Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
rebutan tempat tidur.


__ADS_3

beberapa saat kemudian dwi keluar dari kamar mandi, lalu membaringkan tubuhnya di dekat azka.


"apa-apaan ini? turun! kamu tidur di lantai." sungut azka.


dwi mengernyitkan dahinya. "dasar songong! ini kamarku, kenapa jadi aku yang harus tidur di lantai." desisnya.


"aku ini tamu, jadi kamu yang harus mengalah." celetuknya.


"dulu pas pertama nikah, kamu juga gak mau mengalah sama aku." jelas dwi.


"ya udah kalau kamu memang gak mau tidur di lantai, tidur dengan ku sini!" ujar azka seraya menepuk samping tempat tidur dan mengedipkan mata kanannya dengan genit.


"cikhhh...mending aku tidur di luar." desis dwi hendak pergi namun tangannya di tarik azka.


"mau kemana?" tanya azka.


"ke jonggol." decaknya.


"aku serius." ucap azka lalu berdiri menoleh ke sekeliling kamar itu. "disini tidak ada sofa?" tanya azka.


"ada."


"mana?"


"aku lipet, terus ku taruh di dalam laci." cetus dwi.


azka mendengus kesal. "aku serius." desisnya.


"ya habisnya pake nanya lagi. udah tahu gak ada."


"kasur lantai juga gak ada?" tanya azka.


"gak ada."


"miskin banget hidupmu." cela azka.


"apa kamu bilang?" gak terima dengan perkataan azka, dwi mendorong tubuh azka hingga terjungkal ke ranjang. "hahaha." dwi tertawa.


"aissh, dasar sialan!" umpat azka. saat melihat dwi lengah azka menarik tangannya lagi, dan kali ini menjatuhkan tubuh dwi tepat di dada bidangnya.


"hei... apa yang kamu lakukan?" dwi berusaha melepaskan tangan azka yang melingkar kuat di pinggangnya.


"kamu melanggar perjanjian kontrak pernikahan kita. dan di surat itu tertulis dengan jelas kalau kita tidak boleh saling menyentuh satu sama lain, karena pernikahan kita itu pernikahan palsu."


"aku tidak perduli, walaupun aku harus membayarmu." ucap azka.


"sialan! azka pasti sengaja memancingku." batin dwi. tak mau kalah dengan azka, dwi pun ikut memainkan permainannya.


"baiklah! mari kita lakukan sekarang." ungkap dwi seraya membuka kaos putih yang di kenakan azka. "sebelum mulai, bagai mana kalau kita membuat kesepakatan?"

__ADS_1


"kesepakatan apa?" tanya azka.


"siapa yang mendesah paling keras, berarti dia yang harus membayarnya."


azka mengernyitkan keningnya. betapa berani sekali dwi berkata seperti itu kepada azka. padahal secara pribadi dwi sendiri tidak berpengalaman dan belum pernah melakukannya. hanya karena dwi tahu kelemahan azka yang selalu setia kepada almarhumah istrinya walaupun kini dia telah meninggal. dari itu dwi memanfaatkan situasi, dwi yakin kalau azka akan menolaknya.


dwi menatap tajam kepada azka. "aku tahu, kamu tidak mungkin menyetujui hal gila ini." dwi tersenyum menyeringai.


"baik! akan ku buat kamu menyesal karena telah berani menantangku." ucap sinis azka lalu tersenyum menyeringai.


"tidak mungkin." gumamnya.


..._flash back_...


dihotel.


dwi baru keluar dari toilet. "sialan, dasar brengsek." gerutunya yang terus-menerus mengutuk azka. rupanya dwi habis bertengkar dengannya.


"bu dwi." sapa edwin.


"edwin."


"pak azka nya ada kan bu?"


"ada."


"maaf kalau saya boleh tahu, lalu kenapa bu dwi tampak marah?"


"ya sudah! bu dwi tidak perlu mengatakan nya." ucap edwin lalu hendak pergi.


"ekh tunggu!"


"iya bu."


"apa kamu sudah lama mengenal azka?" tanya dwi.


"saya bekerja disini sudah tujuh tahun bu." jawabnya jujur.


"tujuh tahun?"


edwin mengangguk. "iya bu."


"apa kamu mengenal almarhumah istri azka?" tanya dwi.


edwin terdiam sejenak. "iya bu, saya mengenalnya. beliau adalah orang yang sangat baik." ujarnya.


"aku dengar kalau azka itu orang yang sangat setia, dan sangat mencintai nadia."


edwin mengangguk kecil dan menatap heran kepada dwi. "memangnya kenapa bu?" dia memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"kamu mau gak jadi teman aku?" tanya dwi.


"teman?" tanya edwin yang lagi-lagi di buat heran olehnya.


"iya. kalau kamu mau memberikan semua informasi tentang azka, aku akan meminta azka untuk menaikan gaji kamu dua kali lipat."


"maaf bu, ibu kan istrinya pak azka. kalau ibu ingin mengetahui kehidupan masa lalu pak azka kenapa tidak ibu tanyakan langsung kepadanya?"


"aku tidak meminta pendapatmu." sentaknya. kemudian pergi begitu saja.


edwin keheranan melihat sikap dwi yang tidak seperti biasanya. dia pun masuk kedalam ruangan azka.


"ada apa?" tanya azka.


"ini laporan yang pak azka minta, saya sudah mengecek semuanya tinggal bapak tanda tangani."


"baik terima kasih, kamu boleh keluar, soalnya aku sedang sibuk."


"maaf pak, apa saya boleh bertanya sesuatu?"


azka mengangkat wajah menatap kepada edwin. "mau tanya apa?"


"saya lihat tadi bu dwi keluar dengan marah-marah. apa kalian bertengkar?"


akza terdiam mendapatkan pertanyaan itu dari edwin. andai saja orang lain yang bertanya seperti itu kepadanya, sudah pasti azka akan langsung memecatnya. namun edwin adalah orang kepercayaan azka. selain itu azka juga telah menganggapnya seperti adiknya sendiri, mengingat usia edwin yang dua tahun lebih muda darinya. edwin juga orang yang selalu setia mendengarkan keluh kesah azka.


"ya. dia itu memang orang yang keras kepala." ucap azka.


"tadi bu dwi juga menanyakan perihal hubungan bapak dengan almarhumah bu nadia."


"lalu apa yang kamu katakan?"


"saya tidak mengatakan apapun, saya hanya bilang kalau bu nadia itu orang yang baik." imbuh edwin.


"katakan saja apa yang ingin dia ketahui, aku tidak keberatan. aku ingin tahu apa yang dia inginkan dariku setelah tahu semua masa laluku." pungkasnya.


..._flash back on_...


"apanya yang tidak mungkin?" tanya azka. "lalu bagai mana? apa kamu sudah siap memulainya?" tanya azka dengan senyum mesumnya, seraya menurunkan pandangannya kebawah, tepat dimana gunung kembar dwi berada.


"ini tidak bisa dibiarkan! aku yang menantangnya, tidak mungkin aku mengaku kalah." batin dwi, dia terlihat memikirkan sesuatu, hingga sesaat kemudian dia tersenyum menyeringai.


"oke!" dwi menindih tubuh azka hingga tubuh keduanya menyatu. dia pun mendekatkan wajahnya kepada azka, sehingga azka mengira kalau dwi akan menciumnya.namun tebakkan nya ternyata meleset. bukannya mencium dwi malah menggigit telinganya azka.


"arrgghhh..." teriak azka, lalu mendorong tubuh dwi hingga terjungkal di ranjangnya. "dasar perempuan gila! apa yang kamu lakukan?" pekiknya seraya memegangi daun telinganya yang terasa hampir putus.


"hahaha..." dwi terpingkal-pingkal mentertawakannya. "rasain, emang enak." umpatnya seraya menjulurkan lidahnya.


azka beranjak dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi. "sialan! lihat saja pembalasanku, dasar wanita kurang ajar." geramnya, memandangi daun telinganya dari pantulan cermin yang tampak merah.

__ADS_1


beberapa saat kemudian azka keluar. dia menoleh ke tempat tidur. tampak dwi sedang telentang melebarkan kedua tangan dan kakinya hingga memenuhi ranjang itu.


"sepertinya dia sengaja melakukan itu." batin azka. dia pun mendekatinya. dwi tampak sudah memejamkan matanya, namun azka tahu kalau dwi sedang berpura-pura tidur.


__ADS_2