
Pulang kerja, Dwi langsung bergegas menuju tempat dimana Erick memintanya untuk mengantarkan beberapa berkas. Dwi mengamati tempat itu. Tempatnya begitu megah, namun terlihat sepi bak tak berpenghuni. "Apa benar ini tempatnya?" Gumam Dwi. "Coba deh, aku cek lagi lokasinya." Dwi mengambil ponselnya. "Ini benar alamatnya! tapi kok sepi ya?" Dwi pun memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.
Perlahan pintu terbuka.
Deg. Dwi terkejut saat melihat Riko berdiri tepat didepannya. "Kamu!"
"Hai Wi." Riko tersenyum. "Kamu pasti datang kemari atas permintaan Pak Erick. Iya kan?" Ucap Riko berbasa-basi.
"Iya. Tapi kok kamu bisa ada disini?" Tanya Dwi.
"Masuklah! tidak enak jika ngobrol diambang pintu seperti ini." Ujar Riko.
"Tidak perlu! aku kesini hanya ingin mengantarkan file ini saja." Tolak Dwi.
"Itu berkas yang harus aku tanda tangani kan?"
Dwi mengangguk. "Iya."
"Aku akan menandatanganinya diruanganku! Kamu masuklah dulu, dan tunggu aku diruang tengah." Pinta Riko.
"Tapi-..."
"Masuklah! aku sudah jinak kok." Celetuknya.
Dengan enggan, perlahan Dwi berjalan masuk kedalam rumah itu.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Riko.
"Gak usah repot-repot." Tolak Dwi.
"Cuman air saja. Aku buatin kamu minuman dingin ya?"
__ADS_1
Dwi mengangguk pelan. Dia mengamati isi dari rumah itu. Sementara Riko sudah pergi ke dapur untuk membuat minuman. "Rumah sebesar ini, masa tidak ada pembantunya sikh? aku harus berhati-hati sama Riko! bisa saja dia berniat buruk sama aku." Batinnya.
Tak lama kemudian Riko datang dengan dua minuman yang ada ditangannya. Dia hendak memberikan minuman ditangan kanannya, tapi mengurungkannya! dan memberikan minuman yang ada ditangan kirinya kepada Dwi. " Kamu minum dulu! aku tinggal keatas sebentar ya." Ucap Riko, dia pun menaruh minumannya dimeja, lalu berjalan menaiki anak tangga dengan berkas-berkas yang ada ditangannya.
Sesampainya di ruang kerja. Riko langsung menyalakan laptop dan melihat kamera CCTV yang ada diruang tengah, tepat dimana Dwi berada. "Sudah aku duga! Dwi pasti akan menukar minumannya karena dia tidak mempercayaiku." Gumam Riko, saat melihat Dwi menukar minumannya dengan minuman Riko. "Selamat menikmati minuman itu Dwi! kamu pasti mengira kalau minuman milikku aman! tapi kamu salah, justru diminuman ku yang sudah aku kasih obat tidur." Lanjutnya.
_
Dwi menenggak minuman itu sampai setengahnya. "Hoaammm..." Dia menguap karena tiba-tiba merasa ngantuk. "Riko mana ya? kenapa belum turun juga? masa sikh tanda tangan berkas selama ini." Gumamnya, yang berusaha menahan kantuknya.
"Riko..." Teriak Dwi. "Ekh, gak sopan kalau aku panggil namanya. Dia itu kan rekan bisnisnya Pak Erick." Gumamnya. "Pak Riko..." Dwi meralatnya. Dwi terus berusaha menahan kantuknya dengan cara membuka mata dengan tangannya agar tidak ketiduran disana. "Pak Riko..." Teriaknya lebih keras lagi, namun tak kunjung ada jawaban. Hingga tak lama kemudian Dwi pun kalah dan tertidur disofa.
Saat mengetahui Dwi sudah tertidur, dengan cepat Riko turun dan menghampirinya. "Dwi, Dwi. Akhirnya, malam ini kamu akan menjadi milikku." Gumam Riko tersenyum licik.
*
"Cari siapa?" Tanya Bu Asmi.
"Silahkan masuk. Tante akan panggilkan."
"Terima kasih Tante."
"Bentar ya, Tante buatkan minuman dulu." Bu Asmi hendak pergi ke dapur tapi di larang oleh Viona.
"Tidak perlu Tante, aku gak lama kok! mendingan Tante langsung panggilin Azka saja." Pinta Viona.
Bu Asmi menohok, melihat sikap Viona yang menurutnya sedikit kurang sopan. "Ya sudah, silahkan duduk." Ucap Bu Asmi.
Tak lama kemudian Azka turun dari tangga. "Ada apa?"
"Kita jadi kan pergi dugem bareng?" Tanya Viona antusias.
__ADS_1
"Kapan aku janji sama kamu? tadi aku kan sudah bilang gak bisa." Ujar Azka.
Raut wajah Viona tampak sedikit muram. "Aku sudah terlanjur ijin sama papa, kalau malam ini aku akan pergi bareng kamu." Ujar Viona.
"Memangnya Papa kamu mengijinkan kamu untuk dugem?"
"Tentu saja tidak! aku bilang sama Papa kalau kamu mengajakku untuk makan malam bersama." Tutur Viona.
"Kenapa kamu membohongi Papa kamu dengan mengatas namakan aku?" Azka sedikit marah.
"Maafkan aku. Papa hanya akan mengijinkan jika aku pergi dengan kamu."
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Azka dengan tatapan yang dingin.
"Papa percaya kalau kamu itu laki-laki yang baik dan bisa menjagaku." Jelasnya.
"Tapi maaf, aku tidak bisa pergi denganmu!" Tolak Azka dengan tegas. "Kalau kamu mau, aku bisa meminta Edwin untuk menemani kamu. Aku yakin, dia pasti bisa menjaga kamu." Ucap Azka. Tanpa menunggu persetujuan dari Viona, Azka langsung menghubungi Edwin dan meminta dia untuk menjemput Viona dirumahnya.
Akhirnya, mau tidak mau Viona terpaksa pergi ke club bersama Edwin. Karena kesal dengan Azka, Viona minum banyak hingga beberapa botol dan menyebabkannya mabuk.
"Bu Viona sudah minum terlalu banyak! sebaiknya kita pulang." Ajak Edwin.
"Tunggu sampai aku menghabiskan beberapa botol lagi." Tolaknya.
"Tidak bisa! Ibu sudah mabuk. Sebaiknya kita cepat pulang." Tanpa menunggu persetujuan, Edwin langsung merangkul kan tangan Viona ke-lehernya dan membawanya keluar dari tempat itu.
Saat dimobil. "Edwin, bawa saja aku pulang kerumah mu." Pinta Viona.
"Tapi Bu, Pak Bagas akan mencemaskanmu jika malam ini Bu Viona tidak pulang." Ujar Edwin.
Viona memberikan ponselnya kepada Edwin. "Chat Papa aku. Dan katakan kalau malam ini aku mau menginap dirumah temanku." Ucap Viona, dengan nada bicaranya sedikit ngelantur akibat pengaruh alkohol yang ditenggaknya.
__ADS_1
Akhirnya, mau tidak mau Edwin terpaksa menuruti semua permintaan dari anak atasannya itu. Terlebih dia juga mencintai Viona, sehingga tidak tega jika harus menolak setiap permintaannya. Termasuk permintaan Viona yang memintanya untuk tetap merahasiakan kejadian indah saat dihotel.