
Ditengah-tengah perjalanan Azka menghentikan laju mobil Edwin saat mengenali plat mobilnya. Azka pun mengetuk kaca mobil Edwin dan memintanya untuk segera keluar. Tak lama kemudian Edwin dan Sindi pun keluar dari mobil.
"Sindi... Ternyata ada kamu juga." Tutur Azka.
"Iya, ada apaan sikh Ka? kok kamu berhentiin mobil Edwin seperti itu?" Tanya Sindi.
Azka dan Edwin pun saling menatap satu sama lain.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama Edwin!" Jawab Azka. "Tapi, ya udahlah! sebaiknya kamu antar saja Sindi pulang kerumahnya terlebih dulu. Setelah itu, kamu temui aku di cafe tempat biasa." Lanjut Azka kepada Edwin.
"Kalau memang sangat penting, ya udah kalian pergi aja! biar aku naik taksi." Ujar Sindi.
"Gak bisa, ini sudah malam! aku takut kamu kenapa-kenapa. Biar aku yang mengantar kamu pulang." Sahut Edwin.
"Edwin begitu perhatian kepada Sindi! apa Edwin sudah berpaling dari Viona kepada Sindi?" Batin Azka.
"Ya udah, kita pergi dulu ya Ka." Ucap Sindi kepada Azka.
"Kalian hati-hati." Tutur Azka.
_
Setelah cukup lama menunggu Edwin, akhirnya Edwin pun datang dan langsung duduk dikursi depan Azka.
"Apa yang ingin Mas Azka bicarakan?" Tanya Edwin.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa aku tidak ingat apa-apa saat dirumah mu?" Tanya Azka mengintrogasi.
"Tidak ingat apa-apa? maksudnya gimana Mas?" Tanya Edwin berpura-pura polos.
"Setelah aku menenggak minuman yang kamu buat, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi! pas bangun, tahu-tahu aku sudah terbaring satu ranjang dengan Viona. Apa kamu bisa menjelaskannya?" Tanya Azka dengan tatapan tajam.
Edwin berdehem. "Maaf Mas Azka, tapi aku tidak tahu apa-apa soal itu." Jawab Edwin tengah berbohong.
"Edwin, aku harap kamu bicara dengan jujur! pasti kalian sekongkol kan untuk menjebakku?"
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tahu apa-apa! jadi tolong, jangan menekan ku seperti ini." Ucap Edwin meninggikan suaranya. "Kalau Mas Azka memintaku datang kemari hanya untuk menuduhku yang tidak-tidak! jujur, aku merasa tersinggung." Ucap Edwin, kemudian pergi.
"Edwin... Kita belum selesai bicara!" Teriak Azka. Namun Edwin tidak memperdulikannya.
"Maafkan aku Mas Azka! aku terpaksa melakukan ini. Aku tidak mau membahayakan janin yang ada didalam kandungan Viona, jika aku tidak mau menuruti permintaannya." Batin Edwin seraya memasuki mobilnya.
***
Erick menghampiri Dwi diruangannya.
"Ada apa Pak? apa Bapak perlu sesuatu?" Tanya Dwi.
"Kapan jadwal pemeriksaan kehamilan mu?" Tanyanya.
"Nanti siang Pak." Jawabnya. "Oya, sekalian saya ijin ya Pak." Lanjut Dwi.
"Nanti siang aku ada meeting! kita pergi sekarang saja." Sahutnya.
"Kita?! maksudnya?" Dwi mengernyitkan keningnya.
"Aku akan mengantarmu untuk cek kehamilan." Ujar Erick.
"Ini kemauan ku! jadi kamu tidak perlu menolaknya." Ujar Erick. "Sekarang cepat ambil tas kamu, kita pergi sekarang." Titahnya.
Mau tidak mau, Dwi pun menuruti perintah Erick.
Dwi mengekori Erick dari belakang. Sebenarnya dia merasa sedikit risih saat semua karyawan kantor menatapnya dengan sinis, karena hanya dia yang diperlakukan istimewa seperti itu. Padahal sebelumnya Erick terkenal dengan sosok yang cuek dan bodo amat terhadap orang lain.
"Pak Erick, seharusnya Bapak tidak perlu bersikap seperduli ini sama aku. Karena sikap Bapak bisa menimbulkan desas-desus aneh dikantor." Ucap Dwi, memecah keheningan didalam mobil.
"Biarkan saja mereka berpikir sesuai keinginan mereka." Sahut Erick dengan enteng.
Rumah sakit.
Viona baru saja keluar dari ruang pemeriksaan kehamilan. Namun dia terkejut saat melihat Kakaknya dan Dwi berjalan menuju ruang pemeriksaan. Dengan cepat dia bersembunyi di balik dinding.
__ADS_1
"Senang melihat Bu Dwi bisa diantar oleh suaminya lagi." Ujar Dokter kandungan yang menangani Dwi.
Viona menohok saat mendengar ucapan Dokter yang mengatakan kalau Erick itu suami Dwi. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Viona pun segera merekam pembicaraan mereka dan memvideokannya.
"Ibunya sehat, dan perkembangan bayinya juga sangat baik. Usahakan ya Bu Dwi, untuk tidak melakukan kegiatan yang berat-berat dulu." Ucap Dokter.
"Iya Dok." Sahut Dwi.
"Ini bisa jadi, hari terakhir saya untuk mengantar Dwi Dok." Ucap Erick tiba-tiba. "Karena besok lusa, saya akan berangkat keluar negeri untuk mengurus bisnis saya disana." Lanjutnya.
Dokter tersenyum. "Usahakan ya Pak, jangan terlalu sering-sering meninggalkan istri sendirian dirumah, apalagi dalam keadaan hamil." Ucap Dokter.
Erick tersenyum getir.
Takut ketahuan, dengan cepat Viona segera pergi meninggalkan tempat itu. "Suami istri?! apa-apaan ini! apa diam-diam ternyata Kak Erick sudah menikah dengan Dwi tanpa sepengetahuan aku dan Papa?" Tanyanya dalam hati. "Tapi, sejak kapan mereka berdua saling mengenal? lalu kenapa juga Dwi mengaku kalau anak yang sedang dikandungnya itu anak Azka, sementara dia sendiri sudah menikah dengan Kak Erick." Lanjutnya.
**
Dua hari kemudian.
"La, lalala... La, lalala..." Sindi berputar-putar menari-nari mengelilingi Dwi yang sedang berdiri didekat pantry.
Dwi memegangi kening sepupunya itu. "Kamu sakit ya?"
"Aishh... Apaan si." Decah Sindi. "Kamu gak lihat apa, kalau aku itu lagi senaaaang... Banget." Ujar Sindi.
"Senang kenapa?" Tanya Dwi.
"Senang karena CEO angkuh itu pergi keluar negeri." Jawabnya. "Kamu tahu kan, selama ini aku selalu bernasib sial semenjak aku kenal dengan laki-laki itu." Desah Sindi.
"Mungkin kamu memang lagi apes aja, ngapain kamu pake nyalah-nyalahin orang lain segala." Desus Dwi.
"Jangan belain Erick terus! atau aku juga akan berpikiran kalau kamu memang memiliki hubungan khusus dengannya." Decak Sindi.
"Ekh kok kamu panggil nama sama Pak Erick? hati-hati loh Sin, kamu bisa dipecat dari perusahaan ini." Dwi mengingatkan.
__ADS_1
"Selow dong Wi, woles!" Ujar Sindi. "Lagi pula itu orang sudah berangkat ke bandara, jadi dia gak mungkin dengar." Celetuknya.
"Kamu tu ya! memang susah dibilangin." Desah Dwi.