
**
"Edwin, apa kamu melihat Pak Bagas?" Tanya Azka kepada asistennya.
"Tidak Pak." Jawabnya. "Itu yang ada di tangan Pak Azka?" Edwin sedikit enggan untuk menanyakannya.
"Ini surat pengunduran diri! apa kamu sudah melihat Pak Bagas kesini?" Tanya Azka.
"Sepertinya Pak Bagas belum datang Pak." Jawab Edwin. "Pak Azka yakin ingin mengundurkan diri dari sini?"
Azka tersenyum mendengar pertanyaan dari Edwin. "Aku tidak pernah main-main saat mengambil keputusan." Jawabnya.
Tak lama kemudian Viona langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Viona..." Tutur Azka. "Ada apa?" Tanyanya.
Viona tak segera menjawab pertanyaan dari Azka. Matanya malah pokus menatap wajah Edwin yang kebetulan juga sedang menatapnya.
Azka pun menoleh bahasa tubuh keduanya secara bergantian. "Viona kenapa menatap Edwin seperti itu?" Batinnya.
"Kalau begitu saya permisi." Ucap Edwin yang hendak pergi.
"Em, Edwin..." Panggil Viona, sehingga membuatnya berhenti melangkahkan kakinya.
"Ada apa Bu?" Tanya Edwin, yang tengah berdiri diambang pintu.
"Kamu bisa tunggu aku diluar gak? soalnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu! tapi nanti setelah urusanku dengan Azka selesai." Ujar Viona.
__ADS_1
"Baik Bu." Sahut Edwin. Dia pun keluar dan menutup rapat pintu ruangan Azka.
"Azka, itu yang ada ditangan kamu map apa?" Tanya Viona.
"Ini surat pengunduran diri." Jawab Azka seadanya.
"Surat pengunduran diri?" Viona merasa sedikit heran. "Itu bukan surat pengunduran diri Edwin kan?" Tanyanya.
"Bukan! ini surat pengunduran diri ku." Jawab Azka, seraya duduk disofa, yang diikuti oleh Viona dan duduk disampingnya.
"Azka, kenapa kamu ingin mengundurkan diri? kamu tahu kan diluaran sana masih banyak banget orang yang ingin menduduki jabatan kamu di hotel ini." Ujar Viona, seraya memegang tangan kiri Azka yang dia sanggakan di pahanya.
"Aku tidak nyaman bekerja di hotel ini, jika kamu terus bersikap seperti ini." Ujar Azka. "Apa lagi semenjak Pak Bagas meminta aku untuk menikahi kamu, itu membuatku semakin serba salah! Mau nolak gak enak sama Pak Bagas, mau menerima juga tidak mungkin! karena jujur saja, sampai detik ini aku masih sangat mencintai Dwi." Jelas Azka.
Mata Viona pun kini berkaca-kaca saat mendengar pengakuan pahit yang keluar dari mulut laki-laki yang sangat dicintainya. "Kamu jahat Azka. Tega sekali kamu bicara seperti itu sama aku! padahal aku sangat tulus mencintai kamu." Ucap Viona dengan suara yang bergetar.
"Tapi kenapa?" Sentak Viona yang sudah tidak bisa menahan air matanya lagi, sehingga kini mengalir deras membasahi pipinya. "Sebutkan satu saja kelebihan Dwi dibandingkan aku? cepat katakan! agar aku bisa memahami dan mengerti kenapa hingga detik ini kamu tidak bisa melupakannya?" Viona bicara dengan nada tinggi dan amarah yang meluap-luap.
Azka mengangkat tangan ingin menyeka air mata Viona, namun dengan cepat Viona menepisnya. "Jangan mengasihaniku lagi jika kamu sebenarnya memang tidak pernah peduli sama aku." Bentaknya.
"Viona, stop! jangan seperti ini. Atau orang-orang akan mendengar suara teriakan kamu dan mengira kalau aku telah menyakitimu." Pinta Azka dengan nada rendah.
"Memangnya kamu tidak merasa, kalau sekarang kamu telah menyakitiku?" Tanya Viona menyudutkan Azka. "Kamu telah menyakiti perasaanku Azka! apa kamu tidak menyadarinya?" Kali ini Viona merendahkan nada bicaranya.
"Aku minta maaf! aku benar-benar minta maaf! aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu. Tapi kamu harus sadar dan mengerti kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan." Ujar Azka. "Bukan hanya aku saja yang nantinya akan terluka jika memaksakan untuk mau menikah dan membina mahligai bahtera rumah tangga dengan kamu. Tapi kamu juga pasti akan terluka! sangat-sangat terluka! karena aku pasti tidak mungkin bisa membahagiakanmu." Lanjutnya.
"Kamu jahat!" Viona mendorong tubuh kekar Azka, lalu berlari, keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Vi... Viona..." Teriak Azka mengejarnya. Namun Viona tak mau mendengarkannya.
Edwin terkejut melihat Viona keluar dari ruangan Azka dengan berlinang air mata. "Ada apa Pak? kenapa Bu Viona menangis?" Tanya Edwin yang terlihat khawatir dengan Viona.
"Edwin, sebaiknya kamu tolong kejar Viona dan ikuti kemanapun dia pergi." Pinta Azka.
"Baik Pak." Dengan cepat Edwin mengejarnya.
Sementara Azka berjalan menuju ruangan Pak Bagas untuk memberikan surat pengunduran dirinya. Pak Bagas sangat terkejut saat menerima dan membaca isi dari lembar kertas yang diberikan Azka kepadanya. Dia pun terlihat sangat kecewa dengan keputusan Azka.
"Sebaiknya kamu pertimbangkan lagi keputusanmu ini! jangan karena aku memintamu untuk menikahi Viona, lantas kamu mengundurkan diri dari sini." Ujar Pak Bagas.
"Saya minta maaf Pak. Tapi keputusan saya sudah bulat." Jelas Azka.
Pak Bagas mengusap wajahnya dengan kasar. "Andai saja aku tidak memintamu untuk menikahi Viona, apa kamu akan tetap mengundurkan diri?" Tanya Pak Bagas, menatap wajah Azka dengan serius.
Azka menatap wajah Pak Bagas sekilas kemudian menunduk. Dia tak berani untuk menjawabnya. Namun, tanpa menunggu jawaban dari Azka, sepertinya Pak Bagas sudah mengetahui apa yang ada dipikiran Azka dari ekspresi wajahnya.
"Aku menyesal meminta kamu untuk menikahi Viona, jika akhirnya akan berujung seperti ini. Aku sadar, aku memiliki banyak uang, dan bisa membeli apapun dengan uangku! tapi tidak dengan perasaanmu." Ujar Pak Bagas. "Aku sangat menyayangi Viona, dan aku ingin sekali melihatnya hidup bahagia bersama laki-laki yang dicintainya." Lanjutnya.
"Tapi apa Bapak rela, menikahkan anak kesayangan Bapak kepada laki-laki yang bahkan sama sekali tidak pernah mengharapkannya?" Tanya Azka. "Dan asal Bapak tahu, seumur hidup saya hanya pernah jatuh cinta dua kali! yaitu kepada Nadia almarhumah istri saya, dan kepada Dwi mantan istri saya." Lanjutnya.
"Apa itu artinya tidak ada harapan untuk Viona bisa memilikimu?" Tanyanya.
Azka mengangguk pelan. Dan merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Pak Bagas.
"Baik. Tapi surat pengunduran diri ini aku kembalikan!" Ujar Pak Bagas. "Aku akan menganggapmu cuti. Dan jika kamu sudah siap untuk kembali bekerja disini, aku akan menyambutmu dengan hangat." Ujar Pak Bagas.
__ADS_1
Azka menohok mendengar ucapan Pak Bagas.