
Azka menunjukkan kesungguhan hatinya untuk kembali mempersunting Dwi. Dia mengajak Pak Ardi dan Bu Asmi untuk datang kerumah Nek Eva dan melamar Dwi untuknya. Awalnya Dwi sempat kebingungan antara harus menolak atau menerimanya? namun setelah berpikir beberapa saat, Dwi memikirkan kembali bagaimana sikap dan perhatian Azka terhadap Dwi dan anak mereka. Akhirnya Dwi pun menerima lamaran Azka karena Dwi tidak ingin mengorbankan kebahagiaan putri kecilnya hanya karena keegoisannya.
"Acara pernikahan mereka kita adakan secepatnya." Pak Ardi antusias saat Dwi menganggukkan kepala, menerima lamarannya.
"Baik Pak. Lebih cepat akan lebih bagus!" Seru Pak Mukti.
"Yee... Akhirnya Kak Dwi sama kak Azka akan bersatu lagi." Seru Ica seraya berdiri dari duduk dan mengangkat kedua tangannya keatas.
Semua orang pun tertawa melihat tingkah lucu Ica yang begitu menggemaskan. Hingga tawa mereka terhenti ketika mendengar suara tangisan bayi dari kamar Dwi.
"Biar Ibu saja." Ucap Bu Patma ketika Dwi berdiri untuk melihat baby Wika. Lantas Dwi pun kembali duduk.
Bu Asmi memegangi tangan Dwi seraya menatap lekat wajahnya. "Terima kasih ya nak, karena kamu sudah mau memberikan kesempatan kedua buat Azka." Kedua bola mata Bu Asmi tampak berkaca-kaca.
"Aku tidak ingin menjadi seorang Ibu yang egois! karena walau bagaimanapun juga Wika memerlukan sosok seorang Ayah." Ujar Dwi tersenyum kepadanya.
Bu Patma keluar dari kamar dengan menggendong baby Wika. Azka yang melihatnya pun langsung berdiri dan meminta Bu Asmi untuk memberikan baby Wika kepadanya.
__ADS_1
"Wika sama Papi dulu ya... Papi mau gendong Wika katanya." Ujar Bu Patma kepada bayi yang baru berusia empat bulan itu.
Setelah menggendong baby Wika, Azka keluar dari ruangan untuk mencari angin dan diikuti oleh Dwi. Setelah dihalaman tiba-tiba Azka mengajak Dwi untuk membawa baby nya jalan-jalan. Awalnya Dwi sempat menolak, namun Azka seperti sedang memohon hingga akhirnya Dwi pun mengindahkan keinginannya.
Azka membawa Dwi dan bayi mereka kesebuah pusat perbelanjaan dikota itu untuk membeli pakaian serta perlengkapan bayi seperti sabun mandi, bedak dan lain-lain. Sementara keduanya tampak sibuk memilih pakaian bayi, baby Wika terlihat tidur lelap dipelukan Azka karena sedari tadi Azka yang menggendongnya.
Ditempat yang sama, tidak sengaja mereka bertemu dengan Erick yang kebetulan sedang berbelanja disana juga.
"Pak Erick!" Seru Dwi setelah melihat wajah laki-laki yang ada disamping kanannya, sementara Azka berdiri tepat disamping kirinya.
"Dwi." Sahut Erick seraya tersenyum kepadanya, namun seketika dia menoleh kepada Azka. "Dia siapa?" Tanyanya kemudian.
"Laki-laki ini, bukankah dia laki-laki yang pernah aku lihat ditaman bersama Viona!" Batin Erick. "Aku pikir dia itu laki-laki yang sudah menikahi Viona. Jika bukan menikah dengannya, lalu Viona menikah dengan siapa?" Dalam hati Erick pun bertanya-tanya.
"Kamu laki-laki yang waktu itu mengaku sebagai suami Dwi kan?" Azka berbasa-basi.
"Iya. Saya minta maaf, karena sudah lancang mengaku-ngaku sebagai Ayah dari calon anakmu waktu itu." Erick menoleh kepada bayi yang digendong Azka. "Apa anak ini-..."
__ADS_1
"Ya. Dia anakku!" Sela Dwi, mengerti apa yang ingin ditanyakan oleh Erick.
"Anaknya cantik! persis seperti ibunya." Puji Erick yang tentu saja membuat Azka seakan terbakar api cemburu, apalagi saat melihat bagaimana cara Erick menatapnya.
"H*mo?! Ck." Umpat Azka dalam hati. "Bagaimana bisa Dwi mengiranya sebagai pria h*mo! sementara dari tatapannya saja terlihat jelas jika dia seorang laki-laki yang normal." Batin Azka.
"Pak Erick sedang apa disini?" Dwi pun mempertanyakan, karena tadi dia sempat melihat Erick memilih beberapa perlengkapan bayi juga. "Apa Pak Erick sudah menikah?" Dwi memberanikan diri bertanya tentang status Erick sekarang.
"Apa-apaan ini?!" Batin Azka yang mulai geram melihat kedekatan antara Dwi dan mantan atasannya itu. "Bisa-bisanya Dwi menanyakan hal itu pada laki-laki ini didepan muka ku." Lanjutnya dalam hati.
"Belum." Jawab Erick singkat.
"Lalu, sedang apa Bapak disini?" Tanyanya. "Aku pikir Pak Erick sudah menikah dan akan segera memiliki anak, makanya Bapak ada disini."
"Aku baru saja kembali ke Indonesia. Dan saat mendengar kalau anak yang dulu kamu kandung itu sudah lahir, aku berniat untuk memberikan sebuah kado untuk anakmu. Tapi tak disangka kita akan bertemu disini." Ujar Erick terus terang.
Azka yang mendengar itu langsung mendorong tubuh Erick dan berdiri ditengah-tengah antara mereka. "Terima kasih sebelumnya."Ujarnya. "Tapi aku rasa anakku tidak membutuhkan apa-apa darimu, jadi simpan saja uangmu." Cetus Azka. "Dwi sebaiknya kita pergi dari sini."
__ADS_1
"Kenapa terburu-buru?" Dwi menohok melihat sikap Azka yang tiba-tiba berubah.
Tanpa menjawab, Azka langsung memegangi tangan Dwi dan membawanya pergi meninggalkan Erick yang sedang terpaku melihat kepergian kedua orang yang barusan dihadapannya.