Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
tidak karuan


__ADS_3

azka baru saja pulang kerja. dia membuka tudung saji di meja makan, namun ternyata tidak ada makanan. azka pun memanggil dwi.


"ada apa? kenapa berteriak?" tanyanya dengan polos.


"aku lapar, kenapa tidak ada makanan?"


"aku pikir kamu akan makan di luar, makannya aku tidak memasak untukmu. apa perlu ku pesankan via online?" tanya dwi.


"tidak perlu! di kulkas ada beberapa bahan makanan untuk di masak."


"apa?" dwi terlihat sedikit terkejut.


"kenapa reaksimu seperti itu? jangan bilang kalau kamu tidak bisa masak."


dwi malah terlihat bengong.


azka terlihat menghela nafas. "dasar payah." umpatnya.


"apa kamu bilang?" sentak dwi.


"kamu itu perempuan yang sangat payah dan tidak bisa apa-apa."


"jangan sembarangan kalau ngomong! asal kamu tahu, aku ini pintar masak."


"oya? kalau begitu buktikan!" azka seakan menantangnya.


"baik aku akan membuktikannya kepadamu." dwi bergegas ke dapur. dia mengambil beberapa sayur dan mencucinya lalu kemudian memotongnya. tak lupa, dwi juga mengambil beberapa potong ayam untuk dia masak.


sudah satu jam lamanya, namun dwi belum juga menyelesaikan pekerjaan. dia masih terlihat sibuk dengan masakannya.


azka mengamati punggung dwi dari meja makan. "apa yang dia lakukan? mengapa lama sekali?" batinnya.


"sial! aku bahkan tidak bisa membedakan mana micin dan mana garam." umpat dwi dalam hati seraya menggigit ujung ibu jarinya.


"apa makanannya masih lama?" suara azka membuyarkan lamunan dwi.


"sebentar lagi." jawabnya. dwi pun membumbui masakannya secara asal. "ya sudahlah, yang penting jadi." batinnya. dwi segera menghidangkan makanannya di meja untuk dia santap bersama azka.

__ADS_1


puueehhh...


azka menyemburkan makanan yang baru saja dia masukan kedalam mulutnya. "makanan apaan ini? rasanya benar-benar tidak karuan. apa kamu sengaja ingin meracuniku dengan makanan yang kamu buat ini?" ucap azka dengan sinis.


"apa kamu bilang?" dwi terlihat marah dengan ucapan azka. "kamu tu ya, benar-benar kebangetan! sudah bagus juga aku masakin! bilang makasih ke." umpatnya. karena kesal dwi masuk ke kamarnya.


"harusnya tadi aku tidak memintanya untuk masak! kenyang enggak. mubazir iya." desus azka.


didalam kamar dwi tampak marah-marah seraya mondar-mandir tak karuan. "dasar brengsek! sudah bagus aku masakin, dia malah se-enaknya menghina makanan yang sudah susah payah aku buat." gerutunya.


dwi mengintip keluar apakah azka sudah masuk kedalam kamarnya. saat mengetahui kalau azka memang telah memasuki kamarnya, dia pun keluar dan duduk di meja makan. karena tadi belum sempat makan, dwi pun mengambil makanan yang ada di meja lalu mencicipinya.


puueeehhhh...


dwi memuntahkan makanan itu. "sialan! rasanya benar-benar tidak karuan, pantas saja azka tidak mau memakannya." dia pun segera membereskan meja makan, lalu membuang semua makanannya ke tong sampah.


"kenapa di buang?" suara azka tiba-tiba mengejutkan dwi. dwi berbalik arah menghadapnya. "bukankah kamu sudah capek-capek memasaknya, lalu kenapa kamu membuangnya? padahal makanannya enak loh." azka terdengar sedang menyindirnya.


hehe. dwi tampak cengengesan. "hari ini aku lagi diet, jadi gak boleh makan banyak-banyak." dwi beralasan.


"gak perlu diet! badan kamu segitu sudah ideal. aku tidak ingin kamu terlihat kurus, karena orang lain akan mengira kalau aku tidak memberimu makan selama kamu tinggal disini." celetuk azka.


azka segera masuk kedalam kamar, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di atas bantal yang di sandarkan di kepala ranjang. seketika dia teringat apa yang dilakukan oleh dwi di apartemen saat dirinya tidak ada. dia pun membuka layar laptop lalu melihat kejadian tadi siang lewat tangkapan kamera cctv.


"sialan! berani sekali dia membawa laki-laki lain ke apartemenku." umpatnya. "sayang sekali aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka karena sound kamera cctv-nya yang sedikit bermasalah." gumamnya. "aku harus segera memperbaikinya." sambungnya.


ke-esokan harinya.


dwi baru keluar dari kamar, dia menoleh kepada azka yang sudah duduk di meja makan sembari menyeruput kopi buatannya. dwi duduk di depannya.


"apa ingin ku buatkan sarapan?"


"tidak perlu!"


dwi tertegun sejenak. "aku minta maaf, seharusnya aku berterus terang, kalau sebenarnya aku tidak pandai memasak."


azka terdiam tak merespon.

__ADS_1


merasa diabaikan, dwi berdiri dan hendak masuk kedalam kamar. namun azka menghentikan langkah kakinya.


"jangan pernah berani membawa laki-laki lain masuk kedalam apartemen." ucapnya spontan.


dwi langsung menoleh kearahnya. "laki-laki lain? apa yang dia maksud pak riko? tapi itu tidak mungkin! karena kemarin tidak ada orang yang melihat pak riko masuk kesini." batinnya.


"kenapa diam? kamu dengar kan, apa yang barusan aku katakan?" tanya azka.


"iya, aku mendengarnya."


"siapa laki-laki itu?"


"namanya riko, dia seorang CEO di perusahaan wijaya group."


"untuk apa dia kemari?" azka dengan tatapan dinginnya.


"gawat! aku harus jawab apa? tidak mungkin kalau aku mengatakan yang sebenarnya pada azka." batinnya. "dia memintaku untuk kembali bekerja di kantornya." ucap dwi.


"apa sebegitu pentingkah kamu dimatanya, sehingga dia harus turun langsung untuk menemuimu?" ucap azka yang membuat dwi tercengang menatap kearahnya. "aku tahu, pekerjaan seorang CEO itu teramat sangat sibuk! lalu untuk apa dia harus membuang-buang waktu kalau hanya untuk memintamu kembali bekerja di kantornya, dia bisa menyuruh orang untuk melakukannya." azka seakan mendesak dwi agar dia mau berkata jujur.


"tunggu... apa-apaan ini? bukankah dalam surat kontrak kita sudah jelas tertera, kalau kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing? lalu kenapa sekarang kamu seakan menekanku?" ucap dwi yang meninggikan suaranya.


"urusan pribadi? hekh." desis azka. "jadi benar dugaanku, kalau laki-laki itu bukan hanya sekedar mantan atasanmu, tapi dia memiliki hubungan lebih denganmu."


"jangan sembarangan! asal kamu tahu, dia itu tunangannya sindi, sepupuku." jelas dwi.


"tunangan sepupumu? dasar wanita tidak tahu malu!" umpatnya.


"sialan! apa kamu bilang?" sentaknya.


"ya, kamu memang tidak tahu malu! pertama-tama kamu sudah berani membawa laki-laki ke apartemenku. dan kedua, kamu tahu kalau laki-laki itu sudah bertunangan bahkan dengan sepupumu sendiri tapi kamu mau menjalin hubungan dengannya, wanita macam apa kamu ini?"


"stop!" bentak dwi. "aku tidak pernah menyangka kalau aku akan menikahi pria yang pemikirannya kotor sepertimu."


"pria kotor? aku?" tanya azka seraya menunjuk dirinya sendiri. "apa pernah aku membawa wanita lain ke apartemen, meskipun apartemen ini milikku sendiri?"


"aku tidak bersalah, dan aku juga tidak melakukan apa-apa dengannya. kenapa kamu terus-menerus mendesakku?"

__ADS_1


"aku tidak perduli apa yang akan kamu lakukan di luar sana! tapi aku minta, jangan kamu kotori apartemenku ini dengan membawa pria itu kesini."


"sialan! pikirannya sudah jauh lebih kotor dari apa yang aku bayangkan." batinnya.


__ADS_2