Duda Tampan Haus Belaian

Duda Tampan Haus Belaian
DTHB 65


__ADS_3

Sindi beserta OG lainnya membersihkan bagian depan perusahaan. Cika bagian mengepel, Nina bagian menyapu, sementara Sindi bagian mengelap kaca. Tak lama kemudian Doni datang menghampiri Sindi.


"Sin, apa perlu aku bantu?" Tanya Doni.


"Gak usah." Sahut Sindi, seraya terus mengelap kaca hingga mengkilap.


"Don, memangnya tugas kamu sudah beres? kok kamu pake nawarin buat melakukan pekerjaan Sindi segala." Sinis Nina, seraya mendeleki Sindi.


"Tugas aku sudah selesai. Nanti tinggal nganterin minuman keruangan atasan aja." Sahut Doni.


"Kalau gitu, kamu bantuin aku menyelesaikan pekerjaan aku dong?" Pinta Nina.


"Enak saja! kamu kerjain aja sendiri." Ketus Doni.


"Emang rese kamu Don, di mintain tolong gitu saja kamu gak mau!" Gerutu Nina.


"Ya udahlah Nin, kita kerjakan saja tugas kita masing-masing! lagi pula kamu gak lihat apa. Doni itu juga terlihat lelah." Bela Cika.


Sindi hanya nyimak pembicaraan rekan kerjanya. Namun saat melihat sosok pria yang tak asing baginya keluar dari sebuah mobil mewah, dengan cepat dia bersembunyi dibalik tubuh Doni dengan cara memeluknya dan menenggelamkan wajahnya didada Doni, sehingga membuat Cika cemburu kepadanya.


"Gatel banget sikh si Sindi! ngapain dia peluk-peluk Doni seperti itu? depan muka ku, lagi." Gerutu Cika dalam hati.


Nina mengerutkan keningnya melihat sikap Sindi. "Benar-benar perempuan jalaang yang tidak tahu malu." Umpatnya dalam hati.


Sementara Doni tampak tersenyum menerima pelukan dari wanita yang dia sukai.


Riko berjalan melewati beberapa OG yang ada didepannya begitu saja. Sekilas Riko pun menoleh kearah wanita yang sedang memeluk seorang laki-laki yang dia yakini kalau laki-laki itu adalah kekasih dari si wanita tersebut.


"Dia itu CEO dari PT. Wijaya kan?" Tanya Nina.

__ADS_1


"Iya. Tapi ngapain dia disini? bukannya Pak Erick sudah membatalkan semua kontrak kerjasamanya dengan PT. Wijaya." Sahut Cika.


"Kamu tahu dari mana?" Tanya Nina.


"Aku tidak sengaja mendengarnya secara langsung dari Pak Erick, ketika aku mengantar kopi keruangannya." Jawab Cika.


Setelah Riko menghilang dari pandangannya, dengan cepat Sindi meninggalkan tempat itu, dan berjalan menuju pantry. Namun nasib sial sepertinya sedang melandanya! niatnya untuk tidak bertemu dengan Riko, tapi Merry malah memintanya untuk mengantar minuman keruangan Erick. Sindi sempat menolak perintah tersebut, namun apa daya nya yang hanya seorang OG ketika disuruh oleh sekretaris CEO.


"Riko pasti ada diruangan Pak Erick! aku harus memikirkan cara, agar dia tidak melihat wajahku." Gumam Sindi. Seketika dia pun memiliki ide, agar Riko tidak mengenalinya.


*Ruang CEO*


"To the point saja! apa tujuan anda datang kemari?" Tanya Erick, kepada Riko.


"Jika anda memang menyukai Dwi dan menginginkannya, aku akan melepaskannya untuk anda! tapi saya minta, tolong jangan batalkan kontrak kerjasama yang telah kita sepakati sebelumnya." Ujar Riko.


