?" Tanya Sindi, menatap wajah Dwi yang sedang menikmati cemilannya.
__ADS_1
"Lebih tepatnya sikh, aku malah lebih bosan lihat wajah kamu disini." Cetusnya.
"Dasar biang rese!" Umpat Sindi seraya membelalakkan matanya.
Hening sesaat...
"Jalan yuk?" Ajak Sindi.
"Malas akh..." Tolak Dwi.
"Ayolah... Aku traktir kamu makan deh." Bujuk Sindi.
"Good." Ucap Dwi. Dengan cepat dia pun bersiap-siap.
"Giliran makan aja, cepat." Gerutu Sindi.
"Namanya juga hidup! siapa sikh yang gak doyan makan." Ujar Dwi.
"Iya-iya. Tapi jangan lebih dari 200 ribu ya? keuangan aku lagi menipis nih soalnya." Ucap Sindi.
"Yaelah Sin, perhitungan banget sikh jadi orang! sama sepupu sendiri juga." Ucap Dwi.
"Bukannya gitu. Akhir-akhir ini porsi makan kamu kan bertambah! kalau aku keseringan neraktir kamu makan, bisa-bisa malah aku yang bangkrut." Ucap Sindi.
"Tenang saja. Nanti kalau gaji pertama ku keluar, nanti giliran kamu yang aku traktir." Ujar Dwi.
"Beneran?" Sindi antusias.
"Iya. Tapi makannya di warteg sebelah aja, gak usah ke tempat-tempat yang mahal." Celetuknya.
"Aishh..." Ucapan Dwi membuat Sindi geram. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu, padahal Sindi selalu mentraktirnya di cafe dan restoran mewah.
"Iya-iya. Orang bercanda juga." Ucap Dwi yang seakan tahu apa isi hati Sindi.
__ADS_1