
Sindi mengepalkan tangannya berusaha untuk meredam amarahnya. Dia menarik nafas lalu membuangnya perlahan. "Baik. Tidurlah! aku akan ambil kunci itu dari celana mu." Ujarnya kemudian.
Seketika senyum Riko pun merekah mendengar ucapan Sindi. Dia membanting tubuhnya sendiri ketempat tidur lalu telentang. "Cepatlah ambil, sebelum aku berubah pikiran." Riko memejamkan matanya.
Sindi menghampiri lalu duduk ditepi ranjang. Riko memang sudah benar-benar menginjak-injak harga dirinya. Kini Sindi menyesal, kenapa dulu dia mau memberikan miliknya yang begitu sangat berharga kepada laki-laki yang belum tentu akan menjadi suaminya.
Perlahan Sindi membuka kancing lalu ret-slet-ting celana Riko, meskipun menggunakan c*d tapi terlihat jelas jika junior Riko sudah tampak menegang. "Dimana kuncinya? kenapa tidak ada?" Tanya Sindi.
"Kau baru membuka bagian atasnya saja! coba cari lebih teliti, mungkin masuk kedalam c*d nya." Ucap Riko.
Sindi tak menaruh kecurigaan, dia pun membuka c*d Riko namun tak menemukannya juga. "Apa kau membohongiku?" Sindi meninggikan suaranya.
"Untuk apa aku membohongimu? dan untuk apa juga aku menyekap mu disini? karena kau tahu betul, bukan? siapa sekarang wanita incaran ku." Jelas Riko.
Sindi tidak bisa pokus mencari, karena matanya salah pokus sama junior Riko yang tampak semakin menegang dan bergerak-gerak. Namun kemudian matanya terkunci pada benda yang ada dibawah bantal yang ditiduri oleh Riko, dan tampak seperti sebuah kunci yang sedari tadi ditunjukannya.
"Kunci itu sepertinya masuk kedalam lubang milikmu, apa kau mau aku membantumu untuk mengeluarkannya?" Sindi pura-pura bodoh.
"Yang benar saja! lubang milikku tidak sebesar lubang milikmu." Decak Riko.
"Hayo lah. Aku akan membantumu mengeluarkan cairan yang ada didalam tubuhmu agar kau puas." Desah Sindi. Dia pun melu-mati bibirnya sendiri untuk menggoda Riko.
Riko yang sudah sedari tadi berusaha menahan has-rat nya langsung menarik tangan Sindi dan ingin menciumnya. Namun di tolak oleh Sindi dengan meletakkan telunjuknya diatas bibir Riko. Kepala Sindi Turun kebawah dengan ekspresi layaknya perempuan ja-lang, lalu men-jilat junior milik Riko sehingga membuatnya men-de-sah.
"Aaah..." Desah Riko.
Melihat Riko yang sudah tampak sangat menikmati permainannya. Dengan cepat Sindi menggerakkan tangan berusaha meraih kunci itu. Dan ketika dia sudah mendapatkannya, Sindi pun menggigit ujung junior Riko sehingga membuatnya menjerit kesakitan seraya memegangi miliknya yang berharga.
"Arghh..." Pekik Riko.
Dengan cepat Sindi membuka pintu, lalu pergi dari tempat itu. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Riko nantinya, karena yang jelas saat ini dia harus secepatnya meninggalkan apartemen Riko.
Saat ditempat parkiran Sindi meraba-raba tas mini nya untuk mencari kunci mobil. "Sial!" Umpatnya kemudian, setelah mengingat kalau tadi dia sempat menaruh kunci mobilnya diatas nakas tempat tidur Riko. "Kunci nya pake ketinggalan di apartemen Riko! aku gak mungkin balik lagi kesana, karena Riko pasti akan murka setelah perbuatan ku tadi." Akhirnya Sindi pun berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi.
Ketika menunggu taksi, tiba-tiba pandangannya terganggu pada suara tangisan bayi yang dibawa oleh dua pengendara motor yang melewatinya. Dan betapa terkejutnya dia, saat melihat bayi yang digendong pria itu, dengan cepat Sindi menghentikan pengendara motor yang lewat didepannya.
__ADS_1
"Mas berhenti mas." Sindi langsung naik motor itu.
Glek.
Pengendara motor itu langsung menelan saliva nya susah payah saat melihat paha mulus Sindi. Apa lagi Sindi duduknya mengangkang, dengan rok mini-nya yang hanya sejengkal.
"Mas, tolong kejar motor itu." Menunjuk.
"Tapi Mbak, saya bukan ojek."
"Berapapun akan saya bayar, tapi cepat kejar motor itu." Titah Sindi. Pengendara motor itu pun menuruti kemauannya.
"Bos, kayaknya motor itu ngikutin kita." Ucap penculik yang duduk dibelakang.
"Siapa?"
"Gak tahu bos tapi orangnya cantik! mulus, lagi."
"Dia perempuan?"
Tak lama kemudian motor yang ditumpangi Sindi berada tepat disamping motor para penculik itu. "Balikin bayi itu." Teriak Sindi.
"Siapa kamu? jangan ikut campur." Ucap penculik yang mengendarai, dan sebut saja si penculik 1.
Brrmmmmm...
Penculik itu semakin mempercepat laju motornya, sehingga membuat Sindi kewalahan.
"Ini sudah malam, kasihan baby Wika jika dibawa naik motor seperti itu. Dia bisa masuk angin!" Batin Sindi. "Mas tolong kejar lagi motor itu dong." Pinta Sindi.
"Maaf Mbak, tapi sebenarnya mereka itu siapa?"
"Mereka itu penjahat! mereka telah menculik keponakan saya, yang tadi digendong oleh salah satu dari mereka." Jelas Sindi.
Tiba-tiba pengendara itu menghentikan motornya. "Kalau begitu Mbak cari tumpangan lain saja. Saya gak berani kalau harus mengejar penjahat."
__ADS_1
"Tapi-"
"Maaf ya Mbak, saya harus pergi." Pengendara itu langsung pergi meninggalkan Sindi dipinggir jalan.
Sindi celingukan mencari mangsa baru untuk meminta tolong. "Itu kayak mobil Pak Indra!" Gumam Sindi. "Akh iya..." Serunya. Sindi langsung menghentikan laju mobil itu dengan cara menghalangi jalannya.
Tok tok...
Sindi mengetuk kaca mobil depan, dan tak lama kemudian Indra membukanya.
"Ada apa?" Tanya Indra.
"Pak, tolong bantu saya untuk mengejar seseorang." Sindi langsung menyelonong masuk kedalam mobil, tanpa memperhatikan seseorang yang duduk dibelakang joknya.
"Uhuk-uhuk."
Saat mendengar suara batuk dari belakang punggungnya, Sindi pun menoleh. "Er... Emm, maksud ku Pak Erick. Ngapain Bapak disini?" Ketus Sindi.
"Turun!" Titah Erick dengan angkuhnya.
"Pak, kali ini saja saya mohon banget! tolong bantu saya." Sindi memohon seraya menyatukan kedua tangannya. "Tolong kejar motor itu, sebelum saya kehilangan jejak." Lanjutnya.
"Indra suruh dia turun! kalau perlu kau seret dia." Ujar Erick dengan tegas.
"Kalau kalian gak mau membantuku, aku sumpah-in semoga hubungan kalian akan berakhir." Cercah Sindi.
Indra mengernyitkan keningnya, tak mengerti apa yang dikatakan oleh Sindi. Sementara Erick terdiam seraya menatap intens wajah Sindi yang tampak gelisah.
Tak mendapatkan respon apa-apa dari Erick dan Indra, Sindi pun mengeluarkan sebuah gunting kuku yang ada di tas-nya lalu menodongkannya kepada Indra.
"Apa-apaan ini! apa yang kau lakukan?" Tanya Indra yang heran melihat sikap anehnya.
"Cepat jalan, kalau tidak aku akan melukai Pak Indra." Ancamnya.
Indra mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
"Ikuti saja kemauan gadis konyol ini." Titah Erick kemudian, seraya menatap sinis kepada Sindi.