
azka duduk di ruang kerjanya. sekilas dia menoleh kearah beberapa dokumen penting yang belum sempat dia tanda tangani. dia mengambilnya dan segera menandatanganinya.
tok tok tok.
"masuk."
ceklek... pintu perlahan terbuka. azka sedikit terkejut melihat seseorang yang memasuki ruangannya.
"kamu?"
"selamat siang pak azka, maaf sudah mengganggu waktunya."
azka tertegun sejenak. "tidak apa-apa. silahkan duduk." azka meminta dia untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"perkenalkan, nama saya riko. CEO di perusahaan wijaya group." ucap riko seraya menyodorkan tangannya. azka pun menerimanya.
"ada apa pak? apa ada yang bisa saya bantu?" ucap azka dengan ramah.
"saya datang kesini ingin menawarkan kerjasama dengan bapak." ucapnya.
"kerjasama? kerja sama yang seperti apa yang ingin anda tawarkan kepada saya? bukankah kita bekerja dalam bidang yang berbeda." ucap azka, seraya menatap heran kepadanya.
"ya saya tahu itu. sebenarnya saya tertarik dengan cara anda mengelola hotel ini. saya tahu betul seperti apa keadaan hotel permata sebelum anda datang lalu memperbaiki semua sistem yang ada di dalamnya." ucap riko.
"anda terlalu memuji. sebelum ada saya pun hotel ini memang telah berkembang sempurna." ujar azka. "to the point saja. anda datang kesini untuk apa?" tanyanya.
"sebenarnya kedatangan saya kesini untuk meminta tolong, agar anda mau membujuk dwi untuk kembali bekerja di perusahaan saya."
mendengar permintaan riko, azka tampak mengepalkan tangannya. "kenapa tidak anda saja yang memintanya secara langsung kepada istri saya."
"saya sudah pernah mencobanya, tapi dia menolaknya." ucapnya berterus terang.
"kalau dia sudah menolaknya, lantas saya harus apa? haruskah saya memaksanya untuk kembali bekerja di perusahaan anda?" ucap azka menatap sinis kepada pria tidak tahu malu yang ada di hadapannya.
"saya yakin, dwi menolak untuk kembali bekerja pasti karena anda melarangnya."
"saya tidak pernah membatasi kegiatannya. dia bebas melakukan apapun yang dia ingin kan, termasuk dalam hal pekerjaan." azka meninggikan suaranya. "kalau tidak ada hal penting yang ingin anda bicarakan, silahkan keluar." tegas azka.
"sialan! berani sekali dia mengusirku." batin riko yang menahan amarahnya. "lihat saja, apa yang akan aku lakukan kepada istrimu." batinnya.
***
...Restoran...
"wi, bisakah kamu belajar untuk mencintai azka?" pinta sindi penuh harap.
"apa yang kamu bicarakan? kenapa aku harus melakukannya?"
"riko tahu, kalau pernikahan kalian terjadi karena perjodohan."
"lalu?" tanya dwi.
"sikap riko kembali cuek, setelah dia mengetahui yang sebenarnya."
__ADS_1
"maaf sin, aku tidak bisa melakukannya." lirih dwi.
"kenapa? azka itu tampan dan mapan. tidak akan sulit bagimu untuk bisa mencintainya." ucap sindi bernada tinggi.
"sindi, kamu tidak tahu seberapa menyebalkannya orang itu!" sentak dwi.
"kamu membenci azka karena kamu belum mengenalnya." ucap sindi.
"aku mengenalnya, jauh dari pada kamu."
"kalau begitu, kamu pasti tahu kalau azka itu tipe orang yang sangat setia terhadap pasangannya. kamu akan menjadi wanita yang paling beruntung jika bisa menaklukkan hatinnya." ujar sindi.
"masa sikh?"
"jangan merasa jadi orang yang sudah tahu segalanya, kalau hal seperti itu saja bahkan kamu tidak mengetahuinya."
"apakah kamu sedang memujinya?"
"bukan memuji! tapi itu faktanya."
"apa kamu menyukainya?" tanya dwi.
"cewek mana yang tidak tertarik dengannya? dia itu begitu karismatik." ucap sindi, seraya menyangga dagunya dengan kedua tangannya.
"lalu kenapa tidak kamu saja yang mendekatinya."
plak. seketika sindi langsung menjitak kepalanya.
"apa kamu sudah gila? azka itu suamimu, bagaimana bisa kamu meminta aku untuk mendekatinya." sentaknya.
"bukankah tadi kamu bilang, kalau wanita manapun pasti menyukainya? termasuk kamu juga kan?"
"tetapi aku tidak mungkin mendekatinya. kamu tahu kan, kalau aku sudah menyerahkan semuanya, bahkan tubuhku ini kepada riko. dan dia harus menikahiku."
"iya aku tahu! tapi apa kamu juga tahu kalau dia terus-menerus menggangguku? padahal aku sudah bela-belain mau menikah sama azka hanya untuk menghindarinya."
"itu karena riko tahu, kalau kamu tidak benar-benar mencintai azka. makanya riko selalu berusaha untuk mendapatkanmu."
"aku gak habis pikir sama kamu! padahal kamu itu cantik, kok kamu mau dipermainkan seperti itu oleh pak riko? dia itu bukan laki-laki yang baik untuk kamu. kenapa kamu gak tinggalkan dia saja?"
"cukup! aku memintamu datang kesini bukan untuk menceramahiku. kamu tidak berhak mengatur hidupku. karena aku tahu apa yang terbaik untuk hidupku sendiri." bentak sindi.
"aku bicara seperti ini karena aku perduli sama kamu."
"kamu tidak perduli kepadaku! kamu hanya perduli dengan dirimu sendiri. kamu pasti sengaja kan meminta aku untuk ninggalin riko, agar kamu bisa mendekatinya."
"tidak sin, kamu salah! kalau pun di dunia ini hanya ada pak riko satu-satunya laki-laki yang tersisa di dunia, aku tidak akan pernah memilihnya."
"aku tidak percaya."
"terserah percaya atau tidak! aku sudah mengatakan yang sejujurnya." dwi mengambil tas yang dia letakkan di meja, lalu pergi begitu saja.
***
__ADS_1
...apartemen...
dwi melempar tasnya kesembarang arah lalu membanting tubuhnya di sofa, dia menarik nafas panjang lalu membuangnya secara kasar.
"sin, pendek sekali jalan pemikiranmu. kenapa kamu selalu menuduhku kalau aku akan merebut pak riko darimu." batinnya. beberapa menit kemudian diapun ketiduran di sofa.
tak lama kemudian, azka pulang. dia menoleh kearah sofa yang nampak kalau dwi sudah tertidur pulas. "kenapa dia tidur disini?" batinnya. azka pun mendekati dwi untuk membangunkannya. "hei, bangun..." azka perlahan menggoyangkan badannya.
dwi menggeliat, lalu perlahan membuka kedua matanya seraya menguap. "apa sudah pagi?" tanyanya.
"bicara apa kamu ini? ini masih jam sepuluh malam." jawab azka lalu berdiri. "dasar cewek aneh! bisa-bisanya aku menikahi wanita sepertinya." dia pun bergegas masuk kedalam kamar.
azka melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya, lalu membuka jas yang dikenakannya.
ceklek. pintu kamar azka perlahan terbuka.
azka menoleh sekilas. "mau apa?"
"aku ingin meminjam uang." ucapnya to the point.
"untuk apa?"
"jujur saja, aku mempunyai hutang, dan aku harus segera melunasinya." ujar dwi.
"berapa?"
"seratus juta. tapi aku baru mempunyai uang tiga puluh juta. jadi apa kamu bisa meminjamkan aku sisanya?"
"baiklah! nanti uangnya akan aku transfer." ucap azka dengan raut wajah yang datar.
"terima kasih." ucap dwi sumringah, lalu hendak pergi, namun azka menghentikan langkah kakinya.
"tunggu!"
dwi berbalik badan, menatap kearahnya. "ada apa?"
"tadi riko datang ke hotel."
"sungguh?" dwi tampak terkejut.
"ya." azka mengangguk.
"untuk apa? apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?" tanya dwi.
"ya! dia memintaku untuk membujukmu agar kamu mau kembali bekerja di perusahaannya."
dwi tertegun sejenak. "aku tahu, kalau kamu tidak mencintaiku. dan kamu juga tidak akan perduli tentang perasaan pak riko terhadapku. tapi aku mohon, jangan memaksaku untuk kembali ke kantornya."
azka terdiam mendengar ucapan dwi. "kenapa dia beranggapan kalau aku akan memaksanya untuk kembali bekerja di perusahaan wijaya group? justru itu bagus, kalau dia memang tidak ingin kembali untuk bekerja di perusahaan itu." batinnya.
"apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan? kalau tidak, aku pergi." tanya dwi.
"ya. pergilah! aku ingin beristirahat."
__ADS_1