"Sepertinya anda sudah salah paham mengartikan pertolongan saya kepada Dwi." Tutur Erick. "Saya membatalkan kontrak kerjasama dengan anda itu real dari diri saya sendiri, bukan karena saya menyukai bahkan ingin memiliki Dwi! Itu tidak sama sekali. Saya hanya iba terhadapnya dan murni hanya ingin menolongnya." Lanjut Erick.


Erick mengernyitkan keningnya melihat perempuan yang ada dihadapannya. "Buka kacamata kamu." Pintanya.


"Maaf Pak, tapi saya sedang sakit mata dan saya juga sedang flu. Jadi saya takut penyakit saya ini nular kepada Bapak dan tamu Bapak." Ucap Sindi tengah berbohong.


Riko menelisik bentuk tubuh wanita yang ada dihadapannya. "Suaranya terdengar tidak asing! tapi siapa ya?" Batinnya pun bertanya-tanya. Kemudian pandangannya kembali pokus kepada Erick. "Sepertinya yang dikatakan Erick itu benar. Dia tidak mungkin mencintai Dwi! karena menurut kabar yang beredar, kalau dia itu tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita." Batinnya.


"Jika tidak ada yang perlu dibahas lagi, silahkan anda tinggalkan ruangan ini." Ucapan Erick adalah tamparan bagi Riko.


"Sial! aku datang dengan baik-baik! tapi ternyata dia malah mengusirku. Lihat saja pembalasanku nanti." Batin Riko, menatap Erick dengan penuh kebencian.


Saat Riko melangkahkan kakinya ingin keluar dari ruangan itu, Sindi menengadahkan kakinya menghalangi langkah kaki Riko sehingga membuatnya tersandung lalu kepalanya terbentur pintu.

__ADS_1


Duk. "Aww..." Pekiknya seraya memegangi keningnya yang sedikit benjol.


"Ups. Sorry Pak saya tidak sengaja." Ucap Sindi seraya cengengesan.


"Sialan! sepertinya kamu sengaja ingin mencelakaiku." Sentak Riko.


Riko mengangkat tangan ingin menampar wanita yang ada dihadapannya, namun niatnya urung ketika melihat tatapan Erick yang begitu sangat mematikan. "Permisi." Ucapnya kemudian pergi.


Sindi semakin tertawa puas melihat kepergian Riko dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal akibat ulahnya. Saking senangnya, Refleks dia pun memukul pundak Erick yang sedang menatapnya dengan tajam. "Ekh." Sindi pun mulai sadar, apa yang dia lakukan. "Maaf Pak." Tanpa permisi Sindi pun hendak pergi, namun langkah kakinya dihentikan oleh Erick.


"Tunggu!"


Sindi menoleh.


"Buka kacamata kamu." Titah Erick.


"Janganlah Pak! nanti Bapak terpesona sama kecantikan saya." Tolak Sindi seraya berguyon.


"Buka!" Bentaknya.


Akhirnya Sindi pun membuka masker serta kacamata yang sedari tadi dia kenakan.


"Ternyata kamu! pantas saja sikapmu begitu tidak tahu diri dan tidak ber-attitude." Sentaknya.


"Seharusnya Bapak berterima kasih sama saya, karena berkat saya Riko keluar dari ruangan ini dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal. Bukankah itu yang Bapak inginkan?" Ucap Sindi dengan angkuh.


"Riko?! Ck. Sepertinya kamu melakukan ini bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri!" Ujar Erick. "Sepertinya kamu memiliki dendam pribadi kepadanya." Tebakan Erick sangat sempurna. Dia bisa tahu, hanya dengan melihat ekspresi dan perbuatan Sindi terhadap Riko.


"Anda ngaco! urusan pribadi apanya, orang sama sekali aku tidak mengenalnya." Ujar Sindi kemudian pergi begitu saja.

__ADS_1


Erick menohok melihat sikap Sindi kepadanya yang begitu sangat tidak sopan. "Hanya seorang OG, tapi dia begitu berani bersikap seperti itu!" Batinnya.


__ADS_2