
keesokan harinya.
"hooaaaammmm...." dwi menggeliatkan badannya lalu beranjak dari tempat tidur, dan segera memasuki kamar mandi.
"aaaaaa...." teriaknya. dia terkejut saat melihat tubuhnya yang hanya terbungkus bra saja tanpa pakaian luar. "azkaaaa...." dwi keluar kamar mencarinya. tak kunjung mendapatkan jawaban, dia mendobrak pintu kamar azka yang memang kebetulan tidak di kunci.
"ada apa? pagi-pagi sudah berisik." umpat azka saat baru keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
"aaaa..." lagi-lagi dwi berteriak.
"berisik!" bentak azka. "ada apa? kenapa mencariku?" tanyanya.
"apa yang semalam sudah kamu lakukan padaku? kenapa aku tidur hanya dengan mengenakan pakaian dalam saja?"
di todongi dengan pertanyaan seperti itu azka malah menyeringai. "ini kesempatan ku untuk mengerjainya." batinnya.
"kalau bicara lihat aku, jangan membelakangiku." ucap azka.
"pakai dulu baju mu." pinta dwi.
"memangnya kenapa?"
"apa kamu tidak malu memperlihatkan tubuhmu itu kepadaku." ucap dwi yang masih membelakangi azka.
"untuk apa aku malu? bahkan semalam kita sudah saling melihatnya." ucap azka.
"apa?" dwi berbalik badan, menatap kearah azka.
"ya. bahkan kamu sendiri yang menggodaku, dan membuka pakaianku."
"itu tidak mungkin!"
"kamu berhutang padaku. karena semalam kamu yang memintanya."
"kamu pasti berbohong! kita tidak mungkin melakukannya." dwi tampak kebingungan, karena dia sendiri tak ingat apa-apa dengan kejadian semalam.
"untuk apa aku berbohong! kita bahkan telah melakukannya beberapa ronde, dan kamu pun menikmatinya." ucap azka.
"aaaa....." dwi menjerit histeris dan memegangi kepalanya, lalu keluar dari kamar azka.
azka terkekeh melihat tingkah lucu dwi. bisa-bisanya dwi percaya omong kosong yang dikatakan nya.
di meja makan. dwi dan azka tampak anteng menikmati makanannya tanpa ada yang bersuara. yang ada hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu.
azka diam-diam mencuri-curi pandang dwi. otaknya kembali kotor saat mengingat apa yang sudah di lakukan dwi kepadanya. "sial! kenapa hari ini dia tampak sangat menggoda." batin azka seraya menoleh kearah dwi kemudian melemparkan pandangan kearah lain.
__ADS_1
"aku harus menyelidikinya. apa semalam kita memang sudah benar-benar melakukannya." dwi menatap sinis kepada azka.
"hari ini aku akan menemui ibu." ucap dwi, tanpa menatapnya.
"aku akan mengantarmu."
"tidak perlu. aku akan pergi sendiri."
"aku tetap akan mengantarmu. sejak kita menikah, kita memang belum pernah berkunjung ke rumah orang tua kita. sekalian, aku juga ingin mengunjungi orangtuaku." ucap azka.
"kalau begitu kita berkunjung ke rumah ibu dulu." ucap dwi.
"tidak! rumah mama lebih dekat, kita tidak bisa melewatinya." ucap azka yang tak mau kalah.
***
setelah menemui bu asmi dan pak ardi, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah pak mukti. entah kenapa sejak azka mengatakan kalau mereka telah melakukan hubungan suami istri, nyali nya kini sedikit menciut. dia bahkan tak berani untuk menatap azka. di mobil pun hanya keheningan tanpa ada yang memulai pembicaraan.
"ibu." dwi langsung memeluknya begitu bu patma membukakan pintu. azka tampak mencium punggung tangan ibu mertuanya. bu patma mempersilahkan mereka untuk masuk. azka menghampiri pak mukti yang sedang duduk di ruang tamu dan menyalaminya.
"dio dan ica kemana bu." tanya dwi.
"dio mengerjakan tugas di rumah temannya. sementara ica lagi beristirahat di kamar, dia sedikit demam." ucap bu patma.
..._kamar ica_...
dwi meraba keningnya. "Ica kamu sudah makan belum?" tanyanya.
"sudah kak."
"apa kamu juga sudah minum obat?"
"sudah kak."
"kalau gitu kamu istirahat ya? dan cepat sembuh. kakak janji, kalau kamu sembuh kita akan pergi jalan-jalan ke mall." ujarnya.
"kakak serius?" seketika tubuh mungil yang tadi tampak terlihat lemas kini mendadak seperti tidak mengalami apa-apa alias terlihat sehat. "yee..." serunya.
"ica kamu ngerjain kakak ya?"
"kakak harus menepati janji kakak."
"aisshhh anak ini." umpatnya.
tidak terasa azka dan pak mukti sudah berbincang cukup lama. sehingga waktu kini telah menunjukan pukul sembilan malam.
__ADS_1
"sepertinya kamu lelah, kamu bisa beristirahat di kamar istrimu." ucap pak mukti. azka pamit ijin ke kamar.
azka duduk di tepi ranjang. terdengar suara air yang mengalir dari dalam kamar mandi. "sepertinya dia sedang mandi." batinnya. azka membuka jas yang dia kenakan. kalau biasanya dia memakai dalaman kemeja, kali ini dia memakai kaos. rupanya azka telah berencana untuk menginap di rumah mertuanya.
ceklek. pintu kamar mandi perlahan terbuka. dengan cepat azka membaringkan tubuh di ranjang dan pura-pura tidur.
"kenapa dia belum pulang?" gumam dwi saat melihat kehadiran azka di kamarnya.
dwi pun mendekat dan menggoyangkan tubuhnya. "hei, bangun." azka tak merespon. dwi tak putus asa, dia kembali mencoba untuk membangunkannya. "azka bangun." ucapnya lebih keras, namun lagi-lagi azka tak merespon.
"sialan! kaya kebo tidurnya." umpat dwi. azka langsung membuka matanya, karena tidak terima dengan umpatan dwi.
dwi terkejut saat melihat azka yang sedang menatap kearahnya, dan menurunkan pandangannya kearah gunung kembar dwi.
"kurang ajar!" dwi hendak menamparnya namun dengan cepat azka menahannya. kini azka mencengkram kuat telapak tangan dwi. "lepaskan tanganku." sentaknya.
"enak saja! barusan kamu yang ingin menamparku." ucap azka.
"itu karena kamu kurang ajar, karena telah berani menatapku seperti itu."
"lalu kenapa kamu keluar kamar mandi dengan seperti ini?( hanya handuk yang melingkar di tubuhnya)." tanya azka. "bukankah kamu sudah tahu, kalau aku ada disini. rupanya lagi-lagi kamu ingin menggodaku."
"jangan sembarangan! untuk apa aku menggodamu." sentaknya.
"tentu saja karena kamu menginginkan uang dariku. kamu masih ingat kan? akan surat kontrak yang telah kita tanda tangani?"
"ya, aku ingat betul! tapi sorry ya? harga diriku jauh lebih mahal, dari pada uang 50 juta yang telah kamu janjikan." ucap dwi sedikit angkuh.
"benarkah?" azka menatap tajam kedua bola matanya.
"tentu saja!"
"haruskah aku ingatkan kembali akan apa yang sudah terjadi diantara kita semalam?" tanya azka.
"tidak ada! aku tahu, kamu pasti membohongiku. kita tidak mungkin melakukannya semalam." ucap dwi, namun dia sendiri tidak terlihat yakin dengan apa yang sudah dia katakan.
"kenapa kamu begitu naif. apa kamu lupa, kamu berhutang banyak kepadaku?"
"hutang? aku tidak pernah berhutang apapun padamu."
azka menarik nafas panjang lalu kemudian membuangnya secara kasar. "kamu berhutang kepada riko, dan aku yang telah melunasinya." ucap azka.
seketika dwi ingat, kalau terakhir kali dia sedang di sekap di sebuah vila oleh riko. samar-samar dwi berusaha mengingat apa yang telah terjadi kepadanya semalam. "bedebah itu! kenapa aku baru mengingatnya." gumamnya.
"haakhhh.." dwi mendesah lalu masuk kedalam toilet untuk berpakaian.
__ADS_1