
Sindi menyodorkan minuman dingin kepada Edwin. Dengan cepat Edwin menyambar lalu menenggaknya, sehingga kini dia belepotan.
"Pelan-pelan dong Win." Ucap Sindi, seraya mengusap lembut ujung bibirnya.
Edwin terpaku melihat perlakuan Sindi terhadapnya, sehingga dia terus menatap lekat wajah Sindi.
"Sialan si Sindi! sepertinya dia memang sengaja cari perhatian terhadap Edwin. Ini gak bisa dibiarin!" Geram Viona dalam hatinya. "Ini sudah malam, dan aku ingin segera pulang!" Ucap Viona secara tiba-tiba. Sepertinya dia sudah tidak sanggup untuk melihat pemandangan tidak biasa yang ada dihadapannya. "Edwin, apa kamu bisa mengantarkan aku pulang?" Tanyanya.
Azka menatap sinis kepada Viona. "Edwin tidak bisa mengantar mu pulang! apa kamu tidak melihat, jika dia sedang bersama Sindi." Ketusnya.
"Edwin itu bekerja di hotel Papa ku! dan aku bisa melakukan apa saja, termasuk menyuruhnya untuk mengantarkan aku pulang." Decak Viona.
"Walaupun Edwin itu bekerja pada Papa kamu, tapi kamu tidak bisa seenaknya menyuruh-nyuruhnya, terlebih malam ini sudah bukan lagi jam kerjanya." Ujar Sindi dengan sinisnya.
Viona menatap wajah Sindi dengan penuh kebencian. Kemudian diapun menoleh kepada Edwin. "Edwin, kalau kamu tidak mau mengantarku pulang! aku akan meminta Papa untuk memecat laki-laki tidak berguna sepertimu." Ucap Viona bernada ancaman.
"Baik! aku akan mengantarkan kalian berdua." Ucap Edwin.
"Tidak perlu Win, kamu antar saja Sindi pulang! wanita manja ini biar aku yang akan mengantarkannya." Ketus Azka.
"Aku tidak mau! aku mau Edwin yang mengantarkan aku untuk pulang, bukan kamu." Viona menoleh kepada Azka.
Sikap Viona semakin memperkuat dugaan Azka, kalau Viona memang benar-benar cemburu kepada Sindi.
Edwin menoleh kepada Sindi. "Tidak apa-apa jika Azka yang mengantarmu pulang?" Tanyanya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku gak mau Edwin mengantar Viona pulang! tapi ada baiknya juga, jika bukan Azka yang mengantarnya pulang." Batin Sindi. " Aku yakin, Viona bersikap seperti itu pasti karena dia kesal terhadap Azka, karena sedari tadi Azka terus cuek terhadapnya." Lanjutnya dalam hati. "Tidak apa-apa." Ucapnya setelah terdiam sejenak.
Akhirnya Azka pun pulang dengan Sindi, sementara Edwin pulang bersama Viona.
Di perjalanan Edwin diam seribu bahasa, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa dari tadi Edwin diam saja?" Batin Viona, yang sedari tadi terus memperhatikannya. "Win..." Tuturnya.
"Ya." Jawabnya, seperti seseorang yang sedang malas untuk berbicara.
"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Viona. Namun tak ada jawaban dari mulut Edwin, sehingga suasana kembali hening. Namun Viona tak berputus asa, dia terus mencoba untuk mencairkan suasana. "Apa Sindi itu pacar kamu?" Tanyanya.
"Bukan." Jawabnya singkat, tanpa menoleh.
"Itu karena dia itu perempuan yang baik! dan jujur, aku merasa sangat nyaman jika berada didekatnya." Sahut Edwin, tidak bermaksud untuk melukai perasaan Viona, karena dia tahu kalau Viona tidak pernah membalas perasaannya.
"Apa kamu berniat untuk menjalin kasih dengannya?" Tanyanya lagi.
"Sebelum aku memiliki perasaan lebih terhadap Sindi! dia pernah bilang, kalau dia tidak mau pacaran, melainkan ingin langsung menikah! setelah dia menemukan sosok laki-laki yang bisa membuatnya merasa nyaman." Jelas Edwin.
"Jadi kamu tidak akan memacarinya, melainkan akan langsung menikahinya?" Rasa keingin tahuan Viona semakin besar.
"Ya. Sepertinya begitu!" Sahut Edwin.
"Apa itu artinya aku akan kehilangan kamu." Kali ini Viona memelankan nada bicaranya.
__ADS_1
Edwin tersenyum seraya mengusap lembut pucuk kepalanya. Namun tak ada kalimat lagi yang keluar dari mulutnya, bahkan Edwin pergi begitu saja meninggalkan Viona yang berdiri di-halaman rumahnya.
_
Sementara Azka dan Sindi juga tampak diam-diaman didalam mobil. Azka pun mencoba mencairkan suasana. "Jangan takut! jika Edwin itu memang jodoh mu, dia pasti akan menjadi milikmu." Ucap Azka secara tiba-tiba, sehingga membuat Sindi yang duduk disamping joknya pun menohok.
"Apaan si." Ketus Sindi. Moodnya kini memang sedang tidak baik.
"Aku tahu, sebenarnya kamu tidak mau Edwin mengantarkan Viona pulang." Ujar Azka kemudian.
"Jangan sotoy!" Ketusnya lagi. "Aku sebenarnya kecewa sama kamu! kenapa kamu melakukan ini kepada Dwi? kamu bilang kamu itu masih sayang sama Dwi, tapi kenapa kamu malah menghamili Viona?" Tanya Sindi.
Azka menghela nafas panjang lalu membuangnya secara kasar. "Aku yakin, kalau aku telah dijebak! karena saat itu aku memang tidak ingat apa-apa." Jelas Azka.
"Tidak ingat apa-apa? berarti kamu juga tidak tahu dong, walaupun saat itu kamu memang benar-benar telah menodai Viona hingga dia hamil!" Ujar Viona dengan tatapan penuh penekanan.
Azka tertegun sejenak, dan memikirkan kembali apa yang pernah terjadi. "Sepertinya hanya Edwin yang tahu segalanya! karena disaat itu dia ada ditempat kejadian, sebelum kejadian itu terjadi." Ujar Azka, samar-samar mengingatnya.
"Kejadian itu terjadi? berarti kamu memang benar telah menodai Viona?" Sindi terus mengintrogasi.
"Aku tidak tahu! karena sudah aku katakan, kalau aku sama sekali tidak mengingat apa-apa." Jelas Azka.
"Padahal tadinya aku sudah sangat mendukung kalian agar rujuk kembali! tapi bukan hanya Dwi, aku pun sekarang mulai meragukan kamu." Ujar Sindi.
Azka terdiam. Dia pun bertanya dalam hati. "Kalau pun Viona memang hamil bukan anak dari aku, lalu dia hamil anak siapa?" Batinnya.
__ADS_1