
***
Azka dan orangtuanya bertamu ke rumah Nek Eva untuk mengkonfirmasi perihal status Dwi sekarang. Dan Bu Patma pun mengklarifikasi yang sebenarnya, kalau Dwi memang belum menikah lagi dengan siapapun, termasuk dengan Erick.
"Mama dengar sendiri kan, apa yang dikatakan Ibu? dari awal aku itu memang sudah curiga kalau ini tuh pasti hanya akal-akalan Viona untuk merusak citra Dwi."
"Ada apa ini?" Tanya Dwi yang baru pulang dari kerjanya.
"Dwi, kamu sudah pulang." Tutur Bu Patma.
"Sudah Bu." Dwi pun mencium punggung tangan Bu Patma, Bu Asmi dan Pak Ardi secara bergantian.
Bu Asmi menceritakan tentang rekaman video yang ditunjukkan oleh Viona. Lantas Dwi pun menjelaskannya karena takut terjadi kesalah pahaman diantara keluarganya dan keluarga Azka.
"Aku tidak pernah menikah siri dengan siapapun. Saat itu Pak Erick hanya membantuku." Ujar Dwi.
"Tapi apakah harus, dia berpura-pura menjadi suami kamu? padahal dia bisa mengatakan kalau dia itu Kakak atau teman kamu." Ucap Azka yang terlihat cemburu.
Dwi masuk kedalam kamarnya untuk mengambil buku KIA, lalu memberikannya kepada Azka. Azka pun melihat isi data dari buku itu.
"Aku hanya meminjam wajahnya, tapi tidak dengan namanya. Karena disana tercatat jelas, kalau kamu lah Ayah dari calon bayiku." Jelas Dwi.
"Tapi maaf Dwi, Papa belum bisa percaya sebelum Papa mendengarnya secara langsung dari laki-laki yang sudah mengaku sebagai suami mu." Ucap Pak Ardi.
"Tapi itu tidak mungkin Pa." Kata Dwi. "Karena Pak Erick sudah pergi keluar negeri." Lanjutnya.
"Apa kamu bisa menghubunginya?" Tanya Pak Ardi.
Dwi pun mencoba menghubungi nomer Erick berkali-kali, namun tidak bisa. Dan sepertinya Erick memang telah mengganti nomor ponselnya. "Maafkan aku Pa. Sepertinya Pak Erick sudah mengganti nomer dengan yang baru." Ujar Dwi.
"Ya sudah, sebaiknya kita pulang sekarang." Ajak Pak Ardi.
"Papa dan Mama duluan saja. Nanti aku menyusul." Ucap Azka kepada kedua orangtuanya." Dwi, apa kita bisa bicara empat mata?" Tanya Azka, yang dibalas anggukan kecil oleh Dwi. Mereka pun pergi ke halaman belakang.
__ADS_1
"Jadi benar, kalau kamu memang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan laki-laki yang ada di video itu?" Tanya Azka.
"Tidak! untuk apa aku berbohong." Jawab Dwi.
"Aku senang mendengarnya!" Tutur Azka. "Apa itu tandanya masih ada kesempatan untuk kita bisa memperbaiki semuanya?" Tanyanya.
Dwi tertunduk mendengar pertanyaan dari Azka. Karena dia sendiri belum memiliki jawabannya.
"Apa aku boleh meminta satu permintaan?" Tanya Azka lagi.
Dwi pun menatap Azka. "Apa?"
"Tolong ajak aku, ketika kamu mau memeriksa kehamilan! karena aku juga ingin tahu bagaimana perkembangan calon anak kita." Pinta Azka.
"Baik." Jawab Dwi singkat.
Perlahan Azka menggerakkan tangannya lalu memegang tangan Dwi, sehingga membuat Dwi refleks lalu menepisnya. "Maaf." Ujar Dwi kemudian.
"Aku ingin tahu, bagaimana perasaan kamu terhadapku saat ini?" Tanya Azka menatap lekat wajah Dwi.
Azka menatap kearah langit yang dihiasi kelap-kelip bintang-bintang. Tak lama kemudian dia menatap kembali wajah Dwi yang terlihat sayu. "Ini sudah malam, masuk dan beristirahat lah." Titah Azka.
Dwi hanya mengangguk.
"Kalau kamu butuh sesuatu, apapun itu! jangan sungkan untuk mengatakannya padaku." Ucap Azka.
Lagi-lagi Dwi hanya mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Azka yang masih menatapnya.
Dwi masuk kamar dan membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Dia menghela nafas lalu membuangnya secara kasar. "Aku memang masih mencintai kamu Azka! tapi aku belum bisa mengatakannya, karena aku takut terluka lagi untuk yang kedua kalinya." Batin Dwi.
Keesokan harinya.
Sindi masuk kedalam ruangan Pak Farhan untuk membersihkan ruang kerjanya. Tak lama kemudian Pak Farhan masuk, lalu duduk di mejanya.
__ADS_1
"Seharusnya kamu sudah selesai membersihkan ruangan ku sebelum aku tiba." Ujar Pak Farhan.
"Maaf Pak. Soalnya aku tidak tahu kalau Bapak akan datang sepagi ini." Sahut Sindi.
"Pak." Sindi mendekati Pak Farhan.
"Hmm." Sahut Pak Farhan.
"Sudah dua bulan lebih aku bekerja sebagai OG disini. Apa Pak Farhan tidak berniat untuk menaikkan posisi pekerjaan ku?" Tanya Sindi, seraya memainkan ujung dasi yang dikenakan Pak Farhan.
Glek. Pak Farhan menelan saliva nya melihat kearah dada Sindi yang terlihat padat dan berisi, karena pakaian yang dia kenakan begitu ketat. Pak Farhan pun mengangkat tangan hendak menyentuh buah dada Sindi, namun dengan cepat Sindi menepisnya.
"Pak Farhan nakal." Ujar Sindi seraya menjulurkan lidah seperti sedang menggodanya.
"Untuk sementara semua posisi sudah terisi, tapi kalau kamu mau, aku bisa menjadikan mu sekretaris-ku." Ucap Pak Farhan.
"Sekretaris?" Sindi berpikir sejenak. "Sebenarnya aku malas dekat-dekat sama laki-laki hidung belang ini! tapi aku sudah cape menjadi OG yang selalu di suruh ini dan itu. Apa lagi Nina! dia selalu bersikap seenaknya sama aku." Batinnya.
Pak Farhan meraba-raba bokong Sindi, sehingga membuatnya terkejut. "Aishh sial!" Umpat Sindi dalam hati, seraya menggigit ujung bibirnya." Belum apa-apa saja, dia sudah berani pegang-pegang. Apalagi aku sudah menjadi sekretaris nya! bisa habis." Batin Sindi.
"Kenapa diam?" Kali ini Pak Farhan memegangi dagu Sindi dan mengunci pandangannya. Namun perlahan Sindi menepisnya.
"Akan ku pikirkan nanti." Ucap Sindi, dia pun keluar dari ruangan itu.
"Sindi..." Panggil Doni, saat melihatnya baru keluar dari ruang Pak Farhan.
"Ada apa Don?" Tanyanya.
"Kamu baru selesai?" Tanya Doni, seraya menoleh ember yang dibawanya.
"Sudah." Jawabnya singkat.
"Makan dulu yuk?" Ajaknya.
__ADS_1
"Kebetulan, aku memang sudah laper." Ujar Sindi. Mereka pun berjalan menuju work cafe.