
Saat Dwi memasukkan suapan pertama kedalam mulutnya, tiba-tiba saja dia merasa mual. "Aku ke toilet dulu ya." Ucap Dwi secara tiba-tiba.
"Apa perlu aku antar?" Tanya Sindi.
"Gak usah." Ucap Dwi kemudian pergi.
Dalam diam, Azka terus memperhatikan Dwi.
"Gaun yang tadi Tante pilih itu sangat bagus dan cantik." Ucap Sindi disela-sela makannya.
"Sungguh? apa menurutmu gaunnya sangat indah?" Tanya Bu Asmi seraya tersenyum.
"Sangat-sangat indah Tante. Kalau menikah nanti, aku juga ingin memakai gaun yang sama persis dengan gaun yang tadi Tante pilih." Ucap Sindi, sehingga membuat Bu Asmi tertawa melihat tingkah lakunya.
"Apa kamu akan menikah dengan Riko?" Tanya Azka.
Seketika pertanyaan Azka membuat nafsu makan Sindi hilang. "Tidak!" Jawabnya seraya mengaduk-aduk makanan dipiringnya.
"Kenapa? aku dengar kalau kamu itu sangat mencintainya." Tanya Azka.
"Pasti Dwi kan yang mengatakan itu!" Ujar Sindi. "Percuma juga mencintai orang yang sudah tidak mencintai ku lagi! ujung-ujungnya hanya akan makan hati." Lanjutnya.
"Maksud kamu, Riko sudah tidak mencintai kamu lagi?" Tanya Azka lagi, yang mulai mendekatkan diri kepada sepupu mantan istrinya.
Sindi pun mengangguk, dengan raut wajah sedih.
"Seharusnya kamu bersyukur, bisa lepas dari laki-laki macam Riko." Ucap Azka. "Maaf, bukan maksudku untuk menjelek-jelekkan nya. Tapi menurutku kamu itu terlalu berharga untuk dia permainkan." Lanjutnya.
Ucapan Azka membuat Sindi menohok. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu, sementara dia sendiri telah mengkhianati Dwi, yang tak lain adalah sepupunya. "Ya. Laki-laki memang begitu! manis didepan tapi busuk dibelakang." Ujar Sindi seraya menatap tajam kepada Azka.
__ADS_1
"Sindi maksudnya apa ya? kok tatapannya sinis gitu." Batin Azka.
"Kamu itu cantik! Tante yakin, tuhan sudah mempersiapkan laki-laki yang jauh lebih baik, dari pada mantan kamu yang bernama Riko itu." Ucap Bu Asmi.
"Mudah-mudahan saja Tante." Ucap Sindi tersenyum masam. "Tapi aku tidak yakin, apakah wanita yang berlumur dosa seperti aku pantas untuk bahagia? dan apakah ada laki-laki yang bisa menerima masa laluku, mengingat tubuh ini yang sudah tidak suci lagi." Batinnya.
"Sindi, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Azka.
"Boleh. Satu pertanyaan 200 ribu." Celetuknya, sehingga membuat Azka dan Mamanya saling bertatapan. "Hehe... Aku bercanda kok." Ucapnya kemudian. "Kamu mau tanya apa? tapi jangan tanya-tanya tentang aku ya?" Lanjutnya, penuh percaya diri.
Azka mengernyitkan keningnya. "Sekarang Dwi lagi dekat sama siapa?" Tanyanya.
"Tembok, toilet duduk mungkin." Ujarnya. Azka sedang bertanya serius tapi Sindi malah mempermainkannya.
"Sindi, ini kita lagi makan, kenapa kamu bahas hal begitu?" Ucap Bu Asmi.
"Hehe. Maaf Tante." Sindi cengengesan. "Setahu aku, Dwi belum dekat dengan siapapun setelah bercerai dengan kamu." Jelasnya.
"Memangnya kamu! baru bercerai dengan Dwi satu bulanan saja sudah ngebet pengen nikah." Ucap Sindi secara spontan.
"Maksudnya?" Tanya Azka, tak mengerti arah pembicaraannya.
"Kamu mau nikah kan sama si pelakor itu?" Ucap Sindi.
"Kamu itu sebenarnya ngomong apa sikh?" Azka tampak kebingungan.
Sindi menoleh kepada Bu Asmi. "Tante, gaun yang tadi Tante pilih itu untuk Viona kan? calon istrinya Azka."
"Tunggu-tunggu. Sindi, kamu sepertinya salah paham." Ucap Bu Asmi. "Tadi Tante memang memilih gaun pengantin, tapi bukan untuk calon istrinya Azka! tapi untuk keponakan Tante yang akan menikah." Jelas Bu Asmi.
__ADS_1
Deg. Wajah Sindi kini memerah bak kepiting rebus saat mendengar penjelasan Bu Asmi. "Jadi gaun itu bukan untuk calon istrinya Azka Tante?"
"Tentu saja bukan." Jawab Bu Asmi.
Beberapa saat kemudian Dwi kembali ke meja dengan raut wajah yang sangat pucat.
"Dwi, wajah kamu pucat sekali sayang." Ucap Bu Asmi yang terkejut melihat keadaannya.
"Kepala aku pusing banget, perutku juga rasanya mual banget." Ucap Dwi. "Sin, kita balik sekarang yuk?" Ajaknya.
"Kenapa? penyakit kamu kambuh lagi?" Tanya Sindi. Yang dibalas anggukan kecil oleh Dwi.
"Penyakit? penyakit apa?" Tanya Azka yang terlihat mengkhawatirkan keadaan Dwi.
"Akhir-akhir ini Dwi sering merasakan pusing dan mual. Aku tidak tahu betul apa penyebabnya, tapi kemungkinan magh nya kambuh lagi." Ucap Sindi.
"Ya sudah, kita bawa kedokter saja. Biar dokter bisa memeriksa keadaan kamu sebenarnya." Ajak Azka kepada Dwi.
"Gak usah. Aku mau pulang saja." Tolak Dwi.
"Kalau gitu aku anterin kamu ya?" Pinta Azka.
"Gak perlu! lagi pula Sindi juga bawa mobil kok." Lagi-lagi Azka harus menerima kekecewaan akibat penolakan dari Dwi. padahal sebenarnya Azka ingin lebih lama lagi bersamanya.
Diam-diam Bu Asmi memperhatikan bentuk tubuh Dwi yang sedikit berubah.
"Kalau gitu aku pamit duluan ya Ma. Terima kasih atas makan siangnya." Ucap Dwi seraya mencium tangan Mantan mertuanya.
"Sama-sama. Lain kali, kamu mau kan makan siang sama Mama dan Azka lagi?" Tanya Bu Asmi, sehingga membuat Dwi dan Azka saling menoleh satu sama lain.
__ADS_1
"Iya Ma." Ucap Dwi tengah berbohong. Padahal sebenarnya dia tidak ingin lagi berada di situasi seperti itu. Karena bertemu dengan Azka hanya akan membuatnya jadi merasa canggung